• Thank you friends readers and passers-by for your continuous support to my blog. I will not be able to update often now and many articles and short story left hanging in the draft box due to the pressure of time lately but nevertheless I am trying to cope with it and will post few as time goes by.

    Pleasant day and have a good life.

    Love

    Sanaa

    Good things come to those who wait.
    Better things come to those who try.
    Best things come to those who believe.
    Desired things come to those who pray.

    "Islamic Thinking"

    A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.
    Lao Tzu

  • July 2014
    M T W T F S S
    « Jun    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Archives

Menyingkap Agenda Ektremis

BERLAWANAN dengan pendapat umum di Amerika, Islam sebenarnya adalah agama yang menganjurkan perdamaian.

imam feisal

Sebahagian orang bertanya, mengapa saya berkata begitu? Kerana lihat serangan 9/11 dan pembunuhan yang berlaku dalam dunia ini. Muslim sedang membunuh Kristian.

Muslim sedang membunuh Yahudi. Muslim sedang membunuh Muslim. Benar. Tetapi Islam bukan agama yang ganas. Malah, asas bagi semua agama – Islam, Kristian, Yahudi, Buddha dan Hindu – adalah damai.

Sebenarnya yang ganas adalah segolongan individu. Kelompok ekstremis yang menyalahtafsirkan agama menurut ketaksuban mereka serta demi kepentingan diri telah melakukan keganasan sehingga menimbulkan reaksi yang juga ganas.

Lalu bermulalah kitaran keganasan dan kebencian. Orang sebegini menggunakan doktrin-doktrin keagamaan yang palsu sebagai topeng bagi agenda politik dan kekuasan mereka. Kita mesti membezakan antara kedua-duanya – antara agama dan golongan yang kemaruk kuasa – serta memerangi ekstremis.

Sejak berkurun-kurun yang lalu, keganasan diamalkan atas nama agama, selain atas nama kebebasan, keselamatan negara dan apa saja nilai yang kita anuti.

Namun, kita tidak seharusnya merasa seperti sedang memerangi agama. Langkah itu hanya akan menjebakkan kita dalam permainan ekstremis dan menyebabkan kita melihat permasalahan dari sudut yang tidak tepat – dan akhirnya mendorong kita untuk mencari penyelesaian pada tempat yang salah dan menyasarkan kita sehingga menuduh agama yang sebenarnya tidak bersalah.

Seandainya keganasan antara Protestan dan Katolik di Ireland ditanggapi sebagai masalah keagamaan dan bukannya masalah politik dan ekonomi, nescaya ketegangan itu tidak mungkin dapat dirungkaikan.

Dalam Richmond Forum yang dianjurkan baru-baru ini, topik beralih kepada persoalan mengapa Muslim nampaknya menindas kaum wanita.

Sebahagian peserta bertanya mengapa Muslim menggalakkan amalan sunat pada kemaluan wanita. Apakah ini sesuatu yang diwajibkan untuk menjadi Muslim?

Perkara itu tidak benar sama sekali.

Nabi Muhammad memperjuangkan hak wanita, dan banyak lelaki dan wanita Muslim yang sedang meneruskan perjuangan baginda itu.Amalan sunat pada kemaluan wanita merupakan tradisi kebudayaan Afrika, kerana itulah banyak Muslim dan Kristian Mesir mengamalkannya.

Amalan tersebut tidak dibuat di tanah Arab, tempat Islam bermula. Ia tidak pula diamalkan secara sejagat oleh Muslim dan tentunya tidak dianjurkan oleh Quran.

Kebudayaan sering mengatasi agama, dan ini adalah punca bagi amalan sunat kemaluan wanita dan penindasan terhadap mereka. Di mana keadilannya apabila agama dibohongi?Ekstremis seperti Taliban, Hezbollah, dan al-Qaeda telah menyelewengkan Islam untuk menyesuaikannya dengan matlamat mereka.Kata ekstremis, mereka memperjuangkan Islam murni, tetapi mereka salah.

Mereka dibantu – barangkali secara tidak sedar – oleh ekstremis Kristian dan Yahudi yang terus menegaskan Islam itu sendiri bermasalah.

Ekstremis, apa saja belang mereka – keagamaan, kebudayaan, sosial atau politik –mahu mencetuskan pertelingkahan.

Maka, jika ekstremis tidak saling memerangi, siapa sebenarnya sasaran mereka? Golongan moderat – majoriti penduduk dunia yang mahu melihat permasalahan mereka diselesaikan agar mereka mampu membina kehidupan dan ekonomi untuk menyara keluarga mereka. Golongan inilah yang menderita dalam pertempuran antara ekstremis.

Golongan moderat seperti kita perlu bergabung menentang ekstremis.

Justeru itulah pertubuhan saya, Cordoba Initiative, sedang berusaha untuk membentuk pakatan moderat sedunia yang akan bekerjasama untuk menumpaskan suara ekstremis secara strategik.

Malala Yousufzai, gadis Pakistan yang telah ditembak oleh ekstremis Taliban kerana memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak perempuan, adalah simbol tentang kesederhanaan.

Agama apa sekali pun mengeji pembunuhan kanak-kanak. Selain itu, Quran amat menghargai pendidikan. Kitab Al-Quran menyebut bahawa mukmin terbaik adalah mereka yang mempunyai pengetahuan.

“Mencari ilmu adalah kewajipan buat mukmin sejak dalam buaian sampai sebelum masuk kubur,” sabda Rasulullah. “Tinta para sarjana adalah lebih berharga daripada darah para syuhada.”

Mengembangkan akal manusia adalah salah satu daripada enam matlamat utama perundangan Islam.

Jika tindakan menyekat wanita, atau siapa saja, daripada mendapatkan pendidikan tidak dianjurkan Quran, malah bertentangan dengan ajaran kitab itu, maka mengapa kita harus menerima dakwaan pihak yang ingin membunuh Malala atas alasan mereka melakukan sesuatu yang Islami?

Kita perlu mencabar mereka berasaskan kefahaman yang tulen terhadap syariat Islam.

Di masa lalu, Muslim moderat telah disalah-anggap sebagai golongan yang tunduk di bawah kuasa Barat dan diktator Muslim. Sedangkan tuduhan itu tidak benar.

Muslim sebenar adalah rasional, moden, merasa tenteram dengan keyakinan mereka, sanggup mempertahankan ideal mereka serta bersaing secara setara di persada antarabangsa.

Kini telah tiba masanya untuk kaum moderat semua agama dan bangsa bangkit dan menentang ekstremisme pada bila-bila masa saja ia menunjukkan belangnya.

Kita terhutang budi pada Malala dan orang lain seperti beliau yang berjuang demi keadilan dan kesetaraan peluang.Dan kita berhutang dengan Tuhan yang menghendaki kedamaian untuk semua bangsa manusia.

> Imam Feisal Abdul Rauf, adalah pengasas Cordoba Initiative – sebuah pertubuhan berbilang bangsa dan penganut agama yang berusaha untuk memperbaiki hubungan Muslim dengan Barat. Beliau baru-baru ini tampil dalam Richmond Forum. Pandangan yang diungkapkan di sini adalah sepenuhnya milik beliau.

Credit to : http://mstar.com.my/variasi/rencana/cerita.asp?file=/2013/12/9/mstar_rencana/20131209173327&sec=mstar_rencana

Recover and Rebuild

Dear friends and readers…

I have looked for a topic to write but circumstances is so envious upon me lately…hahaha it’s always an excuse isn’t it? Anyway it was a good day today while talking to a friend she tweet me this article from WSJ.Online about recover and rebuild our life after divorce, break-ups, job loss and death of our love once and many more I guess.

I am now sharing with you this short and beneficial article what we suppose and should do after the crisis in our life. Every time we go through an emotional experiences or trauma our journey for recover needs a lot of courage, determination, support, believe in ourselves and a new inspiration to go on. It is easier said than done but I do believed and trust taking time to heal is very important. The only question families and friends will ask is “how long”. Let’s read and focus on the example given and verify or judge it ourselves how much is time needed to road of recovery.

Happy reading…wishing you a good day wherever you are.

Love

Sanaa 31/07/13

****

After Divorce or Job Loss Comes the Good Identity Crisis Experts say most people should give themselves a good two years to recover from an emotional trauma.

By ELIZABETH BERNSTEIN

Recover and Rebuild: Getting over a divorce involves two overlapping processes—recovery from grief and restructuring your life. Where will you eat dinner? Who will your friends be? After all, when you are married, even if you hate your spouse, ‘you know when to show up and when to come home,’ an expert says.

Whether you’ve lost a job or a girlfriend, it won’t take long before someone tells you, Dust yourself off. Time heals all wounds.

Yes, but how much time?

Wendy Bounds and Elizabeth Bernstein discuss the length it takes to recover from large emotional traumas, such as divorce or job loss.

Experts say most people should give themselves a good two years to recover from an emotional trauma such as a breakup or the loss of a job. And if you were blindsided by the event—your spouse left abruptly, you were fired unexpectedly—it could take longer.

That is more time than most people expect, says Prudence Gourguechon, a psychiatrist in Chicago and former president of the American Psychoanalytic Association. It’s important to know roughly how long the emotional disruption will last. Once you get over the shock that it is going to be a long process, you can relax, Dr. Gourguechon says. “You don’t have to feel pressure to be OK, because you’re not OK.”

Some experts call this recovery period an “identity crisis process.” It is perfectly normal, they say, to feel depressed, anxious and distracted during this time—in other words, to be an emotional mess. (Getting over the death of a loved one is more complicated and typically will take even longer than two years, experts say.)

Some people may find they need less than two years to bounce back from a divorce. But experts caution that it probably doesn’t pay to ignore the process, hurry it along or deny it, say, by immediately moving across the country to get a fresh start or diving into a new relationship. That will probably only postpone the day of reckoning.

After all, it takes time to rethink all the things that may be disrupted by emotional trauma, such as one’s living situation, finances, professional goals and—maybe most important—how a person sees him or herself. There aren’t any shortcuts. “The whole sweep of your life has to be reassessed and rewoven,” Dr. Gourguechon says.

Four years ago, Michael Hassard filed for divorce from his wife of almost eight years and began attending a “divorce care” class at his Baptist church in Muscle Shoals, Ala. At the first meeting, the instructor said it would take two years to come out of the emotional turmoil.

“Hearing that was actually a relief,” says Mr. Hassard, 42 and an engineer at a company that designs and builds chemical plants. “It gave me a finish line and a goal to work toward.”

Mr. Hassard, who was awarded custody of his son and daughter, had felt depressed, angry, resentful and overwhelmed as a suddenly single parent. He was sitting in class one night and began to see his recovery as the wall he’d had to scale on an Army boot-camp obstacle course. It was going to be tough. There was no way around it. But things would be better on the other side.

He went home and taped a note, titled “Two Years,” onto the fridge. It said, “I am going to get back to normal, and I am going to do it right.”

Recovering from a divorce or job loss actually involves two overlapping processes. There is the recovery from grief. And the even more time-consuming process of rebuilding the structure of your life. Where will you eat dinner? Who will your friends be? After all, if you are married, even if you hate your spouse, “you know when to show up and when to come home,” Dr. Gourguechon says.

If you saw the loss coming—say you initiated the divorce—you are ahead of a person who was caught off guard. A person taken by surprise is “required to do a lot more rumination,” says Sandra Petronio, a professor of communication at Indiana University-Purdue University, Indianapolis. “You need to do some type of analysis about what happened to you.”

“People start thinking they are crazy because the things they usually do to right their ship—things like talking to their mother, asking their friends for help, getting some sleep—don’t work anymore,” says Ilene Dillon, a licensed clinical social worker in Kentfield, Calif. “And you have all these emotions that won’t seem to stop.”

To help yourself get through the process, accept that there is nothing wrong with you, even if your emotions feel overwhelming. Remind yourself that this period will end. Tell your friends and family that while you may not be your typical self for a while, you still need their support and you will recover.

Don’t make any major, permanent changes, if you can help it, such as moving to a new city. Therapy can help, so you won’t have to go through the process alone. As for a new relationship—forget about it.

During what he calls his own two-year “divorce recovery process,” Mr. Hassard revised the note on his fridge every three months or so, updating his progress and goals. He targeted different areas, such as “self-worth,” “facing my anger,” “being a good parent,” “forgiveness,” “moving on.”

“If you don’t rewrite your goals,” says Mr. Hassard, who has since moved to Centerville, Utah, “they start to become invisible.”

Sometimes small decisions tripped him up, such as which side of the bed to sleep on, or whom to call at the end of a good day. He kept a journal, burning his most bitter entries on the backyard barbecue grill. He sometimes cried or yelled while commuting alone in his car, rolling down the windows or dropping the convertible top to “let it all blow out behind you.” He waited more than a year to start dating, until he noticed himself “looking for good things instead of trying to avoid the bad.”

One night, when the two years were up, Mr. Hassard held a celebration. While the kids were at a slumber party, he cooked himself his favorite meal—bacon-wrapped chicken, green-bean casserole and garlic toast—and opened a bottle of Pinot Grigio.

Watching the sunset from his back porch, he assessed his progress and asked: “Am I done?” The answer, he says, was “Yes.”

“The finish line is only metaphorical until you make it real,” he says. “And I got there.”

Write to Elizabeth Bernstein at Bonds@wsj.com

Sources from : wsj.online

Compiled by : Sanaa 31/7/13

Bahasa Jiwa Bangsa

It was definitely a lazy Sunday, did not do much yesterday except buying groceries in the morning and waiting time for breaking fast, but I managed to complete my write-up that I have been wanting to for the past couple of weeks by ignoring the household chores for a complete Sunday. Later during the day I had a chat with a friend and she mentioned there is article in B-Pop a section two in Berita Minggu about Remy Ishak and Scha. Out of curiosity I opened the website and read it through. At first I wanted to ignore the article but something strike me after few lines and make me read it for the second time. Even after reading it for the second time I did not actually able to identify the motive of the article. Is it about Remy’s and Scha’s success, their on screen chemistry, their pairing in the movie or personal life’s? I am not very sure right now whether I am disgusted by the write-up or the construction of sentences in the article and again I asked myself why I am throwing my anger towards it. Off course the main subject is about Remy and Scha Hari Raya plan but the whole article does not about it and the subject touched by the reporter irritates me.

I must admit I am not Tan Sri Prof Emeritus Dr Awang Had Salleh, Zaa’ba or Tan Sri Dr Rahman Arshad who are the backbone of Malay Language and Malay Literature but I understand simple written Bahasa Malaysia and meaning behind each words. Interpretations of sentence can be varied in certain situations or circumstances but to all readers of this blog what will come to mind if we read this “Dari awal kamera dibidik merakam aksi dan gaya mereka, bagaikan ada ion positif yang mengalir di antara mereka. Terserlah keserasian dan ‘kenakalan’ masing-masing. Saling tak tumpah seperti pasangan kekasih. Namun sayang sekali, Scha umum diketahui ramai bahawa hatinya kini dimiliki Awal Ashaari.” Shouldn’t actors and actresses know how to act in front of the camera? From my understanding for the beauty of a picture the models must give their best shot and if it for a loving couple it must shown in their facial reaction. Is it so important for the reporter to express and announce Scha is already in a relationship?. From my understanding of that line if Scha is not in a relationship does it means Remy stand a chance? Hah where is our culture gone to? Can’t we have a constructive written article? Three quarter of the article is not about the whole preparation of EID but touches again and again Remy’s controversy with Maya Karin.

Are we lacked of knowledge in writing? I don’t think so but maybe the public wanted to know more about gossips rather than the whole truth of situation and making our reporters hunting for it. EID is a special month in the Muslim calendar. After the whole month of Ramadhan we celebrate our victory with EID and not just about new clothes, new shoes, handbags, new furniture and every other things material and everything we do and done is not for showing off. It is good effort to have article about Remy and Scha celebrating EID but the whole article defeat the purpose. Will it be a boring subject if the writer did not include the controversy attached to the models? I actually failed to understand our entertainment industry now and furthermore the way Bahasa Malaysia been used for each write-up not just about the artist, actors and actresses. How I wish I can write beautiful Bahasa Malaysia article like Awang Had Salleh or on spur of moment pantun by Rahman Arshad. I have witness this two great man delivering their speeches and I nearly come to tears because I am sure there are no new generation can speak and pronounce our language like them. There is no arr..uhh, gi ane, and many more that I can’t even understand what the youngsters are saying. Newspaper and television station is the nearest media for people to get knowledge but what happen to it. There is now singlish and minglish and it is actually a joke in my household until at times I feel I can’t speak proper English in my interaction with others as though I must adhere to the flow. This is actually annoying and it will eventually disgusting as we go on.

Do we have to speak our language and writing in our language constructively just because we are educationist? Aren’t we part of the education system? My sister and my brother in-law now having tough time with their three year old son because he started to pronounce words like now days children, example gi ane, kat ane until they have to figure sort of punishment if he talks that way. After few months they are now satisfied with it and they are still monitoring his pronunciation for both Bahasa Malaysia and the English Language. I have this feeling maybe because I come from the old thoughts of school where manners and behaviour is the up most priority regardless how successful we are in the academic world although I must admit I do write the current way of speaking Bahasa in my blogs due to the pressure of circumstances and finding hard time to do it descriptive when I am writing for my first novel because it is now been judge by the panel of writers.

Poem: The Moon:
• Oh, look at the Moon!
• She is shining up there.
• Oh, Mother she looks
• Like a lamp in the air.

• Last week she was smaller,
• And shaped like a bow,
• But now she’s grown bigger,
• And round as an O.

• Pretty Moon, pretty Moon.
• How you shine on the door,
• And make it all bright
• On my nursery floor!

• You shine on my playthings,
• And show me their place,
• And I love to look up
• At your pretty bright face.

• And there is a star
• Close by you, and maybe
• That small tumbling star
• Is your baby.

The above poem is the poem I have to read, understand and remember when I was in Standard One and part of our English Literature for lower primary school and as I recall the headmaster of the school is our English teacher. Mr Kesavan, he is late now and may he rest in peace. A tall man and husky voice, each time when we have to recite the poems we must engrossed ourselves in it. The pronunciation, body movement, intonation and many more that I am not able to recall and that is how English is thought those days and from my small research the above poems is actually a preschool poems in the United Kingdom and other develop nations. This is actually imaginations and visualization taking place and this is actually lacking now in our generation. We can’t call ourselves a writer, reporter or newscaster including the actors and actress if we are lacking in those two. It is a focus point in everything we do and because of advanced technology we are now robots as there is no human touch in almost everything we do. It is now effected the music industry to. There is no longer poetic lyrics and arrangement. Wouldn’t it nice to have beautiful song and nicely encrypted lyrics for our listening?.

As I go along with my writing I am also observing the education system and our moral in daily lives. Not long ago I took my nephews and nieces on a bus ride, they are small than and I told them at each stop when we are getting down please say thank you to the driver. The elder nephew trying to be smart and telling me it is his job to drive the bus and why do we have to thank him. I am not ashamed to admit this is happening in my real life and I told him without the driver we will never reach our destinations regardless it is their job or not and there is a bit of misunderstanding to get them understand until he failed his Bahasa Malaysia when he was in Standard Five and every privilege given to him taken away by the parents. Upset and frustrated he kept on asking why and why so the mother told him in one full sentence and breath “because it is your job to pass the exam.” Not so hard way but it is still the hard way.

Pulau Pinang bandar baharu,
Kapten Light menjadi raja;
Kalau terkenang zaman dahulu,
Pipi berlinang air mata.

Pulau Pinang bandar baharu,
Kapten Light menjadi raja;
Bila terkenang zaman dahulu,
Air mata jatuh ke riba.

The above pantun meant for Penang in the olden days and the message behind it is regret by the state of losing it to British. Is this also meant to the current situation?

This is what I meant about writing all about. Each line carries meaning and it is written beautifully for us to remember in our life time. Are we moving forward with our current language? Aren’t we ashamed? Many been said but nothing been done that is what we are…sorry folks and I hope I can escaped this scenario and not wanting to be label as “not able to fight them…joined them”

Attached below is the article I’ve mentioned above.

Written by : Sanaa 30/08/10

*****

Serasi bukan sehati

Oleh Zaidi Mohamad

2010/08/29

Scha, Remy ada persamaan raikan kedatangan Syawal

MEMANG benar kata orang, daripada gambar kita boleh mentafsir sesuatu makna yang tak boleh diungkap melalui kata-kata. Jelas sekali ada keserasian di antara gandingan B*Pop, Scha Alyahya dan Remy Ishak bersempena meraikan kedatangan Syawal tak lama lagi. Tampak sempurna mereka di skrin kamera.

Pernah digandingkan dalam drama Awan Dania pada musim pertama dan filem Evolusi KL Drift 2, mereka sebenarnya belum pernah ada rezeki untuk disatukan sebagai pasangan utama di layar perak mahupun kaca TV. Mungkin selepas ini molek kiranya jika ada syarikat produksi yang mempertimbangkan kemungkinan menyatukan mereka.
Baik Scha mahupun Remy, mereka kini boleh disifatkan antara deretan pelakon yang sedang hangat mengisi medium karya seni di negara kita. Malah populariti yang dikecapi mereka juga selayaknya membuatkan nama mereka menjadi rebutan ramai termasuk di kalangan kelompok peminat.

Dari awal kamera dibidik merakam aksi dan gaya mereka, bagaikan ada ion positif yang mengalir di antara mereka. Terserlah keserasian dan ‘kenakalan’ masing-masing. Saling tak tumpah seperti pasangan kekasih. Namun sayang sekali, Scha umum diketahui ramai bahawa hatinya kini dimiliki Awal Ashaari.

Remy pula tak habis-habis dikaitkan dengan Maya Karin. Tapi kata Remy, kamar hatinya masih belum diketuk mana-mana perempuan selepas berakhirnya episod cintanya dengan Ummi Nazeera yang sedang melanjutkan pelajaran di Melbourne Australia.

Jodoh mereka juga tidak lekat bersama untuk menjadi Wajah Eksklusif Astro. Hanya Scha, 27, saja yang memutuskan untuk mengikat kontrak bersama stesen TV berbayar itu pada tahun ini. Sebaliknya Remy, 28, dan pengurusannya Satu Entertainment tidak turut serta atas alasan tertentu.

“Ikutkan tawaran ini Scha terima sejak tahun lalu. Lama juga memikirkannya demi membuat pertimbangan sama rata kerana ia sedikit sebanyak memberi impak kepada kerjaya Scha sendiri. Maksudnya drama Scha hanya boleh ditonton di Astro saja. Tapi kalau filem itu tidak termaktub dalam kontrak.

“Scha akhirnya nekad menerima tawaran ini kerana Scha yakin tak semua yang diberi peluang istimewa sebegitu. Scha ikat kontrak selama setahun dengan pilihan. Dalam tempoh setahun, Scha perlu menghabiskan 60 jam atau 60 episod drama atau telefilem untuk Astro,” ungkap Scha yang sedang ralit dioles wajahnya oleh Emma Mustafa.

Tahun lalu, hampir sepanjang Ramadan, bekas pramugari Air Asia ini sibuk di lokasi penggambaran drama Awan Dania 2. Tahun ini pula sejak 8 0gos lalu, Scha sibuk melunaskan filem kedua lakonannya di bawah Skop Productions (selepas Evolusi KL Drift 2) iaitu Aku Bukan Tomboy memegang watak Farisha.

“Selalunya bila sibuk penggambaran di bulan puasa, persiapan raya itu akan dibuat di celah-celah waktu yang boleh dicuri. Scha pun jenis yang bersederhana. Baju kurung yang siap dijual pun boleh dibeli saat akhir. Lagipun dengan badan Scha yang sekeping ini, tak susah cari baju yang sudah siap.

“Tahun ini tahun kedua Scha beraya di Kuala Lumpur. Selalunya, Scha sekeluarga akan beraya di Sungai Petani. Insya-Allah, kalau ada kesempatan, Scha juga akan beraya di rumah keluarga Awal Ashaari di Subang USJ. Itupun kalau mereka sudah selesai berpindah dari Kampung Baru,” katanya yang baru saja kehilangan nenek sebelah bapanya seminggu sebelum ketibaan Ramadan.

Terlanjur menggandingkan mereka, Dewi Remaja 2007 ini turut diajukan soalan mengenai lelaki yang pernah mendapat jolokan Jejaka Idaman Malaya oleh Erma Fatima itu. Kata Scha, mereka boleh dikatakan sebagai pelakon seangkatan, cuma lonjakan Remy lebih pantas daripadanya.

“Saya kenal dia pun selepas diperkenalkan Bront Palare. Masa itu, mereka sama-sama berlakon dalam filem Anak Halal bersama-sama. Kami pernah lepak bertiga dan ketika itu saya serta Remy masih hijau dalam industri hiburan. Kini, memang nampak perubahan ketara pada dirinya.

“Pada pandangan Scha secara peribadi, Remy satu-satunya pelakon lelaki pelapis ketika ini yang sangat kuat aura dan pengaruhnya. Boleh kata zaman dialah…. Dia mempunyai muka Melayu yang lengkap dengan pakej yang dilihat sempurna. Badannya juga cantik,” kata Scha sambil memandang Remy Ishak yang tersenyum manja kepadanya.

Tiada masalah bersama Maya

PELAKON TV Lelaki Popular, Anugerah Bintang Popular Berita Harian (ABPBH) 2009, Remy Ishak itu terus dihimpit kontroversi terutamanya yang membabitkan dirinya dengan Maya Karin. Puas dinafikan, semakin bertebaran gosip macam-macam mengaitkan mereka.

Namun sekalipun sudah mula jelak dengan cerita melalut itu, baik Maya dan Remy masih perlu bersatu atas komitmen kerja. Mereka sekali lagi akan terbabit dalam pementasan teater Natrah kali kedua 25 November hingga 5 Disember di Panggung Sari, Istana Budaya. Kali pertama ia dipentaskan hujung tahun lalu.

“Dalam soal kerja, saya mahupun Maya akan tetap mengutamakan profesionalisme. Kami tak ada masalah untuk berlakon sama. Yang menjadi isu di sini orang sekeliling saja yang mungkin meletakkan persepsi dan mengandaikan perkara yang bukan-bukan,” katanya yang sebumbung dengan Maya di bawah pengurusan Satu Entertainment sejak awal tahun lalu.

Tahun ini menjadi tahun keempat bagi pelakon yang cukup diingati dengan watak Adam menerusi drama Nur Kasih itu menyambut lebaran sebagai artis. Awal Ramadan lalu, dia sempat meluangkan masa berbuka dengan keluarga di kampung halamannya di Masjid Tanah, Melaka.

“Bagi saya persiapan raya tiap-tiap tahun sama saja. Lagipun kita sudah besar, lainlah bagi adik kecil. Tak ada lebih, tiada kurang. Tapi saya dapat berasakan sambutan tahun ini sedikit berbeza dengan tahun sebelumnya. Rasanya tetamu yang akan bertandang ke rumah keluarga saya pun akan lebih ramai,” katanya yang berpendapat setiap hari bersempena lebaran ini rumahnya sentiasa terbuka untuk kunjungan tetamu.

Mengenai Scha, kata Remy, kali terakhir mereka bertemu sebelum fotografi ini diaturkan ialah sewaktu malam kemuncak ABPBH 2009 berlangsung di Arena Of Stars, Genting Highlands. Kata Remy lagi, sekalipun jarang berjumpa, dia menyenangi peribadi Scha yang disifatkan sebagai seorang yang ‘gila-gila’.

“Sebagai teman seperjuangan, saya juga gembira dengan peningkatan kerjaya seninya. Dari tahun ke tahun, Scha membuktikan bakatnya bukan sembarangan. Saya nak komen lebih pun, saya masih bertatih dan mendaki tangga. Dengan apa yang dikecapi Scha sekarang, harapnya bintang dia akan terus bersinar,” kata Remy.

Ramadhan 2010 – Another Lesson Learn

Life is a cycle. The day we were born we are helpless. We depend everything to the person who brought us into this world. Our parents. Through them we learn almost about everything. We go through a process of childhood, teenagers and adulthood and one day become a mother or father ourselves. Through this process lots of experience and people involve. There are good moments, sad and bad and it is all up to us to weigh the situation and learn the lesson from all. We never know our path. When we grow up our parents will give their advice what to do and where we should put a distance or avoid. Some will say bitter experience teach us more but it not always true. It is how we take it and lesson learn from it, our adjustment and our ability to handle each situation with patience, hope and faith.

Being a Muslim we believed every turn of event there is a reason behind it and of all time we must search for it to make sure our strength and a test in our faith. Hope will carry us and as long as we have hope and faith things will work out well, Insha’Allah. The ingredients are our believed and want to do everything in life together with hope and faith and without forgetting our doa’s and prayers will decide the success of everything and this is what I’ve been through from the first day of Ramadhan 2010.

My father was in and out of hospital since beginning of the year and all the time the doctor confirmed he is clinically fine. He followed his medication routine religiously until he’s in hospital again in June 2010 where his medication running out before his routine medical check-up. He is now 75 years old and I can say he is very stubborn in some ways. He will do what he believed and hardly want to listen to others. As a former school teacher and headmaster with many other portfolio attach to it, he does things the way he want it. He is fierce and his words is a command. My siblings and I lived with it until now basically. During our childhood days from the moment we wake up until we went to bed there are sets of rules and schedule we must obey. Homework, reading, mengaji, housework during weekends and many more. Although it is part of our school work and other activities we find it difficult to do it that time because it looks like a regime camp. There is timetable for everything. Our fun times and leisure is totally different from children now days I can say because we involve in his passion and past time interest such as his fishponds and dusun with durian, mangoesteen, rambutan and others. We also tag along with his sports activities to and attend many functions which involve the school. Not like children now days, leisure time spent in the shopping mall, kfc, Mc Donalds and any other outlets. Above all that he’s done a good job raising seven of us and seeing us through college and universities until we are on our own. He has said nothing about our success but I am sure deep down in his heart he is happy.

I’ve gone through many bed ridden elderly in the family from my late grandfather to my late uncle and aunties but it was not the same seeing my father is not mobile anymore. It gone through stages couple of years ago from his triple by past operation, followed by diabetes two years ago and other complication, one after another. Even with his sickness he still wants to feed the fishes in the pond, his chickens and taking care of all the trees including the flower-pot. As days goes by everything weaken in his body until he can’t move on the 5th day of Ramadhan. Only his spirit and pride stays and refused help from us. He still does everything himself even going to the bathroom and I saw every steps of it today. I nearly cried as he struggles but nothing I could do only keep on praying if he is given longer times to live please take that disability away from him.

To many he stay as a fierce, angry man but to us he is our father who raised us and be what we are now. He has lots to offer but unfortunately luck is not on his side. My late grandmother is very proud of him and I can remember she praised him for taking care of the family and his siblings. With all the disadvantage he push himself through for his teaching certificate, went to England and devote himself in teaching. I believed teaching is his passion and until his retirement he refused to become a lecturer. His reason always be he loved being with the children and understand their needs. Literature and sports among other passion he has. Even at the hospital bed he still recite Shakespeare and I’ve heard about Macbeth, Hamlet and others as long as I can remember. I laugh to myself even to this day I need to refer to the books or any other sources for Shakespeare quotes but all this is at his fingertips. Stage play for English theater are his favourites.

He loves sport. He played hockey and football during his college years and rugby to. He read a lot and his interest is various. I’ve not gone through his books for the past couple of years but I am sure there are plenty of collections. As a qualified gymnastic instructor he spent days and months with the young children in the primary school training them and if I recall correctly Melaka team become a champion in one of the competition. My youngest sister was there on that day and she said to us, all of you should see how happy abah was for the winning as we hardly see him smile broadly. That was the days of his glory but none of his effort being recognize by the states or even the education department and maybe there is a bit of bitterness in him about this. My siblings and I know that he does not have many friends but he has a very truthful friends until they gone and my father is now all alone among the group of his friends.

It is now a known fact parents are able to take care of their children even how many they have but there is no guarantee we are able to take care of our parents till the end of their life. As much as possible I will try be home often but I do have commitments on my own and his refusal to stay with my sister and me leave us in a very difficult situation. Commuting Melaka and Kuala Lumpur every alternate days is very tiring but leave me with no choices and in a need of time I am grateful to have a job enable me to work from anywhere. Been home with my parents for the past three days given me times to look into ourselves the process of life and perfection never exist in the real world.

For all his weaknesses he still a great man, raising seven of us along with our mother, giving us all the education, roof for our shelter, the happiness and sadness of life and where we are now. May Allah gives him all the happiness in his trying times and as his daughter I can only pray for him to take his sickness as part of the journey in life and may he lives long enough to see his first grandson through the medical school…Insha’Allah.

Written by : Sanaa 20/08/10

Gossip…Popularity And Talent

In show business gossip is a norm and at certain stages it might help the artist and actors known in the industry. But how far gossip is the main factors of promoting the artist themselves? Will gossip supersede the talent and knowledge of these people? Will artist depend solely on gossip to be known in the industry? I am not a follower of the entertainment world but somehow or other situation change lately just because I was hooked by a local drama title Nur Kasih. If you are the follower of my blog you might get bored by now of me mentioning again and again about Remy Ishak and Tiz Zaqyah. The honest truth I can’t run away from the fact because they are “responsible” in my writing life and I thank them for allowing me to see the glamorous part of the entertainment industry and the ugliest part of it to. Whether I am sceptical about the local entertainment industry or we are in a very tiny industry even when we sneeze people will hear. It takes all walks of life to be in the entertainment world and in Malaysia the hot topic now is who are dating who, divorced, affair, crimes, drugs and others. I hardly read about the talent, qualification, interest, the obstacle and challenge to stardom.
Not a fan of Malay drama and not been reading a Malay newspaper not been buying any Malay magazine except long time ago my mother love to buy Keluarga. A matter of fact I am ashamed to call my self a Malaysian in a way. Entertainment magazine is forbid in my family home and I was even forbid to read it whenever in the bookstore. During those times I didn’t know what is the reason of banning such magazine because I did know the content, what I do know is only the headlines from the cover and this is what my mother said to us “jangan harus beli majalah itu” and if your father and me saw all of you reading it you will be ban from watching the television and extra work on duty roaster. It took me 30 years to know the reason behind it and I become obsess with my hatred of reporters and journalist in the entertainment industry. My obsession increases when the gossip hits my favourite actors as names above. Where are our standard of reporting and I am now searching how far gossip verses popularity and talent.

It has been rampant gossip on Remy Ishak soon after he is known in Nur Kasih and that goes to Tiz Zaqyah. I think it is no longer gossip it is now an agenda and of course my evil mind says a plot to smear their name in the industry and their rice bowl. There are many artists in Malaysia but I did not hear or read anything about them although it is proven they are obscene, smokers, party goers, and many unhealthier lifestyles or against the Islamic ruling if we want to touch on religion and where I am avoiding the issues because I am not belongs to the Islamic council and any advice will jeopardise the system. I of course did not investigate but I am not naive in this matter. People are talking and there are proof as crystal clear but no reporters will take their pictures and spread it in the internet or the newspaper and if this happen it will be a short stint and people will forget because no repetition on the subject or issues. Once denied everything closed. If we want to dig further of course we will know again who is who behind the scene or the clean image they portray in front of the fans, the plastic smile, soft spoken, nicely dress covered all over and again we are blinded by it. They are famous, they are known, and they received awards but none of them in the lime light of gossip that hits Remy Ishak and Tiz Zaqyah. So much so after Nur Kasih we have been hearing all about them but none of it link to their popularity because the drama or film is a best film because of the storyline, script, cinematography and everything else. I bag your pardon we will but on a different column, review of the film only but not the contribution of the cast. Everyone can be in the industry but how far talent and commitment contribute to the success of each drama, movie or film.

If we are still in our right mind will we be reading the gossip more or we care to know how far their talent bring success in their life and why they are the chosen actors and actresses for a certain project. Education and qualification will take us to another level in life. It is our back bone and without a doubt it walks hand in hand in everything we do but there is another type of education that nobody can gives…it is experience. Our acceptance and our willingness to learn is the key to success. Even with talent we still need to educate ourselves how to deal with situations and circumstances and again how many gossip an entertainer, actors and actresses received, it will never help in their popularity in a good way. Sooner or later we will have names for them such as controversial artist. Off late in Malaysia there are many schools of arts but again I did not know the functions of these schools in developing the arts and entertainment industry. Akademi Seni Kebangsaan formed about 10 or 12 years ago to help young Malaysian excels in each category of arts i.e. music, dance, theatre and writing. They have change name I supposed and during their first intake it goes to each states of Malaysia to find a student with interest and talent. There were few students in their early 40’s because they now have a school to learn and Akademi Seni Kebangsaan is the first school of such in Malaysia.

I have lost touch about the criteria but it took 4 years for the student to get a diploma besides their certificate and acknowledgement from the examination body. Having a musician in the house it is not a joke paying two fees and the tutoring fees and my parents said at one time the cost all together equivalent to the medical school student. So in short it will never have a shortcut in achieving success and stardom. Anywhere we are or whatever we are doing we must willing to improve ourselves and with our willingness I believed we will achieved success. We can’t go without one another. Paper qualification is our stepping stone but no guarantee of success and achievement without hard work and effort. Nothing comes easy. There is no shortcut in everything we do but it seems in our local industry there is. It is a known fact whom you know and who is your buddy. Stabbing behind is a norm in this unfair world and why is no ever ending of wars…a different kind of wars. I do believed no amount of gossip will contribute to the popularity because at the end of the day it is the talents and how we carry ourselves and owed the audience takes us to the next level. An actor or actress can be in 100 dramas but never touch the people or viewers heart but it can change overnight with only one drama to capture the heart of the nation. That goes to singers to, it can be few albums but only one song takes them to stardom and again in goes for partners in the act what we call the hero and heroine. The perfect match will stay fresh in our memories for long and the same actor and actors can act along with anyone but not able to have the same impact even how hard they try. Chemistry cannot go with many partners. I am sure we all know I am referring to Nur Kasih. Adam and Nur is the character played by Remy Ishak and Tiz Zaqyah, a character remained in the heart of the nation until now with many nick names attached to it.

I am a bit out of lines in this write-up but the explanation above does not gives us a concrete explanation that gossip brings popularity as mentioned and captured in recent article gossiping Remy Ishak and Maya Karin. They might have acted in few productions together but it does not give the same impact of “Adam and Nur”. Am I bias? I don’t think so. Ask yourself out there because I know for sure there are millions of people are talking about the couple and recently I heard someone mention a match make in heaven…wow I have not heard that in our local industry or I might have miss it except for Shah Rukh Khan and Kajol. I am sure it will lingers on for long until new sensation comes in but in my life it will stays as “Adam and Nur”. No one can take that from me and how I wish our reporters learn few skills in their report to give the same impact for other actors and actresses. We can’t use the same term for all. We loose the touch and the beautiful meaning behind it. I grow up with a literature man, my father and he will associate everything with words. Hamlet cannot be Romeo and vice versa, unless we want to be a stereotype performer. One line tells all. Each character in a play or production needs body movement, intonations, face expression and many more needs. So how can we describe each couple in the same way? Will gossip give us this? No way…have we needed to eat, sleep and breathe the character in us to ensure the perfection of each performance and presentation.

As money does not buy happiness, money also does not buy talent and finesse but in the current situation money does buy gossip column writers. The more I see it the more convinced I am and I am sad to say I am leaving in the world of hatreds. Our political leaders been saying we are a developed nations, we want to send our people to space, we want to have a bullet trains, big airport and everything that money can buy but unfortunately we are still the third world mentally. We show our warmth, generosity, courtesy to foreigner but not to our locals and it is the same in the entertainment industry. Keep the same pair, older actors and actresses playing younger role, same faces for all productions, staccato and stiff and yet we yearn for popularity and the other way to earn it is creating gossip and pointing fingers. Arghh never ending stories. It is a sad world.

Owned and written by : Sanaa 12/08/10

Wrong Direction

The wind is blowing strongly lately but unfortunately it is in a wrong direction. Sometime back I wrote an article title Create a Buzz…Create a Sensation and months after that there are many buzz and sensation but does not benefit anyone including the person who receives the buzz and sensation and I am sure we all know who I am referring to, none other Remy Ishak and Tiz Zaqyah. Both of them been paired in most talked about drama series Nur Kasih aired by TV3 and the last episode aired on the day of Aidiladha last year. The drama is now been produced into a film with Remy and Tiz remain as the cast and the core of Nur Kasih The Movie (NKTM) with their love story and obstacles. Another question arises in me when reading about it and all the speculation on NKTM, it is because of Adam and Nur or because of the storyline NK and NKTM is a hit?

Half through Nur Kasih rumours spread about Tiz Zaqyah been partying and many of us expecting Tiz to potray and carry herself as Nur Amina (if I recall correctly on the accusation) and soon after there was a rift between Remy Ishak and Ummi Nazeera and it turns ugly with accusation Remy caused bodily injury on her and many more. It’s quieter after that and Ummi went to Australia to further her studies and no buzz about anything for Remy and Tiz until the night of Anugerah Bintang Popular Berita Harian with Remy and Maya Karin in the limelight locked in a room before or after the presentation and during this time the team of NKTM is getting ready to finalised their script and should start shooting in June. Between that there was a get together for the Nur Kasih dvd prize giving (again if I recall correctly) and Remy been asked on Maya. I’m actually annoyed reading it that time but who am I to know the truth behind all this? NKTM starts shooting middle of June and finishes on 23rd or 24th of July 2010. Not even two weeks in production a gossip hit the news stand an accusation by Fasha Sandha towards Tiz Zaqyah via twitter trying to steal her boyfriend who is ex husband of another actress and Fasha been accused earlier as the third person in their marriage and I only got to know about it when it involve Tiz. I did not know or heard about Fasha Sandha before this and it seems she has long list of gossip and dirty tricks.

In days after the news spread of course Tiz been chased by the reporters to get the first hand story and it fills all the media including Melody, one of TV3 programme where Tiz denied all the accusations. While the story is circulating the cast and crew of NKTM flew to Jordan for their shooting. Fasha openly announced Jejai as her boyfriend while Tiz is outside the country and says nothing more to say, easy isn’t it? Before the story fully subside another story fills the magazine to; Maya Karin and husband getting a divorce, a much predicted news I must say and who is behind the scene? None other than Remy Ishak. Remy’s name was mention in an interview with Maya’s husband while registering their marriage before proceeding for the divorce and Remy been asked many time about this. I always said this and I am going to say it again…I did not know the truth and I did not know Remy or Tiz in person but what I do know they are much talked about actors now and they shoot to stardom after Nur Kasih, and now people are digging into their past and said all the nasty things about this two nice and lovely on-screen couple came out during Nur Kasih and there are also gossip they are seeing one another for a while. Both denied, they are just friends. Whether they liked it or not their personal life is interest of everybody and will affect their career because it is a small entertainment industry in Malaysia not like Hollywood and there are many reporters chasing after two person and of course it is not enough news to fill the column. But how far all this is true? and of course as the malay saying goes “tiada angin masakan pohon bergoyang”.

There are lots of buzz around them but unfortunately it does not help the industry let alone Remy and Tiz. If we are going to touch on their personal life and behaviour why the reporters are only going after them? Is Fasha doing the right thing? Is Maya Karin doing the right thing? Again if we are talking about Remy and Tiz being an idol what about Fasha and Maya? Are they less famous? Maya is hosting a woman programme in TV3? Why she’s not banned from hosting the show? Having an illicit affair when she is still married, is this true? Why reporters not digging into Fasha and Maya past? There are many stories and blog about them. Why Remy? Why Tiz? Is Remy and Tiz gone overboard compared to Fasha and Maya? Or Fasha and Maya lucky to have someone known figure behind them? I can raised thousand of questions about this and please be reminded we are no longer live in a world blinded by ignorant public and viewers. Yes it is nice to gossip about people and we forget ourselves and it will be worst if we call ourselves a Muslim. Why the reporters trying to pinned on Remy with Maya divorce. If I am Remy, now I will have a good laugh…do you know why? He’s a man, he is not going to lose anything and after a while people stop talking and on top of everything while he is on top of his career people are not talking about his good side, his contribution in the industry and his good acting skill. Nothing reported on that. It is only the bad side and his past as a bell boy and waiter…so why crack your head to think further? Am I right Remy? Will he going to marry Maya? If so…it will be good for both and to me Remy takes full responsibility of what he has done (if it true). The chronology of event in my mind says all this because of Nur Kasih and Nur Kasih The Movie either the “group” trying to destroy Kabir or the main cast, Remy and Tiz because as far as I can remember in my life time there is no drama and actors been talked about up to this rate. With all the technology people can do wonders now days…you know what I mean?

Remy was in Arjuna and Evolusi Drift and Tiz was in Asmaradana before NKTM. No buzz while shooting and not many blog or magazine reported about the drama and film while shooting compared to NKTM. The most romantic couple of Adam and Nur and it brings my memory to film between Remy and Maya call C.U.N last December and not in cinema until now. I did not come across any write-up about C.U.N. as a film and how are people judging the chemistry between Remy and Maya in their act together. Personally I did not see any on-screen chemistry for both and I will not judge because I did not watch or see any act between them including Nadrah and on top of that Maya is someone else wife and they are together because of the production. I reserved my comment with due respect she’s still a married woman and a wife that time and that is why make me felt sick actually when reading a statement in Mstar about the closeness of Maya and Remy due to their shared interest with nature. Oh please Maya watch what you say next time or shall I blame the reporters for twisting the story? and there was a report in murai.com saying Maya is canceling her press conference about her divorce. The question mark is there, whether she is not ready to face the public or is she avoiding the question on Remy’s involvement? If you are not wrong why are you not facing the public and why are you not come in the open about the accusation? Remy’s been denying it many times, how about you Maya? Is this a trap or planned?

I am not a digger for all this but I fall short of doing it in my protest for gossip and reports against Remy and Tiz and I am sure there are many out there believed sort of scam or planned to bring down and smear the name of Remy Ishak and Tiz Zaqyah especially now there are articles and also people are pleading director to take them in more project as a couple. If Osman Ali stick with Remy and Maya why not Kabir and other directors stick with Remy and Tiz and I am sure the buzz of romantic on-screen couple for them trigger an alarm for the old timers actress who now trying to look younger and be a partner in a drama or movie with Remy Ishak and trying every corner and angle to notice as the most romantic couple on screen. My vote will only go to Remy and Tiz in whatever situation. One hero for all…it must be crazy isn’t it?

With all this buzz where are we leading? As a reader it does not give me any enthusiasm about the Malay film industry and no boost and self-confidence to. Last night I feel tired but not able to sleep and nothing much I can do beside switching on the tv. Nothing interesting I go through the dvd collection and pick up a long ago story While You Were Sleeping. I am sure many of us remember that movie and how simple the story is but the message behind it is love and family. A wish by a young woman who works very hard for her living and attracted to a man who never even spoken to her and on the day he wishes her Merry Christmas she saved his life and become part of his family during Christmas when the real love comes. So simple…no conflict easy plot and I know I can watch this kind of movie anytime and it takes me back to our local industry. For long there is no good plot in our drama or I am the one who is not watching and I find it interesting to watch the Korean drama and movies together with Indonesian and others because they try by all means to bring their story to the people, right to the person’s heart and that is what Nur Kasih is giving and why it is still a hot topic but unfortunately the unhealthy competition in the industry creates a different buzz and I am one of them who bored with it.

When are we going to change and where are we leading in this developed world with this attitude?

Owned and written by : Sanaa 30/07/10

Cantik dan Kecantikan

Cantik, kecantikan, kebersihan adalah sebahagian dari amalan kehidupan manusia. Siapa yang tidak mahu cantik? Lebih-lebih lagi seorang wanita, yang memang suka di puji cantik dalam serba serbi. Sekelompok wanita juga ada yang sanggup berbuat apa saja untuk kelihatan cantik, ramping bentuk tubuh dan muda belia sentiasa. Cantik merangkumi semua bukan hanya raut wajah. Apabila kita mahukan sesuatu yang cantik termasuklah rumah, perhiasan dalamannya, pakaian dan juga perhiasan diri. Namun persoalan yang sama sering timbul dan sentiasa ada ialah sejauh mana seseorang itu berhempas pulas demi kecantikan.

Dalam Islam kecantikan datang dari lahir dan batin. Kecantikan lahiriah adalah dari raut wajah, cara kita berpakaian dan juga peradaban kita dalam pergaulan dan tentu kecantikan batin datang dari bersihnya hati, ikhlasnya budi dan kesannya dapat kita lihat melalui cahaya yang terpancar di wajah. Hujung minggu yang baru berlalu saya layari akhbar dan ada dua headlines yang menarik perhatian saya iaitu “beauty is a state of mind” oleh Dzireena Mahadzir dan “Your Cheating Heart” oleh Mary Jo Rapini. Article yang di tulis Dzireena adalah mengenai kesanggupan wanita untuk nampak cantik dan sekarang telah ada juga botox khas untuk kaki yang hanya saya ketahui setelah membaca article tersebut. Di negara barat telah bermacam-macam perkara di lakukan untuk kelihatan muda sentiasa dan cantik, ini termasuklah ubat-ubatan, pembedahan plastic dan akhir-akhir ini penggunaan botox. Kenapa kita jadi begini?

Kita di jadikan Allah dengan segala kesempurnaan dari fizikal dan juga mental walaupun ada insan yang kurang bernasib baik sejak lahir lagi. Indahnya agama Islam setiap perkara yang hendak kita lakukan ada doa yang di iringi makan, pakai baju baru, nak tidur, keluar rumah berdoa sehinggalah kepada kejadian manusia dari awal bermulanya hubungan suami isteri. Tangisan pertama yang kedengaran kita di tuntut untuk mengazankan bayi yang baru lahir dan kita juga di ajar hingga ke liang lahat. Ketika meniti kehidupan manusia melalui berbagai proses..bayi, anak kecil, remaja, dewasa dan peringkat tua dan dalam proses ini kita di dedahkan dengan pelbagai ragam kehidupan, ada yang mampu bertahan dan ada juga tidak. Kita semua tahu yang hidup pasti mati, yang muda pasti tua dan kalau yang sakit ada pula ubatnya. Tapi sejak kebelakangan ini terlalu ramai yang mahu mengubah keadaan zahir kita sehingga kita lupa pada hukum hakam dan asal kejadian. Dzireena mengatakan dia takut pada injections jadi tak perlulah nak buat semua ini untuk nampak cantik dan saya pula bertanya pada diri apakah saya insaf yang Allah telah mengurniakan saya dengan cukup sifat atau saya tidak berada di dalam golongan orang yang berduit untuk “mencantikan” diri saya dengan cara begitu?.

Setelah di selidik dan di kaji saya mengucap syukur kehadrat Allah kerana tidak mendorong hati saya untuk melakukan ini semua bagi tujuan kecantikan. Saya bermohon setiap hari untuk kesihatan yang baik semuga dapat menjalankan tanggungjawab saya sebagai seorang pekerja dengan baik dan dapat rezeki yang halal dalam pekerjaan yang saya lakukan. Setakat beli vitamins tu adalah dan juga buat facial sekali sekala tapi nak pergi toreh muka dan badan untuk cantik belum lagi terlintas di hati dan juga untuk ambil injections. Saya bermohon di jauhkan dari keinginan ini. Let me grow old gracefully kerana kecantikan yang di perolehi dengan pembedahan dan juga mengambil pil-pil hormon yang berlebihan akan lebih memudaratkan dan punyai kesan sampingan yang lebih teruk seandainya tidak di jaga. Huh dahlah pembedahan menelan ribuan ribu ringgit nak maintain tak tahu pula berapa.

Bila di perhatikan balik teringat saya pada satu blog yang menceritakan tentang perkahwinan, perceraian, percintaan dan pergaduhan di kalangan artis-artis di Malaysia ini tapi tak pula jumpa gossip tentang artis di Malaysia yang buat plastic surgery kerana sekarang khidmat ini telah ada di Asia iaitu di Thailand, Singapura dan Hong Kong, mungkin juga sudah ada di Malaysia tapi tidak di ketahui. Sudah-sudahlah tu jangan nak di ubah pemberian Allah kepada kita kerana akhirnya yang nak di lihat dan dapat menjamin sedikit sebanyak kebahagian di dunia ini adalah dari sekeping hati yang tulus dan ikhlas dan tidak bersandarkan kepada kebendaan yang ada hari ini dan mungkin boleh hilang dalam masa sejam dua. Apakah yang mendorong kita ke arah ini? Sekali lagi tepuk dada tanya selera sejauh mana akal kita letakan.

Note: Sila rujuk article di bawah untuk melihat betapa bertuahnya di lahirkan sebagai seorang wanita di bumi Allah ini seandainya kita tahu menjaga segala pemberianNYA.

*************************************************************************************

Beauty is a state of mind
Sense of Style
By DZIREENA MAHADZIR

HAVE you heard of Botox for the legs?” asked a friend. Botox for legs? Really?

Since I began writing this column a few hours after that question, I decided to Google an answer. On a website called realself.com, a group of plastic surgeons from around the world are of the opinion that no, it is not a good idea to Botox your legs to make them slimmer.

However, another site dedicated to plastic surgery says that, while Botox has been approved by the US Food and Drug Administration for use in treating wrinkles on the face and neck, there are doctors who have been using it for many “off-label” (not sanctioned) purposes.

And, of course, while Googling, a random forum discussion will pop up, in this case, about a well-know Hong Kong actress who had 40 Botox shots injected into her legs!

The quest for beauty is such a painful one, isn’t it? This injecting business is nothing new: a doctor once recommended injections into the thighs to make them thinner. But only once; after that, you’re just supposed to maintain them.

The thing with taking all these short-cuts is that they never last. They will give you temporary happiness for a few months, but if you’re not maintaining their effects, ie, making sure the effects last by using the old-fashioned eating-sensibly-and-excercising method, you’re back to square one.

And treatments/surgery/quick fixes are addictive. You do it once, love the results and start thinking of other things that you can do. And that’s dangerous because you might end up losing all sense of reality and start overdoing it and not knowing when or how to stop.

I really don’t like injections, I hate needles, which is why I can’t even bring myself to undergo acupuncture. I just don’t like sharp objects. Never, ever hand me scissors or knives pointed towards me, I will get hysterical. Hence I have never felt the need to voluntarily inject or have myself cut to look prettier or thinner or better.

Then there is also the question of self-confidence. I don’t want to say “improving” on your appearance via surgery or injections is a sign of insecurity. I always believe what anyone wants to do to themselves is their own choice, it is your body, you can do to it whatever you want.

It’s probably the same thing, though not as extreme, as when we dress up, apply makeup, workout, diet, etc. It’s all a part of the quest to look and feel healthier and better.

I always think appearances are important, as that’s the first thing with which people will judge you. And unfair as that it, let’s be realistic. Life isn’t supposed to be fair, if it was, you wouldn’t learn anything. But it shouldn’t be the be all and end all either. You can always ignore what people think, because honestly, most people are too self-absorbed to really care about anyone else, and if your appearance is such an issue to them, there’s obviously something wrong with them.

Unless you really need to go under the knife or be injected for medical reasons, why subject yourself to the torture? Beauty is subjective. One will always measure one’s self with a critical eye, but don’t judge yourself too harshly. In the bigger picture, does it really matter if your features aren’t perfect, or you’ve developed wrinkles?

There will always be someone who will love you no matter how fat, ugly or old you think you are. And anyone who tells you otherwise should be ignored.

I’ve said this before and I’ll say it again, there will always be someone younger, thinner, smarter, richer, prettier. It’s not a competition unless you make it so. If you have enough confidence in yourself, you can have the fattest legs in the world and no one will notice because your aura of self-confidence will knock them sideways.

Don’t believe me? “Sex appeal is 50% what you’ve got and 50% what people think you’ve got.” Sophia Loren said that. Yes, she is Sophia Loren, but if some people out there can think they are Sophia Loren or the equivalent, and it makes you want to laugh, why can’t you?

Dzireena Mahadzir says that fabulosity is a state of mind.

*****

Wanita Solehah Lebih Baik Daripada Bidadari Syurga

Wanita solehah tidak boleh sembarangan mencintai lelaki. Lelaki yang paling wajar dicintai oleh wanita solehah ialah Nabi Muhammad SAW. Ini kerana Nabi Muhammad SAW adalah pembela nasib kaum wanita. Baginda telah mengangkat martabat kaum wanita daripada diperlakukan dengan kehinaan pada zaman jahiliyah, khususnya oleh kaum lelaki.

Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga berjaya menyempurnakan budi pekerti kaum lelaki. Ini membawa keuntungan kepada kaum wanita kerana mereka mendapat kebebasan dalam kawalan dan perlindungan keselamatan oleh kaum lelaki. Iaitu dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW menjadikan bapa atau suami mereka berbuat baik dan bertanggungjawab ke atas keluarganya. Demikian juga dengan kedatangan Rasulullah SAW telah menjadikan anak-anak tidak lupa untuk berbakti kepada ibu mereka, cthnya seperti Uwais Al-Qarni.

Salah satu tanda kasih Baginda SAW terhadap kaum wanita ialah dengan berpesan kepada kaum lelaki agar berbuat baik kepada wanita, khususnya ahli keluarga mereka. Rasulullah SAW sendiri menjadikan diri dan keluarga baginda suri teladan kepada kaum lelaki untuk bagaimana berbuat baik dan memuliakan kaum wanita.

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan yang berbuat baik kepada ahli keluarganya.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmizi)

Lagi sabda Rasulullah SAW,

“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya; dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi.” (Riwayat Abu ‘Asakir)

Tapi betul ke wanita solehah itu lebih baik daripada bidadari syurga?

Daripada Umm Salamah, isteri Nabi SAW, katanya(di dalam sebuah hadis yang panjang):

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Adakah wanita di dunia lebih baik atau bidadari?”

Baginda menjawab, “Wanita di dunia lebih baik daripada bidadari sebagaimana yang zahir lebih baik daripada yang batin.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah! Bagaimanakah itu?”

Baginda menjawab, “Dengan solat, puasa dan ibadat mereka kepada Allah, Allah akan memakaikan muka-muka mereka dengan cahaya dan jasad mereka dengan sutera yang berwarna putih,berpakaian hijau dan berperhiasan kuning….(hingga akhir hadis)” (riwayat al-Tabrani)

Terkejut bila membaca hadis ni dan ingin berkongsi bersama rakan-rakan lain. Sungguh tinggi darjat wanita solehah, sehingga dikatakan lebih baik daripada bidadari syurga. Semoga hadis ini menjadi inspirasi bagi kita semua dalam memperbaiki diri agar menjadi lebih baik daripada bidadari syurga. InsyaAllah..

Tapi, bagaimana yang dikatakan wanita solehah itu?
Ikuti kisah berikut, semoga kita sama-sama beroleh pengajaran.

Seorang gadis kecil bertanya ayahnya “ayah ceritakanlah padaku perihal muslimah sejati?”

Si ayah pun menjawab “anakku,seorang muslimah sejati bukan dilihat dari kecantikan dan keayuan wajahnya semata-mata.wajahnya hanyalah satu peranan yang amat kecil,tetapi muslimah sejati dilihat dari kecantikan dan ketulusan hatinya yang tersembunyi.itulah yang terbaik”

Si ayah terus menyambung

“muslimah sejati juga tidak dilihat dari bentuk tubuh badannya yang mempersona,tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya yang mempersona itu.muslimah sejati bukanlah dilihat dari sebanyak mana kebaikan yang diberikannya ,tetapi dari keikhlasan ketika ia memberikan segala kebaikan itu.muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.muslimah sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa,tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara dan berhujah kebenaran”

Berdasarkan ayat 31,surah An Nurr,Abdullah ibn abbas dan lain-lainya berpendapat.Seseorang wanita islam hanya boleh mendedahkan wajah,dua tapak tangan dan cincinnya di hadapan lelaki yang bukan mahram(As syeikh said hawa di dalam kitabnya Al Asas fit Tasir)

“Janganlah perempuan -perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga menghairahkan orang yang ada perasaan dalam hatinya,tetapi ucapkanlah perkataan yang baik-baik”(surah Al Ahzab:32)

“lantas apa lagi ayah?”sahut puteri kecil terus ingin tahu.

“ketahuilah muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya.
Muslimah sejati bukan dilihat dari kekhuwatirannya digoda orang di tepi jalanan tetapi dilihat dari kekhuwatirannya dirinyalah yang mengundang orang tergoda.muslimah sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa redha dan kehambaan kepada TUHAN nya,dan ia sentiasa bersyukur dengan segala kurniaan yang diberi”

“dan ingatlah anakku muslimah sejati bukan dilihat dari sifat mesranya dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauh mana ia mampu menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul”

Setelah itu si anak bertanya”Siapakah yang memiliki criteria seperti itu ayah?Bolehkah saya menjadi sepertinya?mampu dan layakkah saya ayah?”

Si ayah memberikan sebuah buku dan berkata”pelajarilah mereka!supaya kamu berjaya nanti.INSYA ALLAH kamu juga boleh menjadi muslimah sejati dan wanita yang solehah kelak,malah semua wanita boleh”

Si anak pun segera mengambil buku tersebut lalu terlihatlah sebaris perkataan berbunyi ISTERI RASULULLAH.

“Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu ,puasa di bulan ramadhan ,menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya,maka masuklah ia ke dalam syurga dari pintu-pintu yang ia kehendakinya”(riwayat Al Bazzar)

Article from : Rakan Masjid

*****

Wanita Dalam Islam

Kedudukan Wanita Menurut perspektif Islam Dan Barat

Islam muncul ketika sebahagian besar manusia menolak keinsanan wanita, ketika sebahagian manusia masih ragu-ragu terhadapnya dan ketika sebahagian manusia masih menganggap wanita hanyalah sebagai makhluk yang dijadikan semata-mata untuk berkhidmat untuk lelaki. Apabila Islam dibawa oleh Nabi Muhammad saw maka baginda berjuang untuk meletakkan wanita pada tempat yang wajar, untuk menghapuskan segala bentuk kezaliman manusia sebelum Islam terhadap kaum wanita yang lemah.

Masalah kedudukan wanita dalam perundangan Islam adalah masalah yang kerap disalahertikan oleh sesetengah golongan dengan cuba menimbulkan satu dua persoalan yang agak kontroversi,lalu dikatakan Islam tidak memberi tempat yang sewajarnya kepada kaum wanita dalam perundangannya. Sedangkan masalah wanita dalam perundangan Islam tidak sekali-kali boleh dilihat dari satu sudut sahaja atau dari satu dua masalah yang ditimbulkan. Masalah mestilah dilihat dari segenap aspek dan liku-liku serta dinilai dari keseluruhan perundangan itu sendiri di samping membandingkannya dengan beberapa perundangan yang lain, barulah dapat diketahui di mana letaknya taraf wanita dalam perundangan Islam.

Untuk meninjau dan menilai kedudukan wanita dalam perundangan Islam, agak sukar untuk mengukur apakah yang diberi dan dibela oleh Islam untuk kaum wanita, tanpa meneliti taraf dan kedudukan wanita (pada umumnya) dalam perundangan-perundangan lain serta dalam perundangan-perundangan yang wujud sebelum kedatangan Islam dan perundangan-perundangan yang diciptakan selepas kedatangan Islam. Dengan mengetahui sepintas lalu kedudukan wanita dalam perundangan-perundangan tersebutmaka jelaslah apa yang diberikan oleh Islam untuk wanita. Apakah undang-undang yang ada dalam Islam merupakan penghinaan kepada wanita ataupun penghormatan dan kemuliaan yang tidak ada tolok bandingnya dalam perundangan-perundangan lain di dunia.

Wanita Dalam Perundangan Greek

Dalam sejarah tamadun manusia, tamadun Grek dianggap sebagai tahap tamadun yang boleh dibanggakan pada zaman itu. Namun begitu wanita ketika itu menurut Profesor Dr Mustafa al-Saba’i dalam kitabnya yang bertajuk ‘Al-Mar atu baina al-Fiqh wa al-Qanun’ menyebutkan bahawa wanita dikurung di dalam rumah, tidak diberi peluang langsung untuk belajar dan dihina serta dianggap khadam yang najis. Wanita juga boleh dijual beli seperti barang=barang dagangan. Tidak mempunyai hak untuk membantah malah tidak ada apa-apa hak dalam hidup selain dari makan minum, tempat tinggal dan pakaian. Pada kemuncak tamadun Greek pula wanita dijadikan alat untuk memuaskan nafsu lelaki, model-model perempuan bogel dipopularkan dan merebaklah keruntuhan moral yang berakhir dengan keruntuhan tamadun tersebut.

Wanita Dalam Perundangan Rumawi

Wanita dalam perundangan Rom lebih menyedihkan. Pada masa muda remaja, wanita dikongkong di bawah kekuasaan penjaganya, sama ada bapa atau datuknyaatau sebagainya yang diistilahkan sebagai ‘Peter Families’. Kekuasaan seseorang penjaga tidak dihadkan, malahan boleh menghalau wanita itu keluar rumah, atau menjualnya tanpa pembelaan undang-undang untuk mereka. Lebih dari itu, hak hidup bagi seseorang wanita boleh ditentukan oleh penjaganya. Demikian menurut Profesor Dr Ali Abdul Wahid Wafi dalam kitabnya ‘Al-Mar atu fi al-Islam’ iaitu selepas berkahwin wanita berubah ilik daripada bapanya kepada suaminya dan terputuslah hubungan dengan keluarga asalnya. Suami pula berhak mengisikan tempat yang dikosongkan oleh bapanya dalam tindak tanduknya terhadap wanita itu.

Keadaan yang menyedihkan kaum wanita ketika itu telah cuba diselamatkan pada zaman Justinian dengan suatu undang-undang yang dikenal dengan nama ‘Justinian Law’ tetapi tidak berubah keadaan kecuali dalam beberapa hal sahaja. Sebelum ‘Justinian Law’ dilaksanakan, terdapat undang-undang yang dikenal sebagai ‘Undang-undang Dua Belas’. Dalam undang-undang tersebut disentuh tentang kelayakan mendapat hak sivil. Kelayakan tersebut hendaklah dengan tiga syarat iaitu cukup umur, siuman akal dan lelaki. Jelaslah di sini bahawa wanita pada kedua-dua zaman tersebut berada dalam keadaan yang menyedihkan.

Dalam kitab ‘Safr al-Khuruf’ iaitu kitab agama Yahudi menjelaskan : seseorang bapa yang susah hidupnya boleh menjual anak perempuannya bersama dengan kumpulan hamba bagi mengatasi kemiskinan. Dalam kitab suci agama Yahudi yang dikenali dengan nama ‘Thalmud’ pula ada dicatat : Tidak boleh seorang perempuan Yahudi mengadu kepada sesiapa jika didapati bahawa suaminya telah melakukan hubungan seks dengan perempuan lain walaupun di dalam rumah mereka sendiri. Dimuka surat yang sama dalam kitab tersebut terdapat kenyataan : Lelaki Yahudi boleh melakukan apa sahaja kepada isterinya, ia boleh menikmatinya sepertimana dia menikmati seketul daging yang dibeli di pasar sama ada dengan merendam, membakar atau apa sahaja yang digemarinya, atau melemparkannya sahaja.

Profesor Dr. Mustafa al-Saba’i dalam kitabnya yang tersebut tadi ada menyebut : Anak-anak perempuan Yahudi tidak boleh mendapat sebarang pusaka daripada harta yang boleh dipindahkan seperti wang ringgit dan emas perak jika ada di kalangan keluarganya itu seorang lelaki, meskipun emas perak yang ditinggalkan itu berpikul-pikul. Jika harta benda yang ditinggalkan itu harta benda tetap seperti tanah, rumah dan sebagainya, maka perpempuan-permuan itu tidak boleh menerima pusaka. Cuma boleh menerima belanja hidup dari si lelaki yang menguasai pusaka itu. Dalam kitab Taurat terdapat kenyataan : Wanita-wanita adalah lebih bahaya atau lebih bala daripada lelaki. Sejahat-jahat lelaki dan sekurang-kurangnya seorang yang baik dari satu ribu orang, sedangkan bagi perempuan tidak akan wujud perkara seperti itu.

Wanita Dalam Perundangan Barat yang lain

Dalam undang-undang Inggeris sehingga tahun 1805, seorang suami diharuskan menjual isterinya. Undang-undang tersebut telah menetapkan harga minima bagi seorang wanita ialah 6 pence. Pernah berlaku pada suatu masa selepas undang-undang itu digantikan, seorang Inggeris dalam tahun 1931 telah menjual isterinya dengan harga 500 paun. Peristiwa ini telah dibawa ke mahkamah. Peguam lelaki tersebut dalam pembelaannya telah menyebut bahawa perbuatan lelaki itu tidak salah kerana ternyata wujud undang-undang Inggeris yang mengharuskannya pada suatu masa yang lalu.

Pendakwa telah berhujah dengan mengatakan : Walaupun benar undang-undang yang disebut oleh peguam bela tersebut, tetapi sebenarnya undang-undang itu telah dimansuhkan pada tahun 1805. Akhirnya lelaki tersebut telah didenda dan dipenjara selama 10 tahun. Dalam majalah ‘Hadrat al’Islam’ (Tamadun Islam) keluaran 1916 ada memuatkan kisah seorang Itali yang menjual isterinyakepada seorang lelaki dengan bayaran secara beransur. Apabila pembeli tersebut enggan menjelaskan baki harga perempuan tersebut, maka berlakulah pergaduhan yang menyebabkan pembeli itu terbunuh.

Apabila berlaku Revolusi Perancis, pengisytiharan mengharamkan penindasan sesama manusia dibuat. Tetapi tidak termasuk penindasan terhadap wanita. Dalam undang-undang sivil Perancis ketika itu ada dinyatakan bahawa wanita tidak layak mendapat hak sivil sepenuhnya. Tidak boleh menjual beli dan membuat kontrak tanpa keizinan penjaganya. Profesor Dr. Ali Abdul Wahid Wafi dalam kitabnya berkata : ‘Keadaan wanita di Perancis amat menyedihkan hingga ke zaman akhir-akhir ini. Malah hingga sekarang masih tidak terbela sepenuhnya, mereka disisihkan daripada undang-undang sebagai tidak layak mendapat sepenuhnya hak sivil’. Dalam undang-undang sivil Perancis (Code Napoleon) ada tercatat : Perempuan yang telah berkahwin meskpun perkahwinannya diasaskan di atas sesuatu persetujuan pengasingan hak milik harta suami isteri, namun begitu tidaklah bererti membolehkan isteri tersebut menghibbah hartanya atau memindah milik atau menggadaikannya, atau membelikan sebarang harta baru tanpa disertai dengan suaminya di dalam kontrak atau persetujuan suami tersebut secara bertulis.

Satu hal yang lebih ketara, apabila seseorang perempuan telah berkahwin, maka secara tidak langsung atau automatik namanya dan keluarganya hilang, ditukar dengan nama baru yang dikenal sebagai Mrs …….(nama suaminya). Dengan kehilangan itu akan hilang namanya sendiri, dan nama keluarganya, semuanya larut dalam nama suaminya.

Wanita Menurut Pandangan Islam

Dari gambaran sekilas pandang seperti yang digambarkan di atas, ternyata betapa rendahnya kedudukan wanita dalam berbagai-bagai masyarakat di dunia. Kedatangan Islam telah mengubah fenomena ini. Oleh kerana keadaan itu sengajadibuat-buat oleh manusia dan merupakan penganiayaan manusia terhadap manusia cuma berlainan jenis, maka Allah swt telah mengutus RasulNya Muhammad saw untuk memperbaiki kepincangan dan menempatkan wanita ke taraf yang sewajarnya. Wanita tidak lagi diletakkan di tempat kedua hanya sebagai pengikut kaum lelaki sahaja. Mereka mendapat hak dan status yang sewajarnya sesuai dengan fitrah penciptaannya. Mereka dihargai dan dihormati sebagai seorang manusia. Nabi Muhammad saw datang dengan ajaran yang benar dari Allah swt, memperbetulkan yang salah dan mengangkatkan apa-apa yang sepetutnya diangkat, meletakkan wanita dalam perundangan Islam kena pada tempat dan keadaannya. Al-Quran dan al-Hadith telah menentukan kedudukan yang sewajarnya bagi wanita dan menjamin hak-haknya supaya tidak disalahertikan oleh kaum lain.

Persamaan Taraf

Dari segi persamaan taraf, kaum wanita pada umumnya adalah sama tarafnya dengan kaum lelaki, masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri. Malah ada ketikanya undang-undang Islam memperlihatkan kaum wanita khususnya ibu-ibu lebih mulia daripada kaum lelaki jika lebih taqwanya. Antara kelebihan Islam ialah menghormati wanita dan mengiktiraf keinsanan serta keupayaannya untuk memikul tuntutan agama (tanggungjawa), kesaksamaan hukuman dan peluang memasuki syurga sama seperti lelaki. Islam menganggap wanita sebagai insan yang mlia dan mempunyai hak-hak keinsanan yang setaraf dengan lelaki kerana wanita dan lelaki adalah cabang kepada pohonan yang satu dan saudara yang dilahirkan oleh bapa yang satu iaitu Adam as dan juga dari ibu yang satu iaitu Hawa.

Mereka adalah setaraf dari aspek asal usul kejadian, setaraf dari aspek ciri-ciri umum keinsanan, setaraf dari aspek tuntutan agama serta tanggungjawab dan setaraf dari aspek pembalasan dan tempat kembali (setelah kematian) dan sebagainya. Dari aspek hak-hak pemilikan harta, Islam telah menghapuskan tradisi umat-umat terdahulu ( sama ada Arab atau bukan Arab) yang telah melarang wanita dari memiliki harta atau mengecilkan skop mereka. Islam telah menetapkan bagi wanita hak pemilikan dengan pelbagai bentuk dan jenisnya serta hak pengurusan dalam pelbagai cara yang disyariatkan.

Dari aspek ilmu, Islam juga memberikan kepada wanita hak untuk menuntut ilmu sepertimana lelaki.

realitinya Islam telah menjadikan menuntut ilmu sebagai perkara fardhu ke atas mereka sebagaimana sabda Rasulullah saw yang bermaksud : ‘Menuntut ilmu adalah fardhu ke atas setiap muslim’. Maksud ‘setiap muslim’ dalam hadith tersebut ialah sama ada lelaki atau perempuan seperti mana yang telah diijma’ atau disepakati para ulama.

Kelebihan-kelebihan Khusus

Dalam beberapa hal, Islam meletakkan wanita khususnya ibu-ibu ke suatu tempat yang lebih mulia daripada kaum bapa. Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh al-Nasa’i dan Muslim bahawa seorang lelaki telah mengadap Rasulullah saw lalu bertanya : “Siapakah ya Rasulullah yang paling berhak saya dampingi?” Jawab Rasulullah : “Ibumu”. Bertanya lagi lelaki itu : “Kemudian siapa lagi?” Jawabnya : “Ibumu.” “Siapa lagi?” tanyanya. “Ibumu,” jawab Rasulullah. “Kemudian siapa lagi?” Baru diberi jawapan oleh Rasulullah saw, “Bapamu.” Oleh sebab itu Rasulullah saw pernah bersabda yang bermaksud : “Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.”

Hak-hak Sivil

Islam juga telah memberikan hak sivil kepada kaum wanita sesuai dengan tabiat semulajadi mereka sebagai wanita dan telah meletakkan hak-hak tersebut di tempat yang betul. Kaum wanita diberi kedudukan tersendiri dalam menentukan nasibnya. Tidak boleh dihina atau diperlakukan seperti barang jualan. Mereka berhak ke atas diri mereka sendiri. Perempuan yang telah sampai umur baligh berhak atas dirinya sendiri dalam segala hal sivil. Perkahwinan adalah menurut kemahuannya. Dalam mazhab Hanafi, wanita yang baligh sama ada masih perawan atau telah janda tidak boleh dikahwinkan melainkan dengan kemahuannya. Malahan ia sendiri boleh berkahwin dengan sesiapa sahaja yang dia suka. Dalam mazhab Syafie, perempuan yang cukup umur jika dikahwinkan oleh walinya dengan seorang yang tidak setara (kufu’) dengannya maka perempuan itu berhak membubarkan perkahwinan itu melalui kadhi. Manakala seseorang perempuan yang telah janda sama ada kecil atau besar, ia berhak atas dirinya sendiri dan tidak ada siapa yang boleh memaksanya berkahwin. Perlu juga disebut bahawa wanita-wanita dalam perundangan Islam apabila dkahwinkan, tidak sekali-kali akan bertukar coraknya khususnya namanya seperti yang berlaku dalam masyarakat Eropah yang ditiru oleh perempuan-perempuan Islam hari ini dengan menghilangkan namanya sendiri digantikan dengan menjadi Mrs (so and so). Wanita-wanita Islam tetap dengan nama asalnya tanpa perlu digantikan dengan nama suami yang hanya mendatang dalam hidupnya.

Tidakkah jelas bagi wanita Islam kini contoh yang telah ditunjukkan oleh wanita yang terdahulu khususnya isteri-isteri Rasulullah saw seperti Khadijah, Aisyah, Hafsah dan sebagainya telah berkahwin dengan seorang yang paling mulia dan paling tinggi darjat taqwanya tetapi mereka tidak mengubah nama mereka. Itulah realiti taraf wanita dalam Islam bergantung kepada keperibadiannya. Tidaklah kepada keperibadian suaminya seperti yang terdapat sekarang.

Tindakan sesetengah pejuang Women’s Lib di Barat dan lain-lain masih menjadi tandatanya apabila mereka dengan rela menghilangkan nama sendiri yang ditukar kepada nama suami dengan menambahkan Mrs di hujungnya sedangkan mereka tidak mahu dianggap rendah dan dibeza-bezakan dalam hidupnya. Tidakkah dengan hilangnya nama dan keturunan sebenarnya telah merendahkan darjat yang seharusnya dipelihara? Dan apabila bertukar suami, bertukarlah pla nama. Seolah-olah diri wanita itu hanya wujud dan teguh bila tidak bersuami. Apabila telah bersuami telah larutlah nama dan hilanglah keturunannya. Dalam Islam seseorang itu hendaklah dipanggil mengikut nama bapanya.

Selain soal perkahwinan dan taraf wanita dalam perkahwinan tersebut, Islam telah memberikan hak-hak sivil kepada perempuan sesuai dengan sifat semulajadinya. Wanita yang telah genap umurnya (baligh) boleh bertindak sendiri dalam urusan jual beli, mengadakan sebarang kontrak, memiliki harta dan membelanjakannya, bertukar milik dan sebagainya, berkongsi dalam urusan-urusan hidup, memberi, menghadiahkan atau mendermakan hartanya menurut sesuka hatinya tanpa boleh diganggu gugat oleh keluarganya asalkan tindakannya itu tidak berlawanan dengan hukum syarak.

Tegasnya, Islam tidak membeakan lelaki dan wanita. Tetapi di sini timbul beberapa persoalan sebahagian masyarakat termasuk umat Islam sendiri. Antara soalan yang dikemukakan iaitu : Jika Islam mengiktiraf kemanusiaan wanita menyamai dengan kemanusiaan lelaki, mengapakah Islam melebihkan lelaki ke atas wanita dalam beberapa keadaan dan situasi? Umpamanya dalam syahadah (penyaksian), pewarisan, kepimpinan keluarga, kepimpinan negara dan beberapa hukum atau perkara yang lain?

Hikmah Islam membezakan antara lelaki dan wanita dalam sebahagian kecil Undang-undang Islam (hukum)

Dalam syariat Islam ada beberapa hak yang berbeza di antara kedua-duanya, contohnya lelaki boleh berkahwin lebih daripada satu sedangkan wanita tidak boleh. Ini kerana pada wanita ada penghalang yang tidak ada pada lelaki. Iaitu janin akan terbentuk dalam tubuh wanita dan dia yang akan mengandung. Sekiranyadibolehkan wanita kahwin lebih, maka bercampurlah benih dan tidak diketahui kepada siapakah hendak dinisbahkan anak.

Hakikatnya perbezaan antara lelaki dan wanita di dalam hukum-hukum ini bukan kerana kaum lelaki lebih dimuliakan oleh Allah atau lebih hampir kepadaNya berbanding kaum wanita. Sebenarnya manusia yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa antara mereka, sama ada lelaki mahupun wanita, seperti firman Allah swt yang bermaksud : “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi allah ialah yang paling bertaqwa di kalangan kamu.” Tetapi perbezaan ini disebabkan tuntuntan tugas yang bersesuaian dengan fitrah atau karaktor lelaki dan wanita.

a) Penyaksian Wanita dan Penyaksian Lelaki

Al-Quran menjadikan penyaksian seorang lelaki menyamai penyaksian dua orang wanita malah majoriti ulama telah menetapkan bahawa penyaksian wanita tidak diterima dalam kes melibatkan kesalahan hudud dan qisas. Namun begitu ada sesetengah pendapat ahli fiqh membolehkan wanita menjadi saksi sekiranya jenayah yang berlaku di tempat-tempat yang kebiasaannya tidak terdapat lelaki umpamanyadalam tandas wanita dan sebagainya yang disediakan khas untuk wanita. Perbezaan ini bukanlah kerana kekurangan yang ada pada wanita sebaliknya adalah kerana fitrah dan karaktor wanita yang kebiasaannya lebih sibuk dengan tugas-tugas wanita seperti urusan rumah tangga, anak-anak, suami dan sebagainya. Justeru itu, pemikirannya tentang asek muamalat adalah lemah berbanding lelaki. Pendirian yang diakui oleh kebanyakan ahli fiqh yan tidak mengiktiraf wanitasebagai saksi dalam kes-kes kesalahan hudud dan qisas, kerana kebanyakan wanita sebenarnya mudah panik dan tersentuh perasaan. Selalunya seseorang wanita apabila melihat jenayah, dia akan memejamkan matanya dan melarikan diri dalam keadaan menjerit. Ia akan menghadapi kesukaran untuk memberi keterangan dengan detail dan jelas kerana kepanikannya. Namun begitu kesaksiannya boleh diterima sekiranya melibatkan perkara yang telah disebutkan tadi tetapi hakim tetap juga memerlukan bukti atau bayyinah untuk mensabitkan kesalahan tersebut.

b) Hak Pewarisan Wanita dan Hak Pewarisan Lelaki

Perbezaan yang berlaku antara lelaki dan wanita dalam masalah pewarisan sepertimana yang telah disebutkan oleh al-Quran yang bermaksud : “Allah perintahkan kepada kamu mengenai (pembahagian harta untuk) anak-anak kamu, iaitu bahagian seorang anak lelaki menyamai bahagian dua orang anak perempuan.”

Apa yang jelas dalam masalah ini iaitu perbezaan yang berlaku antara wanita dan lelaki dari segi bebanan dan tanggungan kewangan yang telah ditetapkan ke atas mereka berdua. Sudah menjadi tanggungjawab bagi lelaki apabila berkahwin maka ia terpaksa memberikan nafkah terhadap isteri serta anak-anaknya, sedangkan wanita apabila menjadi isteri, wanita tidak wajib melakukan perkara tersebut malah isteri berhak pula mendapat nafkah dari si suami. Sekiranya wanita mempunyai hak pewarisan yang sama seperti lelaki maka akan terdapat banyak keadaan di mana kaum wanita mempunyai bahagian yang lebih daripada lelaki. Oleh itu, kerana lelaki memikul tugas yang berat, maka ia berhak mendapat pusaka yang lebih.

c) Kepimpinan Keluarga

Berkenaan dengan kepimpinan keluarga, firman Allah yang bermaksud : “Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan Orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan, dan juga kerana orang-orang lelaki telah membelanjakan (memberi nafkah) sebahagian dari harta mereka.”

Tujuan kelebihan kaum lelaki di sini ialah dari segi bakat semulajadi dan kebolehan danlam pengurusan dan kepimpinan sebab lelaki diwajibkan mencari nafkah dan dialah yang menghadapi pergolakan dalam masyarakat dan di luar rumah sedangkan kebanyakan prempuan bertugas di rumah untuk mengasuh anak-anak dan mengurus rumah tangga. Allah swt telah menjadikan kepimpinan kepada lelaki dengan nas-nas al-Quran di atas berdasarkan dua perkara :

Pertama : Anugerah – Dengan kelebihan yang telah diberikan oleh Allah swt sseperti berpandangan jauh tentang akibat sesuatu perkara dengan lebih rasional berbanding wanita kerana kaum wanita telah dilengkapi dengan sistem emosi yang sangat halus sesuai dengan sifat keibuannya.

Kedua : Usaha – Lelaki membelanjakan banyak harta untuk membina keluarga. Jika sesebuah keluarga itu runtuh, maka ia akan dipertanggungjawabkan. Oleh itu, ia akan berfikir seribu kali sebelum ia membuat sesuatu keputusan untuk menamatkannya.

d) Jawatan-jawatan Kehakiman dan Pemerintahan

Dalam jawatan kehakiman, Imam Abu Hanifah mengharuskan atau membenarkan wanita mengadili kes-kes yang diharuskan bagi wanita untuk mengadili semua kes-kes yang diharuskan bagi wanita kecuali yang melibatkan kes-kes jenayah. Keharusan di sini bukanlah bererti wajib sebaliknya ia dibenarkan dalam lingkungan yang boleh memberi kemaslahatan kepada wanita, keluarga, masyarakat dan agama Islam itu sendiri. Malah hendaklah dilakukan dengan membuat pemilihan terhadap wanita yang mempunyai keistimewaan pada tahap umur tertentu untuk mengadili kes-kes tertentu dalam suasana-suasana tertentu.

Manakala larangan wanita untuk menyandang jawatan ‘Khilafah’ atau ketua negara atau jawatan yang seumpamanya ialah kerana tenaga wanita kebiasaannya tidak mampu memikul tugas-tugas yang amat berat itu. Kita mengatakan ‘kebiasaannya’ kerana boleh jadi terdapat wanita yang lebih mampu daripada lelaki seperti Ratu Saba (Balqis) yang telah diceritakan dalam al-Quran. Namun bilangannya terlalu kecil untuk mendapatkan wanita yang hebat seperti itu. Akan tetapi untuk menyandang jawatan sebagai penagrah, pengetua, ketua institusi, anggota Parlimen, Menteri atau sebagainya, ia tidak dikira sebagai suatu kesalahan jika terdapat kemaslahatan.

Hak-hak Wanita Dalam Islam

Secara ringkasnya dapat dinyatakan bahawa Islam memberikan hak terhadap wanita antaranya :

1. Dalam bidang nilai kemanusiaan, Islam tidak membezakan antara wanita dan lelaki. Wanita adalah manusia yang mempunyai martabat yang sama seperti lelaki di sisi Allah swt dan pada pandangan manusia kerana lelaki dan wanita dijadikan dari satu jiwa yang sama. Firman Allah swt yang bermaksud : “Wahai manusia, bertaqwalah kamu kepada Allah yang telah menjadikan kamu daripada satu jiwa.”

2. Islam menolak sikap agama Yahudi dan Nasrani yang hanya menyalahkan wanita (Hawa) dan menganggapnya sebagai sebab Adam dan Hawa diusir dari syurga, malah ada yang menganggap perempuan adalah makhluk yang suka membuat angkara sehingga lelaki terpaksa menanggung beban padahal yang sebenarnya tidak begitu. Islam menganggap kedua-duanya iaitu Adam dan Hawa sama-sama melakukan kesalahan seperti firman Allah swt yang bermaksud : “Maka keduanya (yakni Adam dan Hawa) telah digoda oleh syaitan sehingga tergelincir dari syurga dan dikeluarkan dari keadaan (nikmat) yang mereka telah berada di dalamnya…”

3. Dalam beragama dan beribadah, wanita sama seperti lelaki iaitu sekiranya melakukan amal soleh maka akan dimasukkan ke syurga dan begitulah juga sebaliknya sekiranya ingkar dan durhaka akan dimasukkan ke dalam neraka. Firman Allah swt yang bermaksud : “Barangsiapa yang beramal sama ada dari lelaki dan perempuan sedang dia seorang yang beriman, maka kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik, dan akan Kami berikan pahala yang lebih baik daripada apa yang mereka kerjakan.”

4. Islam membanteras pandangan atau anggapan sial terhadap anak-anak perempuan dan perbuatan menguburkan mereka hidup-hidu yang ada pada bangsa Arab dan juga bangsa-bangsa lain sebagaimana firman allah swt yang bermaksud : “Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya : kerana dosa apakah ia dibunuh?”

5. Dalam bidang hak milik, Islam memberikan kepada wanita hak-hak mempusakai harta warisan sama ada sebagai anak, ibu, saudara atau isteri sebagaimana yang terkandung dalam surah an-Nisa’. Wanita bebas membelanjakan hartanya dan sebagainya.

6. Islam memberikan hak mendapat nafkah kepada wanita sama ada sebelum kahwin (daripada bapa) atau selepas berkahwin (daripada suami) atau daripada anak-anaknya sebagai ibu.

7. Islam memberikan hak perseorangan iaitu Islammemerintahkan supaya menghormati wanita sama ada sebagai ibu kepada anak-anaknya atau sebagai isteri kepada suaminya sebagaimana firman Allah swt yang bermaksud : “Dan Kami telah berpesan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Terutama ibunya yang mengandungkannya dengan kepayahan dan melahirkannya juga dengan kepayahan.”

8. Islam memberikan hak kepada wanita untuk menerima atau menolak lamaranlelaki untuk menjadi suaminya berdasarkan sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Tidak boleh dikahwinkan seorang janda sehingga dimintakan pandangannya dan seorang dara sehingga diminta keizinannya.”

9. Islam memberikan hak kepada wanita untuk menuntut talak daripada lelaki dengan sebab-sebab munasabah yang diterma oleh syarak seperti berpisah kerana kemudaratan yang ditanggung oleh isteri atau masalah hubungan kelamin dan sebagainya dengan menggunakan pelbagai kaedah yang telah ditetapkan oleh syarak.

Wanita dan Kerjaya

Bilakah wanita diharuskan bekerja? Adakah pernyataan ini bermaksud wanita haram atau dilarang bekerja dari sudut syarak dalam apa jua situasi pun? Apa yang perlu dijelaskan di sini ialah sejauh manakah dan dalam bidang apakah syariat Islam membenarkan wanita bekerja.

Sebenarnya tugas wanita yang utama dan teragung yang mana tidak dapat ditandingi serta dicabar oleh sesiapa ialah mendidik generasi yang mana Allah telah menyediakan mereka kesesuaian fizikal dan psikologi untuk melaksanakannya. Tiada seorang lelaki pun yang mampu menggantikan wanita dalam tugas yang berat ini yang boleh mencorakkan masa depan ummah dan merupakan harta yang paling bernilai. Ini tidak bermakna wanita diharamkan oleh syarak bekerja di luar rumah. Seseorang itu tidak berhak mengharamkan sesuatu tanpa nas syarak yang sahih dan jelas maknanya. Sebagaimana yang kita maklumi dalam kaedah fiqh ada mengatakan, ‘Asal perkara-perkara dan perbuatan-perbuatan biasa (bukan ibadat) adalah harus.’

Wanita kini memberi sumbangan secara langsung kepada pendapatan keluarga. Bagi kebanyakan wanita, bekerja menjadi satu keperluan apabila pendapatan suami tidak mencukupi untuk menampung kepreluan keluarga. Begitu juga hasrat untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi juga mendorong isteri untuk bekerja. Berdasarkan prinsip ini dapat kita katakan bahawa : wanita berkerjaya adalah harus, bahkan kadang-kadang dituntut apabila terdapat keperluan yang mendorongnya. Umpamanya jika ia janda, diceraikan atau tidak pernah berkahwin dan ia tidak mempunyai sumber kewangan serta tidak mempunyai keluarga, sedangkan mampu melakukan sesuatu kerja yang boleh menampung keperluannya.

Kadangkala keluarganya pula memerlukan ia bekerja mendapatkan pendidikan anak-anak atau saudara maranya yang masih kecil mahupun untuk membantu bapanya yang sudah tua atau sebagainya. Kadangkala masyarakat itu sendiri memerlukan agar wanita itu bekerja umpamanya sebagai doktor, jururawat, guru dan seumpamanya yang berkaitan dengan wanita. Dan adalah lebih baik jika wanita bekerja dengan wanita seumpamanya bukan bersama lelaki. Menerima lelaki dibolehkan dalam keadaan tertentu yang termasuk dalam perkara darurat tetapi perlu dihadkan batasannya serta tidak dijadikan sebagai satu kaedah yang kekal.

Sebagai contoh, jika pengurus pejabat memilih seseorang wanita cantik kerana kecantikannya sedangkan berpuluh-puluh wanita yang kurang cantik tetapi lebih cekap dan lebih berpengalaman dengan tujuan untuk menjamu selera mata ketika di pejabat, maka tindakan itu tidak bijak dan tidak bertanggungjawab. Kalau seorang pengurus syarikat memilih wanita jelita bertujuan untuk menarik pelanggan ke kedainya maka dorongan tersebut turut tidak baik sebab ada tujuan seks dan cara melariskan perdagangan menurut cara yang salah.

Perkara-perkara yang disebutkan tadi sudah menjadi lumrah dalam tradisi moden. Inilah gejala-gejala yang mesti disingkirkan dan dibendung untuk mengawal ketenteraman masyarakat dan penting untuk mencari keredhaan Allah swt. Tradisi moden ini juga secara tidak langsung memberi pengaruh yang kuat supaya wanita-wanita Islam itu lebih berani dan lebih tidak malu untuk memasuki sebarang pertandingan yang merangkumi ratu cantik, ratu fesyen, ratu sukan, menari, bintang itu dan bintang ini dan sebagainya yang berunsur tidak sihat. Apabila gejala tidak sihat ini menular ke dalam masyarakat, tunggulah saat kehancurannya. Sejarah telah membuktikan bahawa kejatuhan Empayar Rom adalah kerana seks dan kehancuran moral.

Islam tidak melarang kaum wanita keluar untuk bekerja asalkan memenuhi syarat-syarat berikut :

1. Kerjaya tersebut mestilah dibenarkan oleh syarak dengan ertikata lain kerjaya tersebut tidak haram atau mendorong ke arah melakukan yang haram.

2. Mendapat keizinan daripada suami atau bapa (jika belum berkahwin).

3. Menjaga diri dan menutup aurat.

4. Menghindari pergaulan yang membawa kepada perkara maksiat seperti berkhalwat dengan lelaki yang bukan mahramnya.

5. Tidak mencuaikan tugas dan tanggungjawab terhadap suaminya atau tugas ibu terhadap anaknya.

6. Tidak menimbulkan keengganan mempunyai anak, seperti yang kita lihat dewasa ini yang mana kebanyakan perempuan tidak mahu mengandung atau beranak kerana merasa anak akan menyusahkan atau menghalangnya untuk bekerja.
Masalah Semasa Mengenai Hak dan Kewajipan Wanita

Pada abad ke21 ini telah menjadi perbincangan hangat terutama di kalangan negara-negara dan masyarakat Islam yang sedang membangun dan maju seperti Malaysia, Indonesia, Pakistan dan negara-negara Arab. Di kalangan negara-negara Eropah, Amerika, Jepun, Russia dan China, persoalan ini tidaklah begitu hangat kerana mereka telah menyamakan atau hampir menyamakan dengan hak-hak, kedudukan dan kegiatan kaum lelaki. Tetapi perkara yang hendak dibincangkan di sini ialah… patutkah negara dan masyarakat Islam meniru atau mencontohi langkah-langkah negara barat dan sebagainya yang telah memberi hak begitu luas kepada wanita dalam segala kegiatan?

Apakah kebebasan wanita di Eropah dan sebagainya itu benar-benar dan dapat memberikan sumbangan kepada kemajuan dan keamanan di dunia atau sebaliknya? Dan adakah hak-hak wanita yang diberi oleh Islam belum cukup untuk membangun kemajuan yang tulen? Inilah pertanyaan yang belum diberi jawapan dengan tegas sebab tujuan kita ialah mencari kebenaran dan mencari prinsip-prinsip yang sihat bagi pembangunan dan kesejahteraan umat manusia seluruhnya.

Duni sekarang sangat berbeza dengan dunia 100 tahun yang lalu kerana wujudnya kemajuan perhubungan kenderaan, sains dan teknologi yang menjadikan ratusan negara di dunia sekarang memerlukan wanita untuk memenuhi kerjaya. Setelah kaum wanita di Barat dan negara-negara yang sealiran dengannya keluar bekerjamencari sara hidup, pihak kapitalis mengambil peluang menggunakan tenaga wanita di kilang-kilang perusahaan dan perindustrian, kerana tenaga mereka lebih murah daripada tenaga lelaki sedangkan kaum lelaki meminta gaji yang lebih.

Wanita barat dan wanita timur menuntut hak demokrasi dan hak persamaan dengan lelaki dan yang terpenting sekali ialah persamaan gaji untuk makan dan hidup. Di samping itu hendaklah diinsafi bahawa barat mengutamakn perempuan dalam bidang-bidang pekerjaan yang tertentu terutama di gedung-gedung perdagangan, kedai solek dan pakaian, di kedutaan, pejabat Konsul, di gedung akhbar, radio dan televisyen, di syarikat iklan, bank dan sebagainya mempunyai tujuan udang di sebalik batu iaitu hendak melariskan perniagaan dengan menggunakan tenaga wanita yang murah.

Hakikat ini sama dengan sikap sesetengah akhbar atau majalah yang memuatkan gambar-gambar perempuan yang jelita atau gambar yang bercorak seks bertujuan melariskan akhbar dan majalahnya. Inilah taktik licik dan murah yang harus disedari oleh wanita-wanita Islam di dunia hari ini. Perjuangan orang barat dan sesetengah golongan di negara kita untuk membuat revolusi mental dan membebaskan kaum wanita yang pada dasarnya mendorong kepada gejala tidak sihat dan merendahkan taraf wanita sendiri. Barat yang kononnya melaungkan memperjuangkan hak wanita sebenarnya merekalah yang merendahkan martabat wanita. Mereka membiarkan pelacuran berleluasa, wanita berkahwin dengan wanita, wanita dijadikan alat komersial, hiburan dan sebagainya.

Negara-negara Komunis pula telah mencanangkan slogan iaitu menyamakan lelaki dan perempuan dalam segala bidang. Wanita Islam hendaklah menyedari bahawa hak mereka telah dijamin oleh Islam sejak 14 abad yang lalu tetapi Islam mengutamakan sesetengah pekerjaan yang mempunyai matlamat yang sangat besar dan tinggi iaitu mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat dengan mematuhi segala suruhan dan menjauhi segala larangan Allah swt agar mendapat keredhaan dan kesejahteraan dan matlamat inilah yang paling besar, lebih murni daripada harta benda atau kebendaan yang dicari.

Pembentukan Wanita Solehah

“Dunia adalah tempatnya kenikmatan dan seindah-indah kenikmatan (kesenangan) adalah wanita solehah.” Demikian hadith Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim. Sabda Rasulullah yang bermaksud : “Wanita itu tiang negara, bila dia (wanita) baik, maka baiklah negara itu, tetapi bila dia rosak, maka rosak pulalah negara itu.”

Wanita adalah kunci yang digunakan oleh Syaitan untuk memperalatkan manusia terutamanya lelaki. Sejarah telah membuktikan hal tersebut iaitu tatkala syaitan gagal menggoda Adam as, secara langsung diperalatkan Hawa untuk merayu suaminya agar memakan ‘Khuldi’ buah terlarang. Maka terjadilah pelanggaran terhadap larangan Allah. Dewasa ini anak cucu Adam-Hawa berlumba-lumba menjadi pengikut syaitan, sering berlaku kejadian membunuh, merompak atau menggelapkan wang amanah dan sebagainya kebanyakannya gara-gara memenuhi tuntutan seorang wanita.Dari itu Islam mengarahkan kaum wanita dan meletakkan wanita sesuai dengan kudratnya untuk melahirkan sifat mulia yang mempunyai identiti tersendiri yang dalam erti kata iaitu memiliki ciri-ciri Wanita Solehah.

Siapakah Wanita Solehah Itu?

Wanita solehah adalah wanita yang cantik lahir dan batin, ia memiliki kecantikan yang asli atau ideal iaitu secara fizikal, darah daging dan tulang belulangnya bersih dari benda-benda haram sedangkan batinnya pula bersih dari kekotoran jiwa. Dalam hal ini kita perlu mengetahui bagaimanakah ukuran kecantikan menurut Allah dan Rasul, bukan menurut penilaian kaum wanita seperti dalam pertandingan ratu cantik yang pada hakikatnya adalah pertandingan wanita buruk dan menjijikkan. Kecantikan versi ini namanya adalah kecantikan palsu, kecantikan yang hanya membawa bencana terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.

Islam mengukur kecantikan itu dari semua unsur iaitu unsur batiniah dan lahiriah. Batin wanita cantik adalah apabila tersembunyi di sebalik fizikalnya, jiwa yang pasrah, taat dan tunduk terhadap semua ketentuan Allah dan RasulNya dan bersih dari segala unsur yang bertentangan dengan hukum Allah. Dalam hal inilah Islam meletakkan ukuran kecantikan wanita, bukan pada raut wajahnya.

Manakala kecantikan yang ideal ialah kecantikan yang sempurna lahir dan batin. Bentuk fizik yang menawan seperti yang dimiliki oleh Nabi Yusuf as atau nabi Muhammad saw atau para isteri mereka seperti Zulaikha, Aisyah dan lain-lain. Sehubungan dengan itu, setiap muslim harus menghiasi diri dengan seindah-indah pekerti baik lahir mahupun batin untuk mengecapi nikmat cantik ideal seperti Nabi Yusuf dan Zulaikha. Manusia cantik ideal ialah manusia yang secara fizikal kelihatan demikian indah dipandang mata dan bersih darah daging dan tulang belulangnya dari benda-benda yang haram, sementara jiwanya sentiasa disirami wahyu sehingga nafasnya adalah zikrullah, pandangannya adalah pandangan wahyu dan jalan hidupnya bagaikan al-Quran yang sedang berjalan.

Ciri-ciri Wanita Solehah

Istilah solehah adalah sebaik-baik jolokan terhadap wanita. Tidak sebarang wanita berhak untuk menyandang sebutan tersebut. Firman Allah swt dalam surah an-Nisa’ ayat 3 yang bermaksud : “Kerana wanita yang solehah adalah wanita yang taat beribadah kepada Allah dan taat kepada suaminya sebagaimana Allah telah menjaga dirinya…”

Berpandukan firman Allah tadi, gelaran wanita solehah hanya diberikan kepada wanita yang mempunyai ciri-ciri wanita yang taat kepada Allah dan taat kepada suaminya. Namun begitu, taat kepada Allah adalah ciri wanita secara umum manakala taat kepada suami merupakan ciri khas bagi wanita yang telah bersuami.

a) Taat kepada Allah dan Rasul

Sebenarnya taat kepada Allah dan taat kepada Rasul bermaksud juga taat pada segala perintah Allah dan RasulNya. Tentang taat kepada Allah juga iaitu mengakuiNya sebagai pencipta dan mengakui sumber dari segala hukum yang diturunkan (al-Quran). Antara ciri taat kepada Allah dan Rasul dapat dihuraikan seperti berikut :

1. Melebihkan cinta terhadap Allah dan Rasul lebih dari cintakan keduniaan. Firman Allah swt yang bermaksud : “Katakanlah jika bapa-bapa kamu, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatir kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih dari kamu cintakan Allah dan RasulNya dan berjihad di jalanNya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

2. Menutup aurat dan tidak berhias untuk mempamerkan kecantikan melainkan dalam kesederhanaan. Salah satu identiti ataupun ciri wanita solehah adalah berpakaian taqwa, penampilannya sederhana, sopan, tidak sukakan glamour dan jauh dari sifat suka menunjuk. Menutup aurat adalah wajib berdasarkan perintah Allah yang bermaksud : “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasan kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka…”

Berdasarkan isyarat al-Quran dan Hadith serta pendapat ulama Islam menetapkan bahawa pakaian muslimah harus memenuhi syarat-syarat berikut :

* Pakaian itu harus menutup aurat
* Pakaian itu tidak terlalu nipis sehingga nampak terbayang bahagian tubuh dari luar

* Pakaian tidak ketat dan sempit tetapi longgar
* Warna pakaian yang suram atau gelap seperti warna hitam, kelabu atau coklat
* Tidak memakai haruman yang semerbak
* Pakaian tidak menyerupai lelaki
* Pakaian tidak menyerupai model pakaian kafir
* Pakaian bukan untuk bermegah atau menunjuk-nunjuk

3. Tidak berhias dan bertingkah laku seperti wanita jahiliyyah. Maksud tersebut iaitu perempuan-perempuan jahiliyyah Arab keluar rumah dengan menampakkan perhiasan dan keindahan tubuh serta berjalan bergaya berlenggang-lenggok, bermegah-megah dan berpakaian yang menjolok pandangan lelaki.

4. Tidak berkeliaran atau berjalan bersendirian dan tidak pula bersama lelaki yang bukan mahramnya. Seseorang wanita tidak boleh keluar mempunyai keperluan yang dibenarkan oleh syarak seperti menuntut ilmu, menziarahi kaum kerabat, kawan dan sanak saudara (silaturrahim). Dan mestilah keluar dengan mahramnya kerana untuk mengelakkan fitnah.

5. Selalu membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa. Maksud tersebut iaitu berperanan dan membantu dalam perkara ‘amar ma’ruf dan nahi mungkar’.

6. Berbuat baik kepada kedua ibu bapa iaitu menunjukkan sikap sopan santun dan akhlak yang mulia kepada keduanya, tidak menyinggung perasaannya, tidak menentangnya sekalipun terhadap perbezaan fahaman. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Keredhaan Allah terletak pada keredhaan kedua ibu bapa dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan kedua ibu bapa.”

7. Sentiasa berbelanja atau memanfaatkan rezeki ke arah yang baik sama ada dalam keadaan sempit mahupun dalam keadaan lapang. Di dalam al-Quran ada menyatakan bahawa orang yang bertaqwa adalah orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu sempit mahupun di waktu lapang, dan begitulah seharusnya wanita yang solehah selalu menafkahkan harta dengan sedekah walaupun di waktu sempit.

8. Tidak berduaduaan dengan lelaki asing (bukan mahram). Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Janganlah sesekali seorang lelaki bersendirian dengan seorang wanita (di suatu tempat) melainkan wanita itu harus ditemani oleh mahramnya.”

9. Bersikap dan berbuat baik dengan tetangga. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Tidak seseorang itu dinamakan mukmin yang perutnya kenyang sedang tetangganya dalam kelaparan.”

b) Taat kepada Suami

1. Menjalankan kewajipan dan tanggungjawab terhadap suami. Bagi wanita yang telah bersuami, nilai ketaatannya kiukur oleh Allah swt mengikut seberapa banyak dia dapat menjalankan kewajipannya terhadap suami. Menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh keikhlasan, maka itulah yang mendapat balasan baik sebagaimana sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Jika seseorang isteri menjaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada suaminya maka dipersilakan masuk ke syurga dari pintu mana saja yang kamu suka.” Dan dalam riwayat lain “Tiap-tiap isteri yang mati diredhai oleh suaminya maka ia akan masuk syurga.” Jadi seorang wanita yang telah berkahwin maka yang paling berhak terhadap dirinya ialah suaminya melebihi bapa dan ibu serta keluarga yang lain.

2. Sentiasa menyenangkan suami dan kasih sayang terhadap anak-anak. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sukakah aku ceritakan bakal isterimu di syurga? Jawab sahabat : “Baiklah ya Rasulullah. Maka sabda Nabi saw : “Iaitu setiap isteri yang kasih sayang dan banyak anak, dan bila ia marah, diganggu atau dimarahi suaminya, lalu ia berkata : inilah tanganku, terserah padamu, saya tidak akan dapat tidur hingga engkau rela padaku.” Isteri yang solehah tidak akan mengganggu suaminya yang mengakibatkan kesusahan, tetapi dia berusaha menghilangkan kesusahan suami dan berusaha membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

3. Menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya bila suami tiada di rumah. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sebaik-baik wanita ialah jika kamu pandang, ia menyenangkan kamu, jika kau perintah, ia mentaatimu, jika kau tinggalkan ia menjaga hartamu dan menjaga dirinya.”

4. Tidak membantah perintah suami dalam perkara kebenaran dan tidak menolak bila suami mengajaknya tidur. Sabda Rasulullah saw yang bremaksud : “Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, tiada seorang suami yang mengajak isterinya tidur bersama di tempat tidur, tiba-tiba ditolak oleh isterinya, maka malaikat yang di langit akan murka kepada si isteri hingga dimaafkan oleh isterinya.”

5. Tidak keluar ruah tanpa izin suaminya. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Tiap isteri yang keluar rumah tanpa izin suaminya, tetap berada dalam kemurkaan Allah sehingga kembali ke rumahnya atau dimaafkan oleh suaminya.”

6. Tidak meremahkan pemberian suami dan menutup rapat rahsia keluarga serta tidak mencai-cari alasan untuk bercerai. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Tiap isteri yang minta cerai dengan suaminya (tanpa alasan yang dibenarkan) maka haram atasnya bau syurga.”

7. Tidak mengeraskan suara melebihi suara suaminya. Wanita yang solehah apabila berbicara dengan suaminya ia akan menunjukkan sifat kasih sayang, dengan bahasa yang lemah lembut dan sopan santun. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Sesungguhnya apabila seorang suami memandang isterinya dan isteri membalas pandangan dengan penuh kasih sayang dan cinta, maka Allah memandang mereka dengan pandangan kasih mesra, jika suami membelai tangan isterinya, maka dosa mereka berguguran di celah-celah jari tangan mereka.”

8. Tidak menerima tetamu yang dibenci suaminya ke dalam rumah apa lagi bermesraan dengan lelaki lain. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Tidak dihalalkan bagi seseorang isteri yang beriman kepada Allah untuk mengizinkan seseorang masuk ke ru mah suaminya padahal suaminya benci dan tidak dihalalkan dia keluar padahal suaminya tidak senang.”

9. Sentiasa memelihara diri, kebersihan fizikal dan kecantikannya serta kebersihan rumahtangga. Semua suami pada umumnya sukakan kecantikan, kebersihan, kelembutan dan kesetiaan. Isteri yang solehah juga adalah isteri yang dapat mempersembahkan keadaan-keadaan yang disebutkan tadi terhadap suaminya.

Written and compiled by : Sanaa 15/07/10

Mari Kita Speku

Sang Pencerita gagal untuk lena
Kerana asyik teringat apa yang teman kata
Nak di speku tak tahu hujung pangkalnya
Jadi marilah kita speku bersama-sama

Wajah manis Nur Amina namanya
Isteri Adam yang cantik dan manja
Cinta hakiki adalah milik berdua
Perselisihan faham adalah adat dalam rumahtangga

NKTM adalah movie yang di adaptasi
Nur Kasih setahun sudah berlalu pergi
Kabarnya NKTM lapan tahun selepas ini
Tentunya banyak yang telah terjadi

Adam Nur Aidil ke Jordan telah di ketahui
Pastinya Adam dan Nur menjejak cinta hakiki
Aidil pula menggamit memori
Bertemu Aliya isteri yang di cintai

Adam di pusara seorang diri
Kehilangan Katrina amat di rasai
Walaupun cinta tiada lagi di hati
Di kenang juga sewaktu menjadi suami isteri

Mak Jah dan Nur nampak sendu
Sebelum ku speku nak juga bertanya dahulu
Aliya ada tak kelihatan di situ
Kalau tiada dua atau tiga perkara boleh di speku

Kemalangan terjadi meragut nyawa
Anak atau isteri yang menjadi mangsa
Kita andai mereka ada zuriat bersama
Di mana Adam tidak nampak bersama mereka

Tidak mungkin ada lagi rasa curiga
Di antara Adam dan Aidil adanya
Dugaan dan cabaran tidak lari kemana
Sebagai manusia hidup di dunia yang fana

Adam dan Nur ada ujian tersendiri
Bahagia bersama dugaan di tempuhi
Perasa kehidupan lengkap di beri
Oleh Allah Yang Maha mengetahui

Speku yang boleh di andaikan kini
Adam dan Nur sentiasa di uji
Tak tahulah kalau ada orang ketiga lagi
Aidil pula kehilangan anak atau isteri yang di cintai

Buat masa ini belum teruja lagi
Hanya teruja kerana cjoli moli
Cerita melayu kalau watak tak mati kaya melangit tinggi
At the end keluar panggung masing-masing tak puas hati

From the pantun yang teman ku beri
Agak sukar nak speku…teman ku kena teropong lagi
Sedikit andaian yang ku beri di sini
Hanya firasat janganlah percaya tunggu tayangannya nanti

Segala yang di tulis melalui pengalaman
Kerana itu cerita melayu tidak jadi kegemaran
It is so easy for a storyline
At the end mungkin akan menghampakan

From experience sequel jarang dapat sambutan
It is a flop or a disaster base on tayangan
Even Hollywood gagal mempertahankan
Kerana itu telah di katakan ini adalah penamat tiada sambungan

Tunggulah hari tayangan
Ku mohon maaf kerana mengikut perasaan
Kekecewaan yang ada masih berputaran
Seeing is believing itu jadi pegangan

*****

Note:

Sequel atau adaptation perlu penelitian dalam storyline supaya dapat meresap dalam jiwa penonton dan tidak akan di bandingkan dengan cerita asal. Kegagalan sequel telah banyak di perkatakan dan kerana itu penulis script Nur Kasih di katakan cuba sedaya upaya mengimbangi kehendak penonton dan jalan cerita. Teringat saya semasa di forum di pertikaikan juga kenapa Katrina di kebumikan di kampung dan tidak di Kuala Lumpur saja kerana meninggalnya di Kuala Lumpur.

Andaikata NKTM di buat kerana ingin memuaskan penonton dan menjawab segala persoalan yang timbul sewaktu Nur Kasih ini adalah langkah yang salah kerana ada perkara yang boleh di ubah dan ada perkara should stay the way it is dan seandainya juga kalau terlalu banyak adegan airmata dan masih menonjolkan Nur Amina yang terlalu kuat menghadapi cabaran serta Adam yang lemah dalam segala hal it does not serve any good for the movie kerana life as such ada masam, masin, manis, pahit, suka, duka, bahagia, gembira dan banyak lagi.

Sequel jarang mendapat tempat di hati penonton walaupun di katakan hebat tapi masih gagal menandingi kehebatan cerita asal and this is a fact even Hollywood pun sama. Oleh kerana penulis script dan pengarah adalah orang yang berpengalaman di dalam industri ini dan semestinya mereka tahu kesan yang ada, kerana itu saya membuat andaian di atas statement yang pernah di keluarkan iaitu inilah penamat cinta Adam dan Nur, tiada sambungan selepas ini.

Sama-samalah kita tunggu sejauh mana NKTM dapat mengatasi Nur Kasih.

Owned and written by : Sanaa 12/07/10

Hanya Jauhari Mengenal Manikam

Kehidupan dalam dunia yang mencabar ini amat memeritkan. Kekuatan fikiran dan perasaan amat penting bagi menghadapi segala cabaran dan dugaan dalam kehidupan. Tanpa kekuatan iman manusia boleh melakukan apa saja demi memenuhi segala keperluan dan kehendak duniawi. Hasad dengki, cemburu, irihati, khianat adalah contoh-contoh penyakit hati yang makin menular di kalangan umat manusia di dunia ini dan lebih ketara rasanya di kalangan orang Melayu dan beragama Islam. Semua orang punya keinginan untuk berjaya, memiliki barangan yang mewah dan cantik serta banyak lagi dan untuk mencapai segala keinginan itu kita di nasihatkan supaya bekerja keras dan bersabar sementara ia berhasil. Namun ada usaha cepat berhasil dan berkeuntungan dan ada juga usaha yang lambat hasilnya, di sini kesabaran dan kecekalan adalah segalanya. Berapa ramai pula di antara kita yang mampu menghadapi dugaan dan cabaran yang datang satu persatu sebelum kejayaan di raih? Tidak kira apapun pangkat dan darjat, kita terdedah kepada bermacam cabaran dan dugaan selagi kita bernama manusia dan ujian Allah datang dalam berbagai bentuk dan keadaan. Bagi kita orang biasa yang tidak di kenali ramai, baik atau jahatnya seseorang individu tidak akan di pertikaikan kecuali muka dan apa yang kita hadapi terpampang di dada akhbar. Adalah sebaliknya kalau kita berada di dalam golongan yang di kenali seperti ahli-ahli politik, perniagaan dan juga tidak ketinggalan dunia hiburan segala pergerakan diri akan jadi perhatian semua. Wartawan hiburan adalah di antara individu yang amat sibuk sekali jika sebarang kejadian berlaku di kalangan artis.

Gossip, tohmahan dan juga fitnah akan di lemparkan kepada ahli-ahli dunia hiburan, perniagaan dan juga politik membuat saya sering bertanya; kenapa segala cerita ini tersiar atau di lemparkan? Yang lebih menariknya hanya segelintir sahaja penyanyi atau pelakon yang selalu jadi bahan gossip dan yang anehnya juga pelakon atau penyanyi yang betul-betul membuat perkara yang tidak senonoh ini tidak pula di kutuk dan di kecam atau di gossip. Teringat pula pada peribahasa “Kalau tiada angin masakan pohon bergoyang”. Namun sejauh mana kebenaran di sebalik semuanya ini? Melalui pengalaman sedikit sebanyak sepanjang menjalani kehidupan di dunia ini, majalah, akhbar dan sekarang dunia cyber menjadi punca utama rakyat di dunia ini mendapatkan berita semasa dan terkini. Jualan terhebat dan highest google akan berlaku bila ada cerita-cerita artis yang sensasi dan menjadi kegilaan semua walaupun tidak di nafikan perkara yang sama berlaku bila perkara yang baik di hebahkan. Adakah ini strategy pihak pengeluar media cetak dan cyber untuk meraih jualan tertinggi dan keuntungan atau terselit segala penyakit hati yang di nyatakan awal tadi? Sesetengah artis menggunakan gossip sebagai jalan untuk menaikan nama mereka dan ada juga golongan yang terperangkap dalam gossip kerana fitnah yang di buat oleh rakan artis sendiri demi untuk menjatuhkan maruah mereka. Kebenaran dan kesahihan cerita adalah milik tuan empunya diri. Kita yang di kurniakan akal dan fikiran oleh Allah ini sepatutnya mampu berfikir serta melihat keadaan yang berlaku dengan sebaik-baiknya dan akhirnya akan membuat tafsiran sendiri. Maka timbul kembali pertanyaan kenapa orang berkata? Pasti setiap yang berlaku ada pencetusnya samada di sedari ataupun tidak. Kadang-kadang kita berada di satu keadaan secara kebetulan atau demi memenuhi ajakan rakan lalu kita di panggil mangsa keadaan namun tahukah kita niat atau hajat rakan yang membawa kita ke tempat itu. “Kerana kerbau seekor terpalit lumpur habis semua kena” akan tetapi pernah atau tidak kita bertanya diri sendiri sebelum kita berkata ya…samada tempat yang di tuju itu elok atau tidak, baik untuk diri sendiri ataupun tidak dan sebagainya? Memang benar kita mangsa keadaan tapi orang tua selalu berkata dan berpesan segala apa yang berlaku ke atas diri adalah dari keputusan yang di ambil sendiri…sejauh manakah betul perkara ini? Namun yang pasti pengalaman mendewasakan kita dan juga mengajar kita untuk berhati-hati di lain kali seandainya kita ingin dan mahu mengambil iktibar dari segalanya.

Beberapa minggu yang lalu kita semua pasti mendengar, membaca dan bergossip juga perkara yang menimpa Tiz Zaqyah dan tuduhan yang di lemparkan kepadanya oleh “kawan sendiri”, Fasha Sanda yang dalam dunia hiburan memang terkenal dengan hati busuk dan perangai buruknya (mengikut apa yang saya baca dan juga komen-komen yang ada) dan tiba-tiba semalam kata Fasha No Comment and semua dah selesai. Orang yang terlibat sama dalam perkara ini adalah teman lelaki Fasha yang di kenali sebagai Jejai. Selain daripada kes ini banyak lagi kes-kes yang di alami oleh pelakon dan penyanyi tanahair. Apakah semudah itu Fasha menyelesaikan segalanya? Di mana maruah diri di letakan sebelum, sedang dan sesudah rencana di tulis? Bukan saya hendak memihak kepada Tiz Zaqyah namun penampilan diri, latar belakang keluarga, minat serta citarasa, kawan-kawan yang di dampingi, tutur bicara yang sopan sedikit sebanyak mempengaruhi fikiran umum tentang dirinya. Walaupun baru berjinak dengan dunia hiburan Tiz mampu berfikir dengan matang apa yang baik untuk dirinya ataupun sebaliknya. Kematangan fikiran juga tunggak utama dalam kita menjalani kehidupan. Ada orang yang beruntung dalam hidup dan ada juga tidak dan kita tidak boleh memilih siapa ibubapa kita namun dengan akal yang di kurniakan oleh Allah kita sepatutnya tahu hala tuju hidup walaupun dalam keadaan yang amat perit dan derita. Sesetengah daripada kita terpaksa berlawan arus, ombak dan badai untuk mendapat apa yang di inginkan dan kejayaan yang hadir pasti satu kebahagian dan ada juga menggunakan jalan pintas dalam hal begini dan kebahagian yang ada cuma sebentar sahaja. Jalan pintas yang paling senang dan mudah adalah menabur fitnah dan menyakinkan semua apa yang di katakan adalah benar sebenar-benarnya. Siapakah yang bersalah? Yang menabur fitnah atau yang menerima fitnah yang di taburkan? Kedua-duanya bersalah kerana penyakit hati memang bersarang dalam diri sehingga kita tidak mampu menilai atau mengkaji logik dan reality dengan cerita atau berita yang di sebarkan. Yang terkena fitnah dengan berkat kesabaran dan rajin mencuci hati Insha’Allah kehidupan mereka akan lebih berkat, rezeki bertambah, wajah yang bersih, ceria, bahagia dan kebenaran pasti berpihak padanya jua.

Kita memang tidak boleh lari dari perasaan hasad dengki, cemburu, iri hati dan sebagainya namun ia akan menjadi perkara yang baik kalau dengan cemburu yang ada kita gunakan untuk memperbaiki diri dan berusaha ke arah kejayaan tapi sejauh mana kita mampu menggunakan cara ini? Memang benar lama-kelamaan kes Fasha dan Tiz akan senyap begitu saja tapi adakah ini membawa keinsafan dalam dirinya (Fasha), kita sebagai pembaca dan pendengar serta orang sekeliling, kerana apa yang saya lihat hari ini setelah tersebarnya berita ‘no comment’ itu hampir keseluruhan media cyber dalam bentuk forum mengutuk Fasha habis-habisan. Apakah ini akan meninggalkan kesan dalam dirinya yang telah terlalu biasa dengan gossip dan menyebar cerita palsu. Apakah kita mampu mendidik orang seperti Fasha dan seangkatan dengannya untuk meyembuh penyakit hati yang bersarang dan bertapak dalam diri? Seorang ustazah yang saya kenali mengaku yang dirinya tidak mampu berkata yang dia tidak pernah rasa cemburu atau iri hati namun dengan sedikit bekalan yang ada beliau mendidik hati dan jiwa untuk bersyukur dengan nikmat yang di beri. Banyak yang mesti kita berterima kasih dengan Allah dari nafas yang kita sedut, udara yang segar, hujan dan matahari yang tidak pernah kita fikir besarnya sumbangan kepada kehidupan setiap insan di dunia ini namun berapa ramaikah bilangan yang mengucapkan syukur setiap pagi semasa bangun dari tidur dan juga sebelum kita melelapkan mata. Yang sentiasa kita fikir adalah rancangan esok dan segala sumpah seranah dalam diri untuk orang-orang yang kita benci dan mulakan strategi bagaimana untuk menghapuskan mereka ini. Amat malang bagi mereka yang mempunyai penyakit hati yang tidak boleh di ubati oleh mana-mana pakar perubatan, ia hanya akan sembuh dengan selawat, istighfar, wirid serta zikir. Bacaan bismillah sebagai pembuka kata pada setiap pekerjaan yang hendak kita lakukan, Alhamdulillah setelah ia selesai dan Allah Hu Akhbar mengangkat syukur kehadrat Allah dan minta di ringankan segala bebanan. Ada juga orang berkata dan bertanya apakah sama doa dan permintaan kita kepada Allah ketika dalam kesusahan dan mengucapkan syukur ketika doa dan permintaan di makbulkan?

Adakah penyakit hati merupakan penyakit keturunan? Telah saya bertanya kepada ramai namun jawapan ini amat payah di temui. Untuk saya membuat andaian sendiri memang tidak wajar tapi sekali lagi pengalaman membuktikan ia berlaku dalam salasilah keluarga walaupun tidak semua ahli keluarga mewarisinya. Terhimpit di antara keadaan ini menjadikan saya belajar perkataan baru iaitu pura-pura. Kadang-kadang keadaan memaksa kita berpura-pura bila berada di dalam kelompok orang yang ada penyakit hati dan jiwa ini kerana cara mereka amat halus yang mungkin tidak dapat kita rasakan dan lihat dengan mata kasar. Dalam diam dan halus mereka menyakiti orang lain dan merasa puas bila melihat orang lain menangis ataupun menahan marah. Ini juga merupakan satu lagi penyakit hati yang tidak kita sedari atau sukar untuk kita mengenalinya. Sewaktu zaman saya anak-anak dulu yang sering terdengar cerita, adalah seperti orang sebelah beli TV 14 inci orang sebelah sana pulak beli TV 16 inci dan yang paling saya ingat bila surirumah megah menunjukan gelang emas yang sampai sekerat lengan banyaknya dan nenek saya berkata baguslah nanti beli pulak rantai yang tebal dan besar macam tali ikat lembu. Bila di kenang dan di ingat perkara ini memang dah lama cuma trend penyakit hati berubah mengikut zaman. Sekarang adanya teknologi tak perlu lagi nak singgah di rumah jiran tetangga, kalau dulu emas sekati sepikul jadi cerita, sekarang ambil suami orang pula dan jumlah wang ringgit juga jadi berjuta-juta. Bilakah nak berakhir semuanya ini? ataupun tanda-tanda akhir zaman kian hampir di mana perempuan ingin jadi lelaki, lelaki ingin jadi perempuan, perempuan dah tidak ada adab sopan kerana itu bila ada seorang bintang baru yang bersinar penuh dengan ciri-ciri ketimuran lalu menjadi tarikan ramai, ramai pulalah yang berhati dengki dan mulalah segala perang di sana sini.

Dari manakah punca penyakit hati? Adakah kerana didikan yang ada tidak cukup untuk kita membuka hati menerima segala dugaan dengan kesabaran atau ia memang tertanam dalam jiwa setiap insan? “Hanya Jauhari Yang Mengenal Manikam”

*************************************************************************************
TEKS KHUTBAH JUMAAT MASJID
SELURUH NEGERI MELAKA

TAJUK: HAWA NAFSU DORONG PENYAKIT HATI
TARIKH: 5 JANUARI 2001

Sidang jumaat yang dirahmati Allah,

Ketinggian dan kemuliaan seseorang manusia menurut Islam bukan diukur berdasarkan kekayaan, pangkat atau keturunan yang dimilikinya.

Akan tetapi ia dilihat dari sudut ketakwaannya kepada Allah subhanahua ta’ala disamping melihat kepada kesucian hatinya yang bebas daripada segala sifat mazmumah.

Rasulullah s.a.w. menjelaskan perkara ini ketika ditanya oleh seorang sahabat ‘’ wahai Rasulullah s.a.w. siapakah manusia yang terbaik ?’ jawab baginda s.a.w. orang mukmin yang bersih hatinya ? tanya sahabat lagi ‘ apakah maksud orang yang bersih hatinya itu? ‘ jawab baginda s.a.w. ialah yang bertakwa, bersih yakni tidak ada kederhakaan, pengkhianatan , dendam dan kedengkian ‘ riwayat Ibnu Majjah.

Seseorang yang tipis dan tidak kuat imannya akan mudah dihinggapi penyakit hati, kerana penyakit ini muncul dari dorongan hawa nafsu yang jahat dan hasil dari godaan syaitan yang sentiasa ingin menyesatkan manusia .

(1) Hasad Dengki

Islam sangat mencela sifat dengki atau hasad. Sifat ini biasanya lahir dari seseorang yang tidak menyenangi sesuatu kelebihan atau nikmat yang ada pada orang lain. Golongan ini akan berusaha untuk mendapatkan kelebihan orang itu supaya nikmat itu berpindah kepadanya. Sifat dengki ini boleh menjangkiti sesiapa sahaja samada mereka yang kaya dan kukuh ekonominya atau mereka yang kurang berada. Bagi yang kurang berada, kemampuan mereka terbatas dan kadang-kadang tidak memungkinkan untuk mereka mencapai sesuatu yang dihajati.

Lantaran apa yang dicita-citakan untuk menjadi seperti orang lain tidak tercapai, maka yang timbul ialah menaruh sifat irihati dan dengki terhadap mereka yang lebih beruntung dari mereka, sifat ini juga boleh menjangkiti golongan yang berada. Mereka tidak mahu kekayaan diperolehi kepada orang lain yang kadang-kadang jiran atau saudara mara mereka sendiri. Lebih membimbangkan lagi ialah sifat dengki ini boleh membawa seseorang kepada perlakuan tidak adil atau berlaku zalim terhadap sesama manusia. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud : ‘ jauhkan diri kamu dari hasad dengki sesungguhnya hasad merosakkan amalan kebaikan sebagaimana api memakan kayu kering ‘.

(2) Sifat Khianat

Sifat khianat boleh dianggap sebagai teman akrab dengan penyakit dengki kerana kedua-duanya lahir dari hati manusia yang kotor lantaran sangat lemah keimanannya. Wujudnya sifat khianat dalam masyarakat disebabkan oleh cuainya individu dalam menjaga amanah orang lain. Ia timbul disebabkan rasa tidak senang apabila orang lain dianugerahkan nikmat atau rezeki oleh Allah subhanahua ta’ala. Khianat ialah satu sifat yang sangat berbahaya kerana boleh berlaku dalam pelbagai aspek kehidupan, khianat-mengkhianati boleh timbul di antara suami isteri dalam kehidupan rumahtangga, boleh berlaku di antara adik-beradik, jiran tetangga, teman sekeluarga, juga wujud dalam hal perdagangan, politik dalam aspek kehidupan yang lain.

Perbuatan khianat ini juga boleh berlaku baik secara terang-terangan mahupun secara sembunyi. Kita sering mendengar istilah seperti musuh dalam selimut, gunting dalam lipatan, pagar makan padi ‘ yang mana semua itu ditujukan kepada orang yang melakukan pengkhianatan secara sembunyi atau rahsia. Apa yang jelas ialah sifat khianat ini sangat dimurkai Allah subhanahua ta’ala. Orang yang memiliki sifat ini sesungguhnya tidak memberi apa-apa keuntungan pun. Apa yang pasti hanyalah kerugian kerana tidak menemui ketenangan dan kedamaian hidup sebaliknya sentiasa resah gelisah. Juga ia termasuk dalam golongan orang munafik seperti sabda nabi yang bermaksud : ‘ tanda orang munafik ada tiga apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji dia mungkiri, apabila diamanahkan dia khianat ‘.

(3) Riya’

Riya’ adalah sifat yang juga sangat merbahaya kerana boleh menghapuskan segala kebajikan atau amal soleh yang telah dikerjakan oleh seseorang sehingga tidak bernilai disisi Allah subhanahua ta’ala. Orang yang riya’ membuat ibadah atau apa sahaja amalan bukan untuk mengharapkan keredhaan Allah subhanua ta’ala bahkan kerana mengharapkan pujian dan penilaian dari manusia.

Firman Allah ta’ala : maksudnya ; maka celakalah bagi orang-orang yang solat, iaitu orang-orang yang lalai dari solatnya, orang-orang yang berkeadaan riya’

Dalam mengerjakan apa jua bentuk amal soleh atau beribadat kepada Allah subhanahua ta’ala jika didasarkan kepada riya’ maka akan sia-sialah ibadat itu. Sesungguhnya Allah subhanahua ta’ala memerintahkan hambanya agar beribadat dengan penuh ikhlas.

Firman Allah subhanahua ta’ala :-

Maksudnya :’ pada hal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya (ikhlas) dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mendirikan solat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus ‘ maka jelaslah, amalan yang didasarkan kepada riya’ itu tadi tidak akan mendapat pahala. Apa yang nyata ‘ riya’ tidak akan meninggalkan kesan positif kepada pelakunya. Orang riya’ yang tidak ikhlas biasanya amalannya atau budinya tidak kemana. Apabila tiada manusia yang memuji atau tidak mendapat pujian, orang yang riya’ itu akan berhenti dari beramal.

(4) Sifat Takbur

Takbur dan sombong adalah sifat yang sangat tercela dan dibenci oleh Allah subhanahua ta’ala. Ulama’ tasawuf menggolongkan sifat ini sebagai syirik kecil. Ini adalah kerana orang takbur itu merasa dirinya terlalu tinggi atau lebih hebat dari orang lain. Seseorang yang memiliki sifat takbur dan sombong akan membuat dirinya terlupa sebagai makhluk Allah subhanahua ta’ala yang serba lemah lagi banyak kekurangan. Perlu kita memahami, kalau sekiranya kita mempunyai ada kelebihan zahiriah pun, ia adalah diberikan oleh Allah subhanahua ta’ala dan hanya untuk kehidupan yang sementara sahaja di atas muka bumi ini.

Pada asalnya sifat sombong adalah sifat iblis yang dahulu tidak mahu sujud kepada nabi Adam di dalam syurga. Hal ini lantaran iblis beranggapan dirinya memiliki sifat kemuliaan iaitu iblis dijadikan dari api manakala Adam dari tanah.

Sifat-sifat tercela ini apabila wujud dalam sesebuah masyarakat bukan hanya akan membawa kerosakan dalam masyarakat tersebut, malah orang yang bersifat demikian pun turut menerima padahnya. Mudah-mudahan semua para muslimin terhindar dari sifat-sifat ini.

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 195 yang bermaksud : ‘ …Dan janganlah kamu sengaja mencampakkan diri kamu bahaya kebinasaan dengan sikap bakhil, dan baikilah dengan sebaik-baiknya segala usaha dan perbuatan kamu, kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha memperbaiki amalannya’

Sumber: Al-Azim.com

*****

From : myMetro 29th June 2010
(Bimbingan/Tazkirah Remaja)

Penyakit hati lebih bahaya

TUAN ada penyakit ke? Kalau ada tanda demam yang kuat cepat-cepatlah pergi berjumpa doktor. Mana tahu ada apa-apa, boleh bertindak awal kerana bimbang juga dengan kedatangan gelombang kedua H1N1 sekarang.

Hari ini ramai yang sanggup berbelanja besar demi kesihatan, sebab kesihatan sangat berharga. Bila ada saja yang sakit, pasti ramai yang bersimpati. Semakin moden dan canggih dunia, semakin cepat kita dapat penyakit dan semakin cepat juga kita mengesan penularan sesuatu penyakit.

Pun begitu, semakin canggih dan prihatin manusia terhadap kesihatannya, manusia masih lupa memberi perhatian terhadap penyakit hati yang jauh lebih bahaya daripada penyakit fizikal. Penyakit hatilah yang akan merosakkan keharmonian rumah tangga. Mengganggu suami isteri orang, maka berlakulah kecurangan dan lupa tanggungjawab.

Tidak memberi nafkah akhirnya berkecai rumah tangga. Anak jadi tidak keruan dan hilang kasih sayang. Bila hati sudah berpenyakit maka akan hilang rasa takut kepada Allah, merosot serta comot integriti, tidak lagi rasa diperhati, depan orang alim tetapi di belakang menjadi “maling”. Itu sekadar contoh kesan akibat penyakit hati yang terlalu banyak keburukannya. Siri kali ini penulis mahu bincangkan antara tanda penyakit hati. Kalau sudah ada tanda maka kena berhati-hatilah. Antara tanda penyakit hati tidak boleh dikesan sesiapa pun adalah:

1) Malas melakukan ketaatan dan amal kebaikan.
Malas menjalankan ibadah, bahkan meremehkannya pula. Contohnya melakukan solat bukan dengan “sengaja’ tetapi dengan tidak sengaja dan terpaksa.

Kalau buat pun tidak khusyuk dan ada kesungguhan. Mereka merasa berat untuk menjalankan ibadah sunnah. Allah berfirman yang bermaksud: “Dan mereka tidak mengerjakan solat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (Surah at-Taubah ayat 54). 2) Tidak tersentuh ayat al-Quran
Ketika disampaikan ayat berkenaan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyu atau tunduk dari membaca al-Quran dan mendengarnya.

Sedangkan Allah memperingatkan dalam al-Quran yang bermaksud: “Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Surah Qaaf ayat 45). 3) Tidak tersentuh dengan ayat kauniyah
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa yang dapat memberikan pelajaran seperti kematian, sakit, bencana. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak kaitan dengannya. Nabi bersabda yang bermaksud: “Cukuplah kematian itu sebagai nasihat dan peringatan”. 4) Berlebihan mencintai dunia serta melupakan akhirat
Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu diperhitung, dikira berasaskan dunia. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja seolah hidup hanya untuk dunia dan berakhir di dunia . 5) Berkawan dengan orang yang melakukan maksiat
Ini salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berkubang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batasan, banyak mendengar muzik yang melalaikan serta menghabiskan harinya untuk tujuan maksiat. 6) Kemaksiatan berantai
Penyakit hati lahir dari kemaksiatan baru akibat kemaksiatan yang dilakukan sebelumnya sehingga menjadi lingkaran syaitan yang sangat sukar bagi seseorang itu melepaskan dirinya. 7) Meremehkan dosa kecil
Memang ada dosa kecil dan besar, tetapi perlu diingat semua dosa akan membawa ke neraka. Seperkara lagi, kita perlu faham dosa besar bermula dengan dosa kecil, banjir besar bermula dari titis hujan. 8) Tidak peduli sumber makanan
Orang yang hatinya berpenyakit dan keras ini biasanya kurang prihatin dengan sumber makanan, halal atau haram. Begitu juga dengan syubhat, yang dia kira sedap dan enak, selera kena tinggi. Makan di mana pun tidak kira kedai orang Islam atau bukan Islam yang penting kaw dan kaw. Begitu juga dengan punca pendapatan, sudah tidak peduli lagi sumber rezeki datang dari mana kerana yang pasti dapat banyak, hidup kaya raya. Rasuah, curi, seludup, ampu ke semua dibedal.

Itu antara beberapa tanda yang sempat dibicarakan dalam ruangan ini dan harapnya ia dapat menambah maklumat kita semua. Mengenai cara mengatasi dan merawatnya Insya-Allah pada masa akan datang.

*****

Tujuh kaedah mengenali orang yang sombong dan bongkak

Oleh Mohd Zakuan Tak

SOMBONG bererti terasa kelebihan dan kehebatan yang ada pada diri sendiri, kemudian ditambah dengan sifat suka menghina dan merendahkan orang lain. Orang sombong memandang rendah manusia lain kerana berasakan sesuatu kelebihan yang ada pada diri mereka.

Begitulah sombongnya Iblis yang enggan sujud kepada Nabi Adam. Tidak cukup dengan kesombongannya kepada Allah, lalu ia menempelak: “Mana bisa aku bersujud kepada manusia, kerana aku dijadikan dari api yang mulia, sedangkan Adam dijadikan dari tanah yang hina.

Penyakit sombong akan menyerang sesiapa saja, baik lelaki atau perempuan, golongan bangsawan atau bawahan, berjawatan tinggi ataupun pengemis di jalanan.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Aku akan belokkan dari keterangan-Ku, orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi, di luar kebenaran.” (Surah al-A’raf, ayat 146)

Sombong yang paling keji ialah bersifat sombong terhadap Allah. Tercatat dalam al-Quran, antara manusia yang pernah sombong terhadap Allah ialah Namrud yang ingin memerangi tuhan, keduanya Raja Firaun yang pernah mengaku dirinya Tuhan.

Allah berfirman yang bermaksud:

“Sesungguhnya, orang yang menyombongkan dirinya dari menyembah Aku, akan masuk neraka jahanam dengan kehinaan.” (Surah al-Mukmin, ayat 60)

Sombong yang kedua ialah bersifat sombong kepada Rasul dan ajarannya seperti tidak mengiktiraf rasul yang diutus Tuhan kerana kemiskinan dan kehinaan keturunan, seperti Firaun yang mengaku dan menganggap dirinya tuhan, tidak mengaku Nabi Musa rasul utusan Allah.

Begitu juga Abu Lahab serta kaum Quraisy yang enggan menerima Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman.

Oleh itu mari kita memeriksa diri, apakah kita sudah dijangkiti virus sombong ini atau tanpa diketahui kita adalah salah seorang penghidap serius penyakit itu selama berpuluh tahun.

Iman Al-Ghazali menyimpulkan ada tujuh cara untuk mengenali seseorang yang sedang dan sudah menghidap penyakit hati yang merbahaya ini :

* Pertama, kelebihan seseorang kerana pengetahuan ilmunya, baik ilmu dunia atau ilmu akhirat. Apabila ilmu sudah penuh di dada dia menganggap semua orang lain jahil belaka, semua orang buta dan jika ada pandangan yang bernas tetapi tidak diterimanya.

Orang sombong seumpama ini, menghendaki dirinya selalu dihormati oleh orang lain terutama ketika di khalayak ramai, oleh anak muridnya dan orang bawahannya serta sentiasa meminta diberi layanan mulia.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Tidak akan masuk neraka, orang yang di dalam hatinya ada seberat sebiji sawi darinya iman, dan tidak akan masuk syurga yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi darinya sombong.” (Hadis riwayat Muslim dan Abu Daud)

* Keduanya kerana kelebihan beribadat seseorang. Penyakit orang ahli abid yang merasa diri mereka terlalu banyak beribadat berbanding dengan orang lain sehingga menganggap orang lain tidak mampu beribadat seperti mereka.

Sedangkan mereka terpedaya dengan tipu daya syaitan. Rasulullah SAW mengingatkan melalui sabda Baginda yang bermaksud:

“Bahawa siapa yang memuji dirinya sendiri atas suatu amal salih, bererti sudah tersesat daripada mensyukurinya, dan gugurlah segala amal perbuatannya.”

Jika kita bersifat seperti ini, menghina orang yang tidak bersembahyang atau apabila orang mengerjakan maksiat, lantas menggelengkan kepala dan terdetik di dalam hati, “Apa nak jadi dengan kamu semua. Mengapa tidak alim dan warak seperti aku,” maka kita adalah dalam kategori orang yang berpenyakit sombong. Oleh itu, bersegeralah bertaubat atas kejelekan akhlak.

* Perkara ketiga yang membuatkan kita sombong ialah kerana ego memperkasakan keturunan, bangga kita berketurunan mulia lagi bangsawan, suka menyebut nama datuk nenek moyang kita yang dulunya dikatakan keramat atau hebat.

Sifat sombong seperti ini tidak ubah seperti kaum Bani Israel yang dilaknat Tuhan, seperti termaktub dalam al-Quran. Mereka bangga dengan keturunan mereka yang banyak menjadi nabi ikutan, konon keturunan mulia dikasihi tuhan.

Mereka rakus melakukan apa saja termasuk membunuh golongan lemah kerana keegoan menganggap orang lain tidak semulia mereka. Seandainya kita zalim, bangga dengan status keturunan, maka kesombongan itu sama dengan kesombongan kaum Bani Israel yang dilaknat tuhan.

* Perkara keempat menjadikan kita beroleh sombong ialah kerana berasa diri cantik dan sempurna malah memandang orang lain dengan hina, seperti merendah-rendah ciptaan Allah hingga sanggup menyindir atau memberi gelaran tidak baik seperti pendek, berkulit hitam atau gemuk.
* Sifat sombong kelima berpunca daripada kelebihan harta diberi Allah membuat kita lupa daratan, berbangga dengan kekayaan yang ada, rumah besar, kereta mewah hingga memandang rendah orang yang kurang berada.
* Keenam, sombong kerana kekuatan dan kegagahan diri. Semua orang akan dibuli kerana kuatnya badan kita tidak terperi, hingga boleh memakan kaca seperti mengunyah. Boleh menarik bas dan lori hanya dengan gigi. Boleh dihempap badan dengan batu dan besi.
* Akhirnya yang ketujuh kata Imam Ghazali, ialah sombong dan berbangga kerana ramainya pengikut setia di belakang diri, sepertinya orang alim berbangga dengan ramainya murid yang memuji. Guru silat pula berbangga dengan ramainya murid yang tidak lut ditetak dan dijilat api.

Justeru, hendaklah memeriksa diri sama ada tujuh perkara yang membawa kepada penyakit sombong ada pada kita atau tidak. Penawarnya ada di tangan sendiri kerana penyakit sombong hanya akan memakan diri.

Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud:

“Orang yang sombong, keras kepala dan takbur, akan dikumpulkan pada hari kiamat, dalam bentuk semut yang kecil, yang dipijak mereka oleh manusia, kerana hinanya mereka pada Allah.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abu Hurairah)

Written and compiled by : Sanaa 02/07/10

Hugs and Vows of Friendship

Note: The articles below does not belongs to me, it is something I found over the internet and just wanting to share, no amendments or add on in the article and hopefully it helps us in our life however it may be and how we want to take it.

It has been proved that showing affection strengthens growth and positive development in people. We all need physical contact to feel good, and one of the most important ways of physical contact between two people is hugging. Who does not need cuddle in this society that is becoming ever colder, more competitive, that compels us be more individualistic, more personal-goal oriented…? When we hug, we receive an energy feedback. We bring life to our senses and reaffirm the trust in our senses. Sometimes we CANNOT find the right words to express how we feel, and then hugs are the best way to say it. We need four hugs a day to survive, eight to keep ourselves, and twelve to grow. A hug makes you feel good. The skin is the biggest organ we have and it needs a lot of love. A hug can cover an extensive part of the skin and provides the massage you need. It is also a way to communicate. It can convey messages for which you have no words. We can always resort to the universal language of hugs. The Power of Hugs
Hugging achieves many things that you might never have imagined. For example:

* It feels good
* It dissolves solitude
* It defeats fear
* It opens the door to sensations
* It improves self-esteem (wow, he or she wants to hug me!)
* It encourages altruism (I can’t believe it, but I want to hug that person)
* It delays aging (those who hug age more slowly)
* It helps reduce appetite (we eat less when we nourished with hugs and when our arms wrapped around others)

More benefits from hugs:

* It is environmentally friendly (it does not damage the environment)
* It preserves energy
* It is portable and requires no additional machinery
* It does not require a special place to do it (an adequate place to hug)
* In any place such as a conference room, a church or a football field
* It makes happy days even happier
* It gives us a sense of belonging
* It fills the void in our lives
* It is still effective even after the hugging has finished
* It strengthens and increases our ability to share
* It harmonizes the hearts of friends

Hugging creates some form of addiction to tenderness, to altruism, to happiness…

Just as laughter, it is highly contagious! Whatever your hug may be, let it always come from the heart, not from the mind.
Come up with new ways of hugging.
Give your hugs interesting or funny names.
Become a full-time “hug therapist.”
Be always ready to offer a hug to someone.
Observe the other person and always be careful of his or her personal space.
Do not try to impose your vision or philosophy on others.
A hug does and says very much.
Hug your friend, your loved one, your kids, your parents, your pet…

Dedicated to all my friends and blog surfers…

Vows of friendship

Life’s a journey
which we can’t go through alone…
Through heartache and pain,
laughter and love
as real as God above
you always need a friend
who’ll understand the unspoken,
feel what you feel
share in your success
care when you cry…
Even though we’re thousand miles apart
I’d miss you from the bottom of my heart
if you don’t remain my friend.
Friendship is a commitment,
though no vows are taken
– but they’re engraved in my heart,
bringing you so much closer
and I hope you take this to heart…
for true friends never give up…

Compiled by : Sanaa 06/06/10

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers