• Thank you friends readers and passers-by for your continuous support to my blog. I will not be able to update often now and many articles and short story left hanging in the draft box due to the pressure of time lately but nevertheless I am trying to cope with it and will post few as time goes by.

    Pleasant day and have a good life.

    Love

    Sanaa

    Good things come to those who wait.
    Better things come to those who try.
    Best things come to those who believe.
    Desired things come to those who pray.

    "Islamic Thinking"

    A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.
    Lao Tzu

  • April 2014
    M T W T F S S
    « Mar    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Archives

Menyingkap Agenda Ektremis

BERLAWANAN dengan pendapat umum di Amerika, Islam sebenarnya adalah agama yang menganjurkan perdamaian.

imam feisal

Sebahagian orang bertanya, mengapa saya berkata begitu? Kerana lihat serangan 9/11 dan pembunuhan yang berlaku dalam dunia ini. Muslim sedang membunuh Kristian.

Muslim sedang membunuh Yahudi. Muslim sedang membunuh Muslim. Benar. Tetapi Islam bukan agama yang ganas. Malah, asas bagi semua agama – Islam, Kristian, Yahudi, Buddha dan Hindu – adalah damai.

Sebenarnya yang ganas adalah segolongan individu. Kelompok ekstremis yang menyalahtafsirkan agama menurut ketaksuban mereka serta demi kepentingan diri telah melakukan keganasan sehingga menimbulkan reaksi yang juga ganas.

Lalu bermulalah kitaran keganasan dan kebencian. Orang sebegini menggunakan doktrin-doktrin keagamaan yang palsu sebagai topeng bagi agenda politik dan kekuasan mereka. Kita mesti membezakan antara kedua-duanya – antara agama dan golongan yang kemaruk kuasa – serta memerangi ekstremis.

Sejak berkurun-kurun yang lalu, keganasan diamalkan atas nama agama, selain atas nama kebebasan, keselamatan negara dan apa saja nilai yang kita anuti.

Namun, kita tidak seharusnya merasa seperti sedang memerangi agama. Langkah itu hanya akan menjebakkan kita dalam permainan ekstremis dan menyebabkan kita melihat permasalahan dari sudut yang tidak tepat – dan akhirnya mendorong kita untuk mencari penyelesaian pada tempat yang salah dan menyasarkan kita sehingga menuduh agama yang sebenarnya tidak bersalah.

Seandainya keganasan antara Protestan dan Katolik di Ireland ditanggapi sebagai masalah keagamaan dan bukannya masalah politik dan ekonomi, nescaya ketegangan itu tidak mungkin dapat dirungkaikan.

Dalam Richmond Forum yang dianjurkan baru-baru ini, topik beralih kepada persoalan mengapa Muslim nampaknya menindas kaum wanita.

Sebahagian peserta bertanya mengapa Muslim menggalakkan amalan sunat pada kemaluan wanita. Apakah ini sesuatu yang diwajibkan untuk menjadi Muslim?

Perkara itu tidak benar sama sekali.

Nabi Muhammad memperjuangkan hak wanita, dan banyak lelaki dan wanita Muslim yang sedang meneruskan perjuangan baginda itu.Amalan sunat pada kemaluan wanita merupakan tradisi kebudayaan Afrika, kerana itulah banyak Muslim dan Kristian Mesir mengamalkannya.

Amalan tersebut tidak dibuat di tanah Arab, tempat Islam bermula. Ia tidak pula diamalkan secara sejagat oleh Muslim dan tentunya tidak dianjurkan oleh Quran.

Kebudayaan sering mengatasi agama, dan ini adalah punca bagi amalan sunat kemaluan wanita dan penindasan terhadap mereka. Di mana keadilannya apabila agama dibohongi?Ekstremis seperti Taliban, Hezbollah, dan al-Qaeda telah menyelewengkan Islam untuk menyesuaikannya dengan matlamat mereka.Kata ekstremis, mereka memperjuangkan Islam murni, tetapi mereka salah.

Mereka dibantu – barangkali secara tidak sedar – oleh ekstremis Kristian dan Yahudi yang terus menegaskan Islam itu sendiri bermasalah.

Ekstremis, apa saja belang mereka – keagamaan, kebudayaan, sosial atau politik –mahu mencetuskan pertelingkahan.

Maka, jika ekstremis tidak saling memerangi, siapa sebenarnya sasaran mereka? Golongan moderat – majoriti penduduk dunia yang mahu melihat permasalahan mereka diselesaikan agar mereka mampu membina kehidupan dan ekonomi untuk menyara keluarga mereka. Golongan inilah yang menderita dalam pertempuran antara ekstremis.

Golongan moderat seperti kita perlu bergabung menentang ekstremis.

Justeru itulah pertubuhan saya, Cordoba Initiative, sedang berusaha untuk membentuk pakatan moderat sedunia yang akan bekerjasama untuk menumpaskan suara ekstremis secara strategik.

Malala Yousufzai, gadis Pakistan yang telah ditembak oleh ekstremis Taliban kerana memperjuangkan pendidikan untuk anak-anak perempuan, adalah simbol tentang kesederhanaan.

Agama apa sekali pun mengeji pembunuhan kanak-kanak. Selain itu, Quran amat menghargai pendidikan. Kitab Al-Quran menyebut bahawa mukmin terbaik adalah mereka yang mempunyai pengetahuan.

“Mencari ilmu adalah kewajipan buat mukmin sejak dalam buaian sampai sebelum masuk kubur,” sabda Rasulullah. “Tinta para sarjana adalah lebih berharga daripada darah para syuhada.”

Mengembangkan akal manusia adalah salah satu daripada enam matlamat utama perundangan Islam.

Jika tindakan menyekat wanita, atau siapa saja, daripada mendapatkan pendidikan tidak dianjurkan Quran, malah bertentangan dengan ajaran kitab itu, maka mengapa kita harus menerima dakwaan pihak yang ingin membunuh Malala atas alasan mereka melakukan sesuatu yang Islami?

Kita perlu mencabar mereka berasaskan kefahaman yang tulen terhadap syariat Islam.

Di masa lalu, Muslim moderat telah disalah-anggap sebagai golongan yang tunduk di bawah kuasa Barat dan diktator Muslim. Sedangkan tuduhan itu tidak benar.

Muslim sebenar adalah rasional, moden, merasa tenteram dengan keyakinan mereka, sanggup mempertahankan ideal mereka serta bersaing secara setara di persada antarabangsa.

Kini telah tiba masanya untuk kaum moderat semua agama dan bangsa bangkit dan menentang ekstremisme pada bila-bila masa saja ia menunjukkan belangnya.

Kita terhutang budi pada Malala dan orang lain seperti beliau yang berjuang demi keadilan dan kesetaraan peluang.Dan kita berhutang dengan Tuhan yang menghendaki kedamaian untuk semua bangsa manusia.

> Imam Feisal Abdul Rauf, adalah pengasas Cordoba Initiative – sebuah pertubuhan berbilang bangsa dan penganut agama yang berusaha untuk memperbaiki hubungan Muslim dengan Barat. Beliau baru-baru ini tampil dalam Richmond Forum. Pandangan yang diungkapkan di sini adalah sepenuhnya milik beliau.

Credit to : http://mstar.com.my/variasi/rencana/cerita.asp?file=/2013/12/9/mstar_rencana/20131209173327&sec=mstar_rencana

Recover and Rebuild

Dear friends and readers…

I have looked for a topic to write but circumstances is so envious upon me lately…hahaha it’s always an excuse isn’t it? Anyway it was a good day today while talking to a friend she tweet me this article from WSJ.Online about recover and rebuild our life after divorce, break-ups, job loss and death of our love once and many more I guess.

I am now sharing with you this short and beneficial article what we suppose and should do after the crisis in our life. Every time we go through an emotional experiences or trauma our journey for recover needs a lot of courage, determination, support, believe in ourselves and a new inspiration to go on. It is easier said than done but I do believed and trust taking time to heal is very important. The only question families and friends will ask is “how long”. Let’s read and focus on the example given and verify or judge it ourselves how much is time needed to road of recovery.

Happy reading…wishing you a good day wherever you are.

Love

Sanaa 31/07/13

****

After Divorce or Job Loss Comes the Good Identity Crisis Experts say most people should give themselves a good two years to recover from an emotional trauma.

By ELIZABETH BERNSTEIN

Recover and Rebuild: Getting over a divorce involves two overlapping processes—recovery from grief and restructuring your life. Where will you eat dinner? Who will your friends be? After all, when you are married, even if you hate your spouse, ‘you know when to show up and when to come home,’ an expert says.

Whether you’ve lost a job or a girlfriend, it won’t take long before someone tells you, Dust yourself off. Time heals all wounds.

Yes, but how much time?

Wendy Bounds and Elizabeth Bernstein discuss the length it takes to recover from large emotional traumas, such as divorce or job loss.

Experts say most people should give themselves a good two years to recover from an emotional trauma such as a breakup or the loss of a job. And if you were blindsided by the event—your spouse left abruptly, you were fired unexpectedly—it could take longer.

That is more time than most people expect, says Prudence Gourguechon, a psychiatrist in Chicago and former president of the American Psychoanalytic Association. It’s important to know roughly how long the emotional disruption will last. Once you get over the shock that it is going to be a long process, you can relax, Dr. Gourguechon says. “You don’t have to feel pressure to be OK, because you’re not OK.”

Some experts call this recovery period an “identity crisis process.” It is perfectly normal, they say, to feel depressed, anxious and distracted during this time—in other words, to be an emotional mess. (Getting over the death of a loved one is more complicated and typically will take even longer than two years, experts say.)

Some people may find they need less than two years to bounce back from a divorce. But experts caution that it probably doesn’t pay to ignore the process, hurry it along or deny it, say, by immediately moving across the country to get a fresh start or diving into a new relationship. That will probably only postpone the day of reckoning.

After all, it takes time to rethink all the things that may be disrupted by emotional trauma, such as one’s living situation, finances, professional goals and—maybe most important—how a person sees him or herself. There aren’t any shortcuts. “The whole sweep of your life has to be reassessed and rewoven,” Dr. Gourguechon says.

Four years ago, Michael Hassard filed for divorce from his wife of almost eight years and began attending a “divorce care” class at his Baptist church in Muscle Shoals, Ala. At the first meeting, the instructor said it would take two years to come out of the emotional turmoil.

“Hearing that was actually a relief,” says Mr. Hassard, 42 and an engineer at a company that designs and builds chemical plants. “It gave me a finish line and a goal to work toward.”

Mr. Hassard, who was awarded custody of his son and daughter, had felt depressed, angry, resentful and overwhelmed as a suddenly single parent. He was sitting in class one night and began to see his recovery as the wall he’d had to scale on an Army boot-camp obstacle course. It was going to be tough. There was no way around it. But things would be better on the other side.

He went home and taped a note, titled “Two Years,” onto the fridge. It said, “I am going to get back to normal, and I am going to do it right.”

Recovering from a divorce or job loss actually involves two overlapping processes. There is the recovery from grief. And the even more time-consuming process of rebuilding the structure of your life. Where will you eat dinner? Who will your friends be? After all, if you are married, even if you hate your spouse, “you know when to show up and when to come home,” Dr. Gourguechon says.

If you saw the loss coming—say you initiated the divorce—you are ahead of a person who was caught off guard. A person taken by surprise is “required to do a lot more rumination,” says Sandra Petronio, a professor of communication at Indiana University-Purdue University, Indianapolis. “You need to do some type of analysis about what happened to you.”

“People start thinking they are crazy because the things they usually do to right their ship—things like talking to their mother, asking their friends for help, getting some sleep—don’t work anymore,” says Ilene Dillon, a licensed clinical social worker in Kentfield, Calif. “And you have all these emotions that won’t seem to stop.”

To help yourself get through the process, accept that there is nothing wrong with you, even if your emotions feel overwhelming. Remind yourself that this period will end. Tell your friends and family that while you may not be your typical self for a while, you still need their support and you will recover.

Don’t make any major, permanent changes, if you can help it, such as moving to a new city. Therapy can help, so you won’t have to go through the process alone. As for a new relationship—forget about it.

During what he calls his own two-year “divorce recovery process,” Mr. Hassard revised the note on his fridge every three months or so, updating his progress and goals. He targeted different areas, such as “self-worth,” “facing my anger,” “being a good parent,” “forgiveness,” “moving on.”

“If you don’t rewrite your goals,” says Mr. Hassard, who has since moved to Centerville, Utah, “they start to become invisible.”

Sometimes small decisions tripped him up, such as which side of the bed to sleep on, or whom to call at the end of a good day. He kept a journal, burning his most bitter entries on the backyard barbecue grill. He sometimes cried or yelled while commuting alone in his car, rolling down the windows or dropping the convertible top to “let it all blow out behind you.” He waited more than a year to start dating, until he noticed himself “looking for good things instead of trying to avoid the bad.”

One night, when the two years were up, Mr. Hassard held a celebration. While the kids were at a slumber party, he cooked himself his favorite meal—bacon-wrapped chicken, green-bean casserole and garlic toast—and opened a bottle of Pinot Grigio.

Watching the sunset from his back porch, he assessed his progress and asked: “Am I done?” The answer, he says, was “Yes.”

“The finish line is only metaphorical until you make it real,” he says. “And I got there.”

Write to Elizabeth Bernstein at Bonds@wsj.com

Sources from : wsj.online

Compiled by : Sanaa 31/7/13

Di sebalik baris kata….

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. ….

Sebagai seorang hamba yang kerdil saya juga masih mencari dan terus mencari untuk mengisi di dada ini dengan segala ilmu Allah bagi menuju jalan yang satu. Saya akui ia bukan jalan yang mudah lebih-lebih lagi kita masih berada di dunia yang terus berkejar-kejaran untuk memiliki segala kemewahan duniawi. Maksud kemewahan duniawi itu tadi adalah golongan yang melupakan kemewahan yang dimiliki untuk dikongsi bersama dengan orang lain. Sifat atau sikap bersedekah masih ada yang berbaur untuk mendapat nama lalu kekayaan disalahertikan.

Sempena Ramadhan Al Mubarak ini dengan kelapangan yang ada saya menyelak beberapa naskah tentang Allah Maha Mengetahui dan segalanya Allah yang aturkan. Topic ini menjadi pencarian saya kerana telah lama saya amati link atau post yang terlalu banyak di dalam facebook dan juga twitter. Poskad bergambar dengan tulisan-tulisan sebagai renungan sering dikongsi oleh rakan-rakan dan ada di antaranya punya maksud yang lebih dalam selain dari baris ayat yang tertera. Oleh kerana itu saya mencari makna dicelahan garis yang ada. Ramai dikalangan kawan-kawan sering berkata “Allah mengaturkan segalanya” ketika menghadapi krisis atau “Allah tahu apa yang terbaik” dan “Allah saja yang berhak menghukum”. Secara amnya perkongsian itu amat bagus akan tetapi sejauh mana ia meresap ke dalam diri setiap yang membaca serta pemahaman yang ada sering menjadi tanda tanya buat diri saya.

Semasa kecil arwah atok dan nenek selalu berpesan apabila belajar kenalah ada gurunya kerana sebagai manusia kita perlukan seseorang untuk membimbing. Membaca banyak manafaatnya akan tetapi apabila kita perlukan penjelasan buku saja tidak cukup. Lalu dikesempatan yang diberikan kepada saya minggu lalu dan di hari pertama Ramadhan saya berkumpul dengan beberapa orang penceramah. Dikesempatan ini saya mengemukakan soalan mengenai kata-kata tentang Allah Maha Tahu/Allah mengaturkan segalanya dengan baik/Allah saja yang berhak menghukum.

Jelas seputih pasir di pantai memang itulah sebenar-benarnya akan tetapi ada makna yang lebih dalam dari itu yang kita manusia tidak mengkaji lalu menjadikan kita seorang yang menghukum. Seperti kata “Allah Maha Tahu atau Allah mentadbir segalanya” itu adalah benar dan tiada siapa boleh menidakkan hukuman Allah akan tetapi sedarkah kita bahawa apa yang kita alami, lalui, rasai, perit derita dan bahagia itu datang dari bibir kita yang mengucapkannya. Ini adalah kerana setiap perkara yang kita fikir, rasa, ucap dan buat adalah DOA dan sedarkah kita itulah yang kita DAPAT. Saya diberi contoh orang yang mahu sangat menjadi kaya raya. Setiap detik hidupnya berdoa nak kaya saja akan tetapi tak disebut nak kaya apa, lalu Allah berikan kekayaan kesihatan bukan wang ringgit. Apakah hati akan menjadi puas?

Itulah pertanyaan yang diajukan kepada saya yang membuat saya berfikir jauh mencari jawapan. Jawapan yang diberi kepada saya amat mudah untuk difahami berdasarkan contoh tadi…”Allah menurut sangkaan hambaNYA”. Seketika itu saya dikejutkan bahawa apa yang berlaku kepada diri kita baik ataupun buruk adalah dari perbuatan kita sendiri berdasarkan empat perkara di atas tadi iaitu…fikir..rasa…ucap dan buat menjadi DOA tanpa disedari. Berkali-kali kita ucap benda yang sama kita akan perolehinya dan apabila kita memperolehinya jangan sesekali menyalahkan sesiapa atau mengatakan Allah Maha Mengetahui lagi. Seram juga bila mengingatkan perkara ini kerana janji Allah kepada hambaNYA bahawa penghinaan ada dimukabumi ini dan azab menanti di akhirat.

Di dalam perkara ini juga kita perlu ingat saranan-saranan ahli agama dan ulamak dengan hal berkawan dan pembacaan. Kita disarankan untuk mencari kawan dan rakan yang baik, yang mampu menunjukan jalan yang benar dan yang mampu memberi nasihat dan teguran tanpa menyakitkan hati kita ataupun tanpa provokasi yang tidak sihat. Sekali lagi saya teringat pepatah Inggeris lebih kurang menyebutkan “we are judged from the books we read and friends we have”.

Saya di sini sekadar berkongsi apa yang berlaku disekeliling saya sejak akhir-akhir ini. Tulisan ini juga sekadar mengingatkan kita bersama supaya jangan mudah mengeluarkan kata-kata baik dari segi menghina, menghukum ataupun apa-apa permintaan untuk diri dan keluarga kita. Hukum universal pula berkata “what goes around comes around” dan yang selalu saya gunakan di dalam artikel terdahulu adalah “satu jari menunjuk empat lagi menuding ke arah kita”. Oleh itu berhati-hatilah dalam tindak tanduk kita apabila melakukan sesuatu perkara kerana setiap perbuatan kita ada pembalasannya. Tatkala kita menerima pembalasan itulah saat “Allah Maha Mengetahui dan Allah Mentadbir Segalanya”.

Sebagai seorang manusia apabila kita kurang ilmu janganlah cepat menghukum seseorang ataupun cuba mempertahankan seseorang kerana yang benar tetap benar yang salah tidak mungkin diubah. Hanya pengamatan dan kesudian kita berubah saja mampu mengubahnya.

Luahan rasa terkilan jua : Sanaa 13/7/13

*****

Allah SWT mentadbir segalanya

بسم الله الرحمن الرحيم

alam1

Alhamdulillah, Segala Puja–puji hanyalah milik Allah Ta’ala semata-mata. Selawat dan salam ke atas Baginda Rasulullah s.a.w, ahli keluarga baginda yang suci, para sahabat yang kesemua mereka itu merupakan golongan yang amat mulia, para ulama’ yang mukhlisin , para mujahidin di Jalan Allah Ta’ala dan seluruh muslimin. Amin.

Umat Islam adalah umat yang paling bertuah kerana Allah s.w.t telah menyempurnakan nikmat~Nya ke atas mereka dengan mengurniakan Islam. Allah s.w.t menjamin juga bahawa Dia redha menerima Islam sebagai agama mereka. Jaminan Allah s.w.t itu sudah cukup bagi mereka yang menuntut keredhaan Allah s.w.t untuk tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebaliknya terus berjalan mengikut landasan yang telah dibina oleh Islam.

Allah s.w.t telah menghamparkan jalan yang lurus kepada hamba-hamba~Nya yang beriman. Dia berfirman: “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu. [QS al-Maa’idah : 3]

Islam adalah perlembagaan yang lengkap mencakupi semua aspek kehidupan baik yang zahir mahupun yang batin. Islam telah menjelaskan apa yang mesti dibuat, apa yang mesti tidak dibuat, bagaimana mahu bertindak menghadapi sesuatu dan bagaimana jika tidak mahu melakukan apa-apa. Segala peraturan dan kod etika sudah dijelaskan dari perkara yang paling kecil hingga kepada yang paling besar. Sudah dijelaskan cara beribadat, cara berhubungan sesama manusia, cara membahagikan harta pusaka, cara mencari dan membelanjakan harta, cara makan, cara minum, cara berjalan, cara mandi, cara memasuki jamban, cara hukum qisas cara melakukan hubungan kelamin, cara menyempurnakan mayat dan semua aspek kehidupan diterangkan dengan jelas.

Umat Islam tidak perlu bertengkar tentang penyelesaian terhadap sesuatu masalah. Segala penyelesaian telah dibentangkan, hanya tegakkan IMAN dan rujuk kepada Islam itu sendiri nescaya segala pertanyaan akan terjawab. Begitulah besarnya nikmat yang dikurniakan kepada umat Islam. Kita perlulah menjiwai Islam untuk merasai nikmat yang dikurniakan itu. Kewajipan kita ialah melakukan apa yang telah Allah s.w.t aturkan sementara hak mengatur atau mentadbir adalah hak Allah s.w.t yang mutlak. Jika terdapat peraturan Allah s.w.t yang tidak dipersetujui oleh nafsu kita, jangan pula melentur peraturan tersebut atau membuat peraturan baharu, sebaliknya nafsu hendaklah ditekan supaya tunduk kepada peraturan Allah s.w.t. Jika pendapat akal sesuai dengan Islam maka yakinilah akan kebenaran pendapat tersebut, dan jika penemuan akal bercanggah dengan Islam maka akuilah bahawa akal telah tersilap di dalam perkiraannya. Jangan memaksa Islam supaya tunduk kepada akal semasa yang akan berubah pada masa yang lain, tetapi tundukkan akal kepada apa yang Tuhan kata yang kebenarannya tidak akan berubah sampai bila-bila.

Orang yang mengamalkan tuntutan Islam disertai dengan beriman kepada Qada’ dan Qadar, jiwanya akan sentiasa tenang dan damai. Putaran roda kehidupan tidak membolak-balikkan hatinya kerana dia melihat apa yang berlaku adalah menurut apa yang mesti berlaku. Dia pula mengamalkan kod yang terbaik dan dijamin oleh Allah s.w.t. Hatinya tunduk kepada hakikat bahawa Allah s.w.t yang mentadbir sementara sekalian hamba berkewajipan taat kepada-Nya, tidak perlu masuk campur dalam urusan-Nya.

Mungkin timbul pertanyaan apakah orang Islam tidak boleh menggunakan akal fikiran, tidak boleh mentadbir kehidupannya dan tidak boleh berusaha membaiki kehidupannya? Apakah orang Islam mesti menyerah bulat-bulat kepada takdir tanpa tadbir?

Rasulullah s.a.w sendiri menganjurkan agar pengikut-pengikut baginda s.a.w mentadbir kehidupan mereka. Tadbir yang disarankan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang tidak memutuskan hubungan dengan Allah s.w.t, tidak berganjak dari tawakal dan penyerahan kepada Tuhan yang mengatur pentadbiran dan perlaksanaan. Janganlah seseorang menyangka apabila dia menggunakan otaknya untuk berfikir maka otak itu berfungsi dengan sendiri tanpa tadbir Ilahi. Dari mana datangnya ilham yang diperolehi oleh otak itu jika tidak dari Tuhan? Allah s.w.t yang membuat otak, membuatnya berfungsi dan Dia juga yang mendatangkan buah fikiran kepada otak itu.

Tadbir yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w ialah tadbir yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunah. Islam hendaklah dijadikan penapis untuk mengasingkan pendapat dan tindakan yang benar dari yang salah. Islam menegaskan bahawa sekiranya tidak kerana daya dan upaya dari Allah s.w.t, pasti tidak ada apa yang dapat dilakukan oleh sesiapa pun.

Oleh yang demikian seseorang mestilah menggunakan daya dan upaya yang dikurniakan Allah s.w.t kepadanya menurut keredhaan Allah s.w.t. Seseorang hamba Allah s.w.t tidak sepatutnya melepaskan diri dari penyerahan kepada Allah Yang Maha Mengatur. Apabila apa yang diaturkannya berjaya menjadi kenyataan maka dia akui bahawa kejayaan itu adalah kerana persesuaian aturannya dengan aturan Allah s.w.t. Jika apa yang diaturkannya tidak menjadi, diakuinya bahawa aturannya wajib tunduk kepada aturan Allah s.w.t dan tidak menjadi itu juga termasuk di dalam tadbir Allah s.w.t. Hanya Allah s.w.t yang berhak untuk menentukan. Allah s.w.t Berdiri Dengan Sendiri, tidak ada sesiapa yang mampu campur tangan dalam urusan~Nya.

Moga ada manfaatnya…

Compiled by : Sanaa 13/7/13

http://insaaniyyah.blogspot.com/2011/07/allah-swt-mentadbir-segalanya.html

*****

Something to ponder about…read it somewhere long time ago and other similar stories…

SON: Daddy, may I ask you a question?
DAD: Yeah sure, what is it?
SON: Daddy, how much do you make an hour?
DAD: That’s none of your business. Why do you… ask such a thing?
SON: I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?
DAD: If you must know, I make $100 an hour.
SON: Oh! (With his head down).
SON: Daddy, may I please borrow $50?

The father was furious.

DAD: If the only reason you asked that is so you can borrow some money to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you are being so selfish. I work hard everyday for such this childish behavior.

The little boy quietly went to his room and shut the door.

The man sat down and started to get even angrier about the little boy’s questions. How dare he ask such questions only to get some money?

After about an hour or so, the man had calmed down, and started to think:

Maybe there was something he really needed to buy with that $ 50 and he really didn’t ask for money very often. The man went to the door of the little boy’s room and opened the door.

DAD: Are you asleep, son?

SON: No daddy, I’m awake.
DAD: I’ve been thinking, maybe I was too hard on you earlier. It’s been a long day and I took out my aggravation on you. Here’s the $50 you asked for.

The little boy sat straight up, smiling.

SON: Oh, thank you daddy

Then, reaching under his pillow he pulled out some crumpled up bills. The man saw that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, and then looked up at his father.

DAD: Why do you want more money if you already have some?

SON: Because I didn’t have enough, but now I do.

Daddy, I have $100 now. Can I buy an hour of your time? Please come home early tomorrow. I would like to have dinner with you.”

The father was crushed. He put his arms around his little son, and he begged for his forgiveness. It’s just a short reminder to all of you working so hard in life. We should not let time slip through our fingers without having spent some time with those who really matter to us, those close to our hearts. Do remember to share that $100 worth of your time with someone you love? If we die tomorrow, the company that we are working for could easily replace us in a matter of days. But the family and friends we leave behind will feel the loss for the rest of their lives. And come to think of it, we pour ourselves more into work than to our family.

Some things are more important.

Compiled by : Sanaa 13/7/13

Sources : Unknown

Harga

Simpulan ikatan terlerai sudah dengan berakhirnya drama bersiri Cinta Jangan Pergi.

Drama ini dimulakan dengan satu PERTEMUAN. Diikuti dengan JANJI sebagai pembuka kata…KEJUJURAN pula menjadi penutup bicara…dua perkara yang terlalu sukar dan makin berkurangan di dalam kehidupan masa kini dijadikan tema jalan cerita. Sususan cerita dan setiap babak telah disampaikan dengan baik melalui pemegang-pemegang watak untuk kita melihat realiti kehidupan dan mentafsir segala. Sesungguhnya tidak susah mengikuti cerita ini kerana clue sentiasa diberi awal…hanya pengamatan dan kepekaan kita saja menjadi penghalangnya.

Ketika melangkah di saat-saat akhir Cinta Jangan Pergi sekali lagi saya meneliti perjalanan serta perkembangan watak-watak utama serta sampingan di dalamnya. Sedikit demi sedikit jawapan diberi kepada setiap tanda tanya yang pernah dan masih ada. Rahsia yang tersimpan juga terungkai dan kita melihat kematangan setiap watak di dalam menangani masalah masing-masing.

Bagi saya walau dipusing ikut mana sekalipun perasaan saya tetap teruja dengan perkembangan watak Khalil dan tetap tidak mengubah perasaan saya yang sentiasa meragui Hud. Tatkala hampir sampai ke penghujung bersama speku yang makin hebat perasaan curiga terhadap Hud juga semakin meningkat. Ini mungkin disebabkan “rasa” hati dan pertemuan saya dengan Hud sejak hari pertama lagi tidak pernah “smooth” walaupun dengan segala kebaikan yang diberikan serta ditunjukan olehnya.

Bersama CINTA…JANJI…JUJUR yang menjadi tunggak perjalanan cerita ini watak Khalil dikembangkan oleh pencipta cerita dengan baik. Terujinya cinta Khalil dan Lea tanpa henti akhirnya membuat Khalil pasrah…redha dan menerima ketentuanNYA. Setelah ingatan Khalil pulih sepenuhnya dan mengingati kejadian yang menimpa serta siapa dalang di sebaliknya tidak saya duga sama sekali bahawa “confrontation” di antara Khalil dan Hud terlalu “cool” sehingga Khalil tidak membuka mulut sedikitpun kepada Lea dan juga keluarganya.

Ketenangan Khalil makin jelas ditunjukan ketika bual bicaranya bersama Ibrahim di atas tangga dan tidak bersetuju untuk mengambil sebarang tindakan undang-undang terhadap Hud demi menjaga hati Lea Soraya. Kebahagian Lea masih menjadi keutamaan Khalil. Mungkin ini lah kematangan Khalil setelah diuji dengan berbagai dugaan. Marah, dendam dan pembalasan tidak boleh mengubah segala apa yang telah terjadi.

Setelah segala hinaan dan kemarahan yang dilemparkan kepada Khalil perwatakan Khalil berubah.

Tidak ada sepatah kata yang Khalil keluarkan di hadapan Lea ataupun Lily tentang perkara itu. Tiada juga pujuk rayu Khalil kepada Lea. Segala tindakan Lea diterima bersih oleh Khalil…kerana dia sudah sedar dan menerima apa saja nasib yang mendatangi dirinya. Kata-kata akhir yang Khalil ucapkan kepada Lea amat menyentuh perasaan.

Keadaan berubah…manusia berubah namun hanya satu tidak akan berubah bahawa dia akan tetap menyintai Lea Soraya. Pasti ramai yang tidak bersetuju kerana di masa yang sama Khalil akan menikahi Shireen.

Cuba kita renung pula kenapa perkampungan orang asli itu menjadi tempat Khalil mencari ketenangan? Kenapa Khalil tidak melarikan diri jauh dari sini atau kembali ke London? Apakah mengadu kepada alam cara Khalil mencari kedamaian atau apakah kejujuran orang-orang di perkampungan itu yang Khalil dambakan?

Di perkampungan yang serba kekurangan itu tidak ada seorangpun yang menerima Khalil dengan bersyarat…tidak ada harapan yang diletakan dan tidak ada juga sengketa. Adakalanya itu yang kita perlukan…jauh dari segala kesesakkan duniawi. Hanya kita dengan alam.

Perkampungan itu ada nostalgia buat Khalil dan rasa itu sampai kepada Lea lama dahulu. Ingat tak lagi suara yang memanggil Lea semasa Lea mencari Khalil selepas pertunangannya dengan Hud?

*****

Rahsia yang terlalu lama disimpan membawa Hud lari dari menghadapi kenyataan. Adalah satu tindakan seorang pengecut apabila Hud memutuskan pertunangan (perbualan telefon Makcik Hasmah dan Lily) tanpa bersemuka dengan Lea dan Lily. Akan tetapi Hud mengalah dan segalanya terlerai setelah Lily mendesak kebenaran diikuti dengan Lea. Kegelisahan Lea terjawab jua akhirnya setelah menjumpai cebisan gambarnya di dalam diari Hud yang tertinggal di sofa rumahnya.

Setelah jauh cerita berjalan membuat saya bertanya “Apakah yang membezakan Hud dan Khalil”? Jika diamati dan diteliti tidak ada bezanya Hud dan Khalil. Akan tetapi kebaikan yang Hud tunjukan jelas mengaburi mata semua.

Hakikat yang ada di antara Hud dan Khalil ialah mereka adalah dua orang lelaki yang mendambakan cinta seorang wanita. Kedua mereka mempunyai kelemahan dan kekuatan masing-masing. Yang membezakan di antara mereka adalah perwatakan sahaja.

Perwatakan Khalil yang kasar, ganas, tidak sopan dan dengan segala dendam di hati melayani Lea Soraya setelah pertemuan semula mereka kita ingat dengan jelas. Tengking herdik Khalil menjadi ingatan yang segar bugar di mata kita. Di sebaliknya pula Hud masih “cool” walaupun mengetahui kini Khalil masih hidup dan Lea pula bekerja dengannya. Kebenaran itu tidak mengubah perwatakan Hud yang sentiasa “cool”. Tidak juga ditunjukan perasaan cemburu dengan nyata lalu membuat kita terus terbuai.

Mata kita jelas dikaburi oleh segala perhatian yang Hud berikan kepada Lea dan tindakan Khalil yang kejam dengan menghina dan mengherdik Lea membuat kita marah. Memang benar Khalil kejam memang benar Khalil ego namun apabila rahsia terbongkar apakah mampu kita melihat segalanya dari sudut yang berlainan?

Pertemuan pertama Hud dan Khalil selepas kejadian berlaku di hadapan Lea Soraya. Bertemunya empat mata tidak terbayang dan terlintas di mata dan fikiran kita bahawa Hud menyimpan rahsia paling besar. Kenyataan Lea bahawa Khalil amnesia di masa itu merupakan “added advantage” kepada Hud. Di hari rahsia terbongkar barulah kita tahu selama ini Hud menyimpan satu rahsia dan hidup diselubungi pembohongan.

Bersama deraian airmata dan bersungguh-sungguh Hud menyatakan cintanya sambil berteleku di hadapan ibunya membuat ramai mengatakan betapa tulusnya cinta Hud terhadap Lea. Sesungguhnya saya tidak menyalahkan Hud kerana jatuh cinta dan mencintai Lea Soraya akan tetapi kenapa Hud tidak jujur kepada dirinya sendiri berdasarkan kepada niat asal dan awal dia mencari Lea.

Apakah tulus cinta Hud apabila dari pertemuan pertama tidak pernah berlaku JUJUR kepada Lea? Lalu sekali lagi saya bertanya bezanya Hud dan Khalil? Yang membezakan mereka hanyalah cara…Khalil dengan kekerasannya dan Hud pula dengan kelembutannya. Kita mengatakan dan menerima cinta Hud yang ikhlas terhadap Lea akan tetapi menolak Khalil walaupun setelah kebenaran diperolehi. Kenapa?

Tindakan Hud seperti api di dalam sekam, lebih kejam daripada Khalil kerana Hud mengambil kesempatan di atas kelemahan Lea dan juga cinta Lea terhadap Khalil. “Prinsip” adalah perkataan yang Ibrahim gunakan ketika mahu menyaman Hud kerana meninggalkan Khalil di tempat kejadian dan itulah yang sebenarnya tiada di dalam diri Hud.

Soalan saya seterusnya “Bagaimana Hud hidup selama ini”? “Adakah Hud sebenar-benarnya mengharapkan Khalil mati”? Segala kesempatan telah Hud ambil dan pemergiannya ke Interlaken dan tidak munculnya Khalil membuat Hud merasa selesa dan yakin bahawa Khalil kini benar-benar telah mati lalu terus berdiam diri. Tiada dialog yang mengatakan begitu akan tetapi amatilah segala baris kata yang Hud tuturkan di hadapan Lea dan juga Lily. Selama ini Hud berselindung di sebalik cinta dan perhatian yang ditunjukan.

Lalu siapakah yang lebih kejam? Kekerasan Khalil terhadap Lea nampak jelas sehingga tidak mampu kita melihat dan mendengarnya..bagaimana pula dengan Hud? Menggunakan segala peluang yang ada dan mengambil segala kesempatan di atas “kematian” Khalil adalah kekejaman yang paling dahsyat. Tidak cukup dengan itu Hud cuba “menjadi” Khalil di dalam sesetengah keadaan. Lebih memburukan keadaan setelah mengetahui bahawa Khalil masih hidup Hud tetap berdiam diri.

Harga pertama yang Hud bayar adalah semasa dijangkiti virus merbahaya yang hampir meragut nyawanya. Setelah sembuh ia tetap tidak membawa Hud berterus terang dengan Lea. Melihat sendiri kemesraan Khalil dan Lea permintaan Hud adalah untuk Lea berlaku jujur dan berterus terang. JUJUR? Di manakah kejujuran Hud selama ini? Mengimbas kembali apakah layak untuk Hud menerima dan meminta kejujuran daripada Lea apabila dia sendiri tidak pernah jujur?

Kenapa agaknya Hud sendiri yang menyaksikan kemesraan Lea dan Khalil? Olahan cerita yang paling dalam oleh perekacipta yang hanya terbongkar dipengakhiran cerita.

Marilah kita sama-sama mengimbas kembali semasa kemalangan. Jelas bak kristal kemalangan berlaku kerana kecuaian Hud sebagai pemandu. Sebagai seorang doktor Hud tiada prinsip dan intergrity. Jelas dipandangan mata Hud api sudah keluar dari kereta tersebut dan akan meletup bila-bila masa sahaja. Sudah jelas tidak mungkin ada bantuan yang dapat dicari dalam masa yang sesingkat itu.

Apakah menyelamatkan beg lebih utama dari satu nyawa? Panik? Apakah itu alasan seorang doktor? Setelah kemalangan Hud tidak menunggu ataupun membuat lapuran polis. Kisah Hud bukan hanya setakat jatuh cinta kepada Lea atau mahu merampas Lea daripada Khalil…itu soal perasaan akan tetapi rentetan cerita sebelum bertemu Lea dan yang lebih memburukan keadaan Hud tidak berterus terang sehingga dia tersepit.

Tindakan Hud memutuskan pertunangan melalui telefon juga adalah tindakan seorang lelaki yang dayus. Berbanding dengan Khalil yang beria mahu berjumpa mama Lea kerana sedar dia mesti berterus terang tentang hubungan mereka di masa itu walaupun Lea masih tunangan orang. Kasar ke…ego ke..arrogant ke…kurang ajar ke…Khalil tetap mahu berterus terang. Yang sentiasa bertangguh dan menghalang Khalil adalah Lea.

Perasaan tidak senang saya terhadap Hud sejak pertama kali melihatnya terlerai hampir di penghujung cerita. Saya tidak tahu kenapa dan mengapa Hud tidak bertapak di hati saya walaupun dengan segala kebaikan yang telah ditunjukan. Perasaan curiga saya bertambah-tambah apabila Hud berlagak “cool” setelah menumbuk Khalil di hadapan Lea. Pertemuan itu tidak juga membawa Hud berterus terang dengan keadaan sebenar. Apakah kerana itu juga Hud hingga akhirnya tidak memiliki cinta Lea?

Setelah menyimpan segala rahsia begitu lama dan tidak berlaku jujur pengakuan Hud amat mengejutkan Makcik Hasmah. Seorang ibu yang amat penyayang, yang begitu mengenali dan menyokong anaknya tidak mungkin mudah untuk mempercayai dan diterima. Pemergian Makcik Hasmah dengan mengejut meninggalkan kesan yang mendalam kepada Hud.

Berulang kali saya cuba meletakan diri saya di dalam kasut Makcik Hasmah dan juga Lily lalu bertanya apakah tindakan terbaik untuk saya ambil dalam waktu yang singkat? Babak permohonan maaf Hud kepada Makcik Hasmah yang tetap bersulam nasihat sudah jelas terbayang kekecewaan hati seorang ibu. Hanya ketabahan Makcik Hasmah dilihat dengan jelas di dalam keperitan yang ditanggung.

Saya juga menyanjungi cara Lily. Pembohongan Hud telah memberinya kesedaran untuk “melihat” hati anaknya sendiri. Pengakuan dan permohonan maaf kepada Lea menunjukan bahawa selama ini dia gagal melihat hati anaknya…cinta yang pernah bertapak di hati anak gadisnya tidak diendahkan kerana tidak pernah mahu mengenali Khalil di hati Lea Soraya.

Semasa Hud membuat pengakuan cinta dan permohonan maaf, Makcik Hasmah ada berkata Hud beruntung diberi peluang untuk membetulkan keadaan. Pada pandangan saya dan melihat dari turutan cerita, sebenarnya Hud telah diberi banyak peluang bukan setakat peluang kedua sahaja akan tetapi Hud masih terus membuang segala peluang untuk bersemuka dengan Lea dan kebenaran.

Di awal cerita pula kenapa Hud cuba menjadi Khalil atau meniru cara Khalil? Apakah seorang doktor tidak mengetahui akibat dari perbuatannya itu? Di babak-babak awal sebenarnya Hud telah membuat Lea berada di dalam “state of depression”. Permainan Hud sememangnya tidak dikenal pasti kerana Lea sendiri sentiasa merindukan Khalil dan kerana itulah juga Lea tidak dapat mencintai Hud sepenuhnya.

Alasan ataupun “psychological impact” terhadap Lea Soraya tidak diambil kira oleh Hud hanya kerana cinta sudah membayangi dirinya. Saya mengingatkan bahawa Dr. Hud akan lebih rasional di dalam hal-hal yang begini kerana dia seorang doktor dan tahukah kita bahawa perbuatan doktor Hud itu menyalahi etika perubatan? Kerana cinta yang Hud rasakan segala pertimbangan hilang dari kawalan.

Semasa sessi berterus terang bersama Lea, EL dan JD ada Hud mengatakan yang dia benar-benar takut kehilangan Lea. Saya ingin bertanya apakah dengan menyembunyikan kebenaran Hud akan memiliki Lea? Seperti yang pernah Makcik Hasmah cakapkan…”dia tidak pernah ada”. Perhatikan bait-bait kata itu dan fahami maksudnya.

Sessi seterusnya pula bersama Khalil…perkara yang sama Hud sebutkan dan apabila Khalil bertemu Lea dan memberitahu Lea bahawa Hud datang berjumpanya dan menceritakan detik pertemuan sehinggalah sekarang…jelas dan nyata penerimaan Lea terhadap Hud dibayangi Khalil dan jelas juga bahawa Lea mengambil berat tentang Hud kerana dia tidak mahu kehilangan Hud sepertimana dia pernah kehilangan Khalil dahulu. Bertambah jelas di sini perasaan Lea terhadap Hud adalah simpati bersulam sayang. Tidak lebih dari itu.

Inilah kelebihan Cinta Jangan Pergi…dialog serta babak yang ada punya cerita sendiri yang terselit (read between the lines) yang amat memerlukan kita peka sentiasa.

Walaupun hati saya sedih apabila watak Hud dimatikan kerana ia menjadikan jalan cerita terlalu “cliche” akan tetapi demi kebahagian Khalil dan Lea mungkin itulah yang terbaik. Saya mentafsirkan simboliknya Hud “memulangkan” Lea kepada Khalil sebagai seorang yang berhak sepertimana dia pulang kepada penciptaNYA. Tidak mungkin saya melabelkan Hud sebagai hero setelah apa yang dia lakukan dan ia bukan juga satu pengorbanan dipihaknya. Dari pandangan mata kasar memang itu akan dibanggakan oleh semua namun perhatikan segala bicara dan gerak geri serta di mana Hud berada di hati Lea selama ini.

Pembuka kata saya tadi adalah janji dan jujur selain dari cinta yang ingin dimiliki dan memiliki. Pendapat sudah pasti berbeza-beza dan tidak semua pendapat akan kena pada sasarannya. Sewaktu tayangan dari episod ke episod hampir semua penonton berteka dan berteki dengan jalan cerita dan setiap pemegang watak…ada yang terkena sasaran dan ada juga yang tergelincir tidak terkecuali saya juga.

Sikap dan perwatakan Lea semasa bersama Hud dan Khalil juga kurang membantu. Fikiran dan perasaan yang bercelaru dan tanpa kekuatan membuatkan Lea terumbang-ambing di antara kedua lelaki yang hadir dalam hidupnya. Ledakan bom yang Shireen lemparkan menambah buruk keadaan. Walaupun begitu tidak dapat untuk menyalahkan Lea seratus peratus kerana setiap kali bersama Khalil ada saja perkara buruk yang berlaku.

Insiden pertama adalah apabila Lily jatuh dari tangga setelah cuba menasihati Lea untuk meneruskan hidup dan melupakan Khalil. Ini diikuti pula oleh Hud terlantar sakit dan bertarung nyawa dan tidak kurang Shireen yang terus menganggu kehidupan mereka. Besar kemungkinan Lea menjadi phobia dengan keadaan ini lalu membina benteng diri untuk berkeras setiap kali berhadapan dengan Khalil selepas itu dan tidak lagi mengikut kata hatinya. Namun demikian cinta Lea tetap utuh buat Khalil cuma Lea sudah tidak berani mempertaruhkan hatinya lagi.

Kelemahan dan kekuatan Lea, Khalil dan Hud terus diuji dan teruji. Di antara babak-babak yang ada, di antara bicara kata dan di antara esak dan tangis Lea Soraya, sebenarnya tidak ada lelaki lain di dalam hidupnya kecuali Khalil Ibrahim. Tidak ada satu hari pun Lea melupakan Khalil. Bukti yang terlalu mudah dan ringkas…Lea tidak membuang gambarnya bersama Khalil walaupun sudah ditengking herdik…Lea masih memberi peluang kepada Khalil walaupun janji diberi kepada Hud…berada di hutan kerana marah dengan Khalil akan tetapi wajah Khalil jua yang muncul dan dikejar dan setelah kejujuran diperolehi daripada Hud segala kenangan bersama Hud terus dibakar. Tindakan Lea ini adalah kerana dia merasa amat tertipu dengan perbuatan Hud selama ini.

Adakah Lea membuang dan membakar gambar-gambarnya bersama Khalil di masa itu? Andainya saya tersilap pandang tolong beritahu kerana saya memang tidak nampak sekepingpun gambar Lea bersama Khalil di masa itu.

Keresahan Lea jelas terbayang semasa majlis pernikahan Khalil dan Shireen. Oleh kerana ia terlalu jelas Lea tidak dapat menutup rahsia hatinya kepada EL dan juga JD. Akan tetapi apabila EL dan JD cuba menceritakan hal sebenar Lea melenting. Jelas sudah Lea masih lagi cuba menyembunyikan rahsia hatinya yang sebenar. Mungkinkah Lea juga terlalu ego untuk mengakui kesilapannya meragui Khalil selama ini?

Detik-detik akhir Cinta Jangan Pergi juga menyentuh hati dengan kehadiran Shireen di tanah perkuburan serta Khalil di kejauhan. Semua yang hadir tertanya-tanya kenapa Khalil tidak datang dan EL juga mengungkit setelah apa yang Hud buat untuknya kenapa Khalil tidak datang menziarah. Lihatlah betapa cepatnya hukuman dijatuhkan kepada Khalil namun akhirnya kita tahu hanya Lea saja yang punya jawapan kenapa dan mengapa Khalil tiada di situ.

Cinta Jangan Pergi tidak Lea lafazkan akan tetapi kenapa Lea masih mencari Khalil ketika di hospital? Tolehan sedikit itu adalah “body languange” yang amat besar ertinya.

Tercegatnya Lea di belakang Khalil membuktikan “telepathy” atau “connection” yang kuat di antara Lea dan Khalil. Tepuk dada tanya selera untuk mencari sahihnya kenyataan saya. Saya pasti ramai yang tahu kenapa dan ada juga yang tidak tahu mengapa lalu jawapan saya mudah saja…cinta sejati tidak perlu untuk selalu bersama akan tetapi bisikan hati serta tautan hati akan bergetar menyampai rasa.

Penyatuan kasih Lea dan Khalil dipenghujung cerita juga bukan saja penyatuan dua hati yang bercinta selama ini. Ia adalah penyatuan yang bakal memberi mereka peluang menghargai segala apa yang telah mereka berdua lalui selama ini. Menilai dan menghargai harga kasih sayang di antara mereka, pengorbanan orang-orang sekeliling mereka dan yang lebih penting memulihkan hubungan dengan keluarga serta terus mengingati kebesaran Allah di dalam segalanya.

Syabas..tahniah…congratulations kepada semua yang terlibat di dalam Cinta Jangan Pergi. Walaupun kelemahan masih ada, drama ini merupakan drama yang terlalu ‘worth watching’ kerana ia membawa kita berfikir dan terus berfikir.

Seperti yang pernah saya tuliskan di laman facebook saya dahulu setiap perbuatan kita sama ada kecil ataupun besar pasti ada “cause and effect” yang akan menghukum kita bila-bila masa saja. Harga yang Hud bayar terlalu tinggi apabila kejutan pertama yang Khalil berikan tidak Hud beri perhatian. Sedikit perbezaan berlaku di sini antara Hud dan Khalil ialah Khalil berubah setelah Shireen meledakan bom di hadapannya.

Sebagai flashback cuba kita ingat setelah kehilangan Lea di hutan serta ketidaksudian Lea memberi ruang kepadanya membuat Khalil berundur…pasrah dan redha menerima ketentuanNYA walaupun hati…cinta dan kasihnya tetap milik Lea Soraya. Dengan penuh keredhaan Khalil menerima sahaja tindak tanduk Lea. Di kesempatan yang ada Khalil gunakan untuk berterus terang dengan Lea. Besar kemungkinan kata-kata Khalil itu kita anggap pembohongan semata-mata kerana dia sudah mahu mengahwini Shireen sebagai memenuhi tanggungjawabnya.

Inilah yang dikatakan “Memiliki dan mencintai adalah dua perkara yang amat berbeza”. Mencintai tidak semestinya memiliki namun tidak menghalang sekeping hati untuk terus mencintai dan memberi kasih sayang itu dari jauh.

Perbezaan ini amat ketara dan berlainan sekali dengan Hud, kejutan pertama yang diterima tidak mendatangkan apa-apa. Anehnya ketika Hud terserempak dan ternampak kemesraan Khalil dan Lea perkara pertama yang Hud minta adalah KEJUJURAN daripada Lea Soraya. Akan tetapi di manakah kejujuran Hud selama ini?

Oleh itu saya menyingkap kembali teori alam bahawa satu jari menuding kearah orang lain empat lagi menuding kearah diri sendiri.

Setiap barangan ada tanda harga…tatkala membeli belah tanda harga yang kita lihat dahulu untuk menentukan sama ada poket kita mengizinkan kita untuk memiliki barangan tersebut. Begitulah juga dengan percaturan kehidupan…salah pertimbangan harga yang perlu kita bayar adakalanya tidak terjangkau oleh akal fikiran.

”Read between the lines” terlalu banyak dan jelas di dalam perjalanan drama bersiri ini.

Penyusunan cerita dan penyampaian rasa serta latarbelakang yang ada, saya menyanjungi watak Ibrahim di dalam drama bersiri ini.

Watak itu digambarkan sebagai seorang yang berjaya, kesederhaan di dalam kehidupan walaupun figura korporat (tidak ada babak di padang golf, kereta mewah dipandu oleh pemandu, tiada mesyuarat projek juta-juta dan lain-lain lagi) tersepit di antara hati dan perasaan terhadap seorang anak yang pernah hilang dan kini kembali…kerenah seorang isteri dan bermacam lagi tidak membuat Ibrahim cepat melatah. Setiap masalah yang datang ditangani dengan baik, tenang dan praktikal termasuk soal Khalil. Hubungan yang masih baik dengan bekas isterinya Nora meletakan Ibrahim di satu tangga yang patut dibanggakan.

Sebagai penonton kita sepatutnya mengambil serba sedikit pengajaran di dalam cerita ini. Cerita ini penuh dan sarat dengan kupasan kehidupan bukan sekadar kisah cinta untuk kita menjadi taksub tanpa mencari erti di sebaliknya.

Mesej yang ada terlalu banyak dan mendalam. Salah satu daripadanya adalah hubungan sesama insan. Kita dimukabumi ini punya tanggungjawab sesama manusia tidak kiralah yang baru dikenali ataupun sudah lama dikenali.

Setelah meneliti perjalanan cerita ini sekali lagi saya merasakan dan berpendapat di kali ini kisah cinta yang ada hanyalah penyeri cerita. Kita diminta mencari erti yang lebih mendalam kepada setiap watak yang dipaparkan…baik watak utama ataupun watak sampingan.

Sekali lagi kudos kepada team Cinta Jangan Pergi. “Read between the lines” memberi kesan yang amat berlainan dipenerbitan drama ini. Besar kemungkinan ia satu percubaan membawa drama Melayu ke tahap yang lebih tinggi bagi menguji kepekaan penonton bukan sekadar buaian perasaan di dalam percintaan.

Tulisan bersama : Sana’a dan Ally 01/07/13

Bercerita lagi…Cinta Jangan Pergi

Kisah masih berputaran jawapan masih dalam kesamaran cinta terjalin kini menemui jalan buntu dan tanpa restu. Cemburu serta perasaan mahu memiliki menjadi dendam kesumat sehingga tidak ada lain yang difikirkan kecuali menggenggam apa yang diidam.

Penyiar Cinta Jangan Pergi memberikan beberapa clue sejak semalam seperti apakah Khalil dan Lea akan terpisah lagi? Kenapa Lily menemui kunjungan Ibrahim (ayah Khalil) dan Khalil menemui jalan buntu tentang hubungannya dengan Lea Soraya.

Tidak cukup dengan itu TV9 juga bertanya apakah yang Shireen mahukan daripada Khalil dan Lea terus dimarahi oleh EL. Seperti sebelum ini semua tahu termasuk saya bahawa Cinta Jangan Pergi adalah sebuah drama bersiri yang di dalamnya diletak rencah-rencah kehidupan. Sebuah drama berat yang mempunyai banyak tanggapan dan tafsiran namun kita tidak terlepas dari bercerita lalu mengaitkan isi cerita ke alam nyata.

Dari apa yang dilalui oleh Khalil dan Lea sebenarnya telah banyak berlaku di dalam masyarakat kita di hari ini yang mana lebih menyedihkan ada yang berlaku kepada pasangan yang sudah berumahtangga. Bertemu dengan tidak sengaja mungkin di majlis alumni, Facebook twitter serta laman sosial yang lain membuat ramai yang gembira dan tidak kurang juga ada yang menyambung kisah lama. Perceraian menyusul kepada pasangan yang telah berumahtangga dan putusnya ikatan pertunangan kepada yang telah bertunang. Semuanya ini adalah soal perasaan yg tidak dapat dibendung apabila bertemu kembali dengan kekasih lama.

Perit dan derita tiada siapa yang tahu. Menanggung rasa rindu terhadap orang yang di cintai dan di dalam masa yang sama berpura-pura dihadapan suami/isteri/tunang/kekasih baru/kekasih sedia ada. Itulah yg dihadapi oleh Khalil dan Lea sebagai contoh kepada ramai pasangan yang tidak pernah kita kenali dialam realiti. Khalil, Lea, Hud, Shireen serta pemegang watak-watak lain di dalam drama Cinta Jangan Pergi menghidupkan dilemma yang berlaku disekeliling kita. Sama ada kita mahu percaya atau sebaliknya bahawa ia wujud di alam realiti terpulanglah kepada kita semua.

Apakah dada yang kosong membawa kepada persoalan ini atau genggam bara api biar sampai jadi abu menjadi pegangan. Sebagai seorang yang punyai kenalan dari berbagai golongan masyarakat saya cuba mencari sedikit kebenaran di dalam hal ini. Puratanya mengatakan bahawa sudah tiada jodoh dengan pasangan yang dahulu dan untuk apa dipendam perasaan kalau tidak bahagia? Apabila saya lontarkan soalan kenapa perlu curang ramai yang terdiam pada awalnya dan alasan paling biasa adalah kerana anak-anak. Huhh berputar sekejap dunia saya mendengarkannya. Andai itulah jawapannya ia amat menyedihkan kerana berada di dua dunia yang tidak membahagiakan.

Di antara babak-babak di dalam Cinta Jangan Pergi kita juga pasti mempunyai pandangan dan penerimaan yang berbeza. Contoh yang ada…Lea hanyalah tunangan Hud, perlukah Lea menjaga Hud seperti seorang isteri? Tidak dinafikan Hud perlukan sokongan semasa menghadapi saat getir hidupnya akan tetapi apakah perlunya Lea berada di hospital sehingga menyediakan makanan untuk Hud dirumah? Begitu juga dengan Khalil yang membawa “lari” Lea. Tidak dinafikan Lea dan Khalil perlu duduk berbincang dan jauh dari orang lain namun perlukah mereka “lari”? Di sini saya merasakan bahawa Lea yang patut menentukan perjalanan hidupnya.

Dihimpit oleh dua orang lelaki sememangnya payah dan pastinya penonton juga dapat melihat dengan jelas sikap Lea terhadap Khalil dan Hud dari awal lagi. Oleh kerana rasa yang dalam, Lea memaafkan Khalil dengan mudah walaupun dia tersakit oleh perbuatan Khalil di awalnya. Bersama Khalil kita melihat Lea gembira dan bahagia. Satu perkara yang amat saya sedari adalah Lea boleh bercakap apa saja dengan Khalil seperti rasa bimbang dan takutnya menghadapi mamanya nanti apabila pulang dan bagaimana untuk berhadapan dengan Hud. Begitu juga apabila Lea memberitahu Khalil bahawa Hud berada di hospital. Dengan mudah juga Lea memberitahu Khalil bahawa dia tidak sanggup memberitahu Hud untuk berpisah dengannya. Walaupun Khalil menunjukan kekerasan di peringkat awal akan tetapi akhirnya lentur juga. Babak-babak seterusnya menunjukan bahawa Khalil memahami keadaan Lea dan kemesraan mereka. Apakah ini yang kita panggil keserasian?

Sebelum kemunculan Khalil lagi kita seolah-olah dapat membaca perasaan Lea. Menghabiskan masa bersama Hud akan tetapi hati dan perasaannya tidak bersama Hud. Hadirnya Khalil di dalam dirinya kembali walaupun dengan tengking herdik tidak membawa Lea memberitahu Hud…kenapa ya? Apakah logik di sebalik tindakan Lea itu? Rentetan babak-babak serta episode selanjutnya membawa Khalil dan Lea di dalam kemelut yang tidak berkesudahan.

Kerana itukah berlakunya perceraian dan putusnya hubungan insan? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah ikatan? Apakah restu memainkan peranan? Sejauh mana pula pengaruh kawan-kawan serta nasihat keluarga di dalam sebuah perhubungan? Orang selalu berkata semuanya ada “give and take” lalu tepuk dada tanyalah selera. Sekali lagi apakah benar begitu apabila kadar perceraian di kalangan pasangan beragama Islam melonjak naik di awal tahun ini. Di beritakan dalam setiap 15 minit ada saja pasangan yang bercerai…aduhhh begitu longgarkah institusi kekeluargaan kita sekarang ini?

Fikir-fikirkan lah di dalam menikmati drama bersiri Cinta Jangan Pergi.

Buah fikiran yang terbatas…Sanaa 15/06/13

Note : Apa yang pasti cantuman dua hati ada banyak intipatinya dan yang sering dibicarakan adalah seperti pokok yang ditanam perlu disiram dan dibaja untuk hasil yang lumayan. Namun sejauh mana gambaran ini dapat bertahan? Mungkin pokok menjadikan lambang peribahasa Melayu kerana sampai masa walaupun disiram dan dibaja, pokok itu akan mati jua lalu ia adalah sama dengan putaran hidup manusia…walaupun kita menjaga tubuh badan dengan baik apabila tiba masa ajal pasti menjemput kita. Lalu di sinilah perpisahan akan terjadi dengan secara semulajadi.

The Personality Characteristic

Hello dear friends and readers…very pleasant morning to all

I didn’t really know what’s going on for me to leave this column for long and without any news…to brighten up my day I’m sharing today the four domain characteristic and behavior for our reading pleasure. I’m hoping by sharing this short write-up it will be beneficial to us to understand ourselves and others. I do believed it will be a tremendous help by knowing the four characteristic in our day-to-day life. It is not being busy body but will increase our knowledge being with our circle of friends, colleagues, acquaintance, neighbours or just anyone who cross our path. It’s also teaches us how to appreciate them in all circumstances.

I first read the book titled “The Personality Plus” written by Florence Littauer in 1995. I was force to read the book due to my job scope. After reading it and try to understand each group I find it easier to manage the group of people I’m dealing with at that particular time. As time goes by I use it just as a reminder to myself where and when to be cautious, courteous, out-spoken, stand for my right, voicing opinion and many more.

That’s all for now and may this short articles make it easier for our reading. Have a good and bless day everyone. Take care

Love

Sanaa 11/06/13

*****

THE MELANCHOLY PERSONALITY

Do you have the melancholy personality? If you do, then you probably noticed that you’re creative, respectful, analytical, and thoughtful. The most appropriate word for you is ‘thinker’. Unlike the extroverts, you are very careful with your actions because you’re sensitive to their needs. These are your strengths. But you see, the coins have two sides and so if you have strengths, you also have weaknesses.

As the word suggests, you care very moody. There are times when you feel happy but then after a couple of minutes, you feel depressed or sad. Melancholy personalities have the tendency to be suspicious, critical, and pessimistic. Others won’t find it easy to please you because you’re always fuzzy with the details. Still, you can create lasting friendships.

Striving for perfection is not wrong but there are times when you expect too much from others because of your ‘perfectionist’ attitude. You need to realize that not all people are like you so you have to accept them for who they are. The lives of melancholy persons are usually in order and their creativity shows in their everyday work. In terms of friendship, you are self sacrificing which means that your loyalty is unending.

Among your positive traits are serious, purposeful, musical, artistic, talented, conscientious, idealistic, poetic, philosophical, and genius prone. Once you establish your own family, you usually set high standards and you want everything to be done right. The home is always in proper order. It is also common for parents having this personality to encourage talent and scholarship. The melancholy personality is also willing to sacrifice for their children’s well being.

Your employer believes in you because you tend to be schedule oriented. You have high standard, keeps things organized, economical, tidy, neat, detail conscious, and is able to identify creative solutions with ease. However, you are not a people-oriented person and hesitate to begin new projects. You also need constant approval from your employer to ensure that you’re on the right track. Consuming too much time with the planning aspect can be a waste of time and effort especially when others were able to finish ahead of you.

You find it very easy to make friends although you are extra cautious. You don’t want to cause too much attention since you would rather prefer to stay in the background. Your friends adore you and usually depend on you to help them solve your problems. Among the negative attitudes that are seen in melancholy people are socially insecure, skeptical, remote, withdrawn, and don’t want to be opposed.

True enough the melancholy person is far better than the aggressive extroverts. However, this doesn’t mean that you will no longer try to improve your weaknesses. Now that you know your strengths, you can use them to your advantage. Try to work on your weaknesses so that you can also convert them into strengths. This can be hard at first but you have to stay focused. The melancholy personality is an ideal personality as long as you’re able to control your weakest points.

THE SANGUINE PERSONALITY

If you’re an extrovert, then you have the so called Sanguine personality. These people are optimists and talkers. For those who want to learn more about this personality, read on and you will find out about your strengths and weaknesses.

Strengths

Being talkative has its advantages. You can easily liven up a party with your presence because of your ‘storyteller’ attitude. With your appealing personality, you can easily attract others and make friends. Many people will admire you for your sense of humor, cheerfulness, and enthusiasm.

People with this type of personality volunteers for certain jobs and helps in creating new activities; they can instantly inspire others to work and join the fun. It’s no longer a surprise that Sanguine people have many friends. They basically love people and don’t hold grudges. If they commit a mistake, they will readily apologize.

If you have this type of personality, you can be a great parent. The home will have a fun atmosphere and you can develop ‘friendship’ with your children. Even your children’s friends will love your company. Amidst the disaster, you will still find humor. The child in your is always at work.

These are among the strengths of someone with the Sanguine personality. Despite the strengths, you also have to know about the weaknesses. Read on to find out.

Weaknesses

As a compulsive talker, you will often elaborate and exaggerate stories which can scare others away. You are naïve, always complaining, angered easily, and speaks loudly. With your restless energy, others won’t be able to keep up with you.

At work, Sanguine people prefer to talk a lot and tend to forget their obligations. Their confidence also disappears instantly and their decisions are based primarily on feelings. You probably don’t want to be alone and makes excuses. You are forgetful and fickle which makes others hate you.

As a parent, the home is frenzy and disorganized. When there are arguments, you tend to be one-sided and you also tend to forget important appointments.

Sanguine people are focused and centered. The only time you find them silent is when they are asleep! It’s great to be fun loving and always full of bright ideas but the real problem is that you don’t ‘follow through’. With this weakness, problems may arise at work, at home, and even with friends.

No one is perfect and if you have this personality, you can always make a commitment so that you can follow through. You can do this by focusing on at last two activities. You have to do your best to avoid distractions. Aside from that, you also need to appreciate your inner self. There’s more to life than just pure fun and humor. Everything you do should have meaning. Find worthy activities that you can support like charity. Having depth is vital as a person and if you don’t want to scare off others, you need to learn to appreciate their good sides. The Sanguine personality has strengths and weaknesses but it’s up to you to become a better person.

THE CHOLERIC PERSONALITY

Many businesspersons and sportsmen out there possess the Choleric personality. If you have this type of personality, you are an extrovert. The good thing about being a choleric is that you are a born leader. You possess qualities like being active, dynamic, decisive, strong willed, self sufficient, independent, unemotional, and not discouraged easily. You area person exuding with confidence and you can run almost anything. However, your negative traits can also affect you such as being bossy, impatient, can’t relax, quick tempered, enjoys arguments or controversies, unsympathetic, and too impetuous.

When you become a parent, you are the dominant type and you barely have time for your family. When the rest of the family members give poor performance, you become impatient. Your children will find it hard to relax in your presence and can even lead to depression. The good thing about you as a parent is that you can teach your children on how to establish their goals in life. The home is also kept organized and you encourage your kids to take action and possess sound leadership.

As a friend, you don’t do well with making a lot of friends. You want to lead and you can excel in emergencies. Other people will stay away from you because you tend to become a user, domineering, too independent, unpopular, makes decisions in behalf of others, knows a lot, and too possessive. This may be the reasons why a person with a Choleric personality has very few friends.

In the workplace, you are goal oriented, organize well, delegates work, stimulate activity, look for practical solutions, move quickly, and encourage production. However, as a leader, your subordinates may not appreciate your bored trivia, manipulation capabilities, and the demand for loyalty. You tend to make harsh decisions, is tactless, and rude. When you encounter an obstacle, you see it as a challenge and opportunity at the same time. This is your chance to solve yet another problem! With your positive traits, you can easily motivate other people.

It’s no longer a surprise that you can love, work, and live intensely. Once you decide or focus on something, you will do everything you can to achieve it. You’re the type of person who is always on the go. If you want to see improvements in your life, you need to take things slowly. Slow down… there is nothing wrong in giving yourself and others some time. Before you act on something, you have to think things over. By doing so, you will be able to identify the consequences of your actions and how your decisions affect other people.

Being a workaholic can have its advantages but you also need to spend time with your family. You have to keep in mind that the family is the most important of all. Besides, you’re working to provide for your family’s needs right?

THE PHLEGMATIC PERSONALITY

Whether you’re at work, in the local community, or at home, you won’t be misunderstood especially if you know that you have the Phlegmatic personality. It’s very important that other people understand your behavior and personality in order to foster effective communication. Among the emotions that you constantly display are relaxed, easy going, consistent, kind, sympathetic, witty, and quiet, collected, cool, and calm. However, you also should be aware that negative emotions can also dominate you like being unenthusiastic, worried, fearful, indecisive, selfish, avoids responsibility, reticent, too shy, too compromising, and self righteous.

Once you have a family of your own, you can be a good parent. You tend to give your children enough time and you’re not hurrying unlike others. You are also not easily upset. However, since you usually take life easily, you tend to be lax with the children and so the home becomes disorganized.

As a person with this kind of personality, you are steady and competent in the workplace. Your co-employees will find you agreeable, peaceful, and even has the capability of managing administrative positions. You can mediate problems to avoid conflicts. Regardless of the pressure at work, you can still perform your duties and responsibilities well. still, you need to correct some negative attitudes like being careless, lazy, not self motivated or goal oriented, don’t want to be pushed, and tends to discourage others. These are the worst things that a Phlegmatic personality can do at work.

Since you’re pleasant, enjoyable, and inoffensive, you can make a lot of friends in a short time. You are a good listener, has concern, compassion, and sense of humor. There is no wonder that you have a wide circle of friends. You might have noticed that you judge others easily, resists change, stays uninvolved, and dampens enthusiasm. These are some negative traits that you need to correct or you will lose your friends.

Like other personalities, a Phlegmatic person has strengths and weaknesses. It is vital that you study your personality carefully so that you can evaluate which aspects need improvement. These are the general traits possessed by someone with this kind of personality but it doesn’t mean that you exhibit them all. Some traits are visible but some are just waiting to be developed. Hopefully, you can control your negative traits so that you can be a more productive person but then again, no one is perfect.

With this knowledge, you have the opportunity correct your bad traits and develop further your good points. There are times when you find yourself overindulging on the negative side but with the right knowledge, you can be back on track once more. Basically, you possess traits that can easily attract others and so winning friends is not a problem. You simply have to let go of your selfishness and self righteousness to keep long lasting friends.

Sources : http://prepareforpsychologicaltest.com/

The biography of Florence Littauer :http://en.wikipedia.org/wiki/Florence_Littauer

Note: To know ourselves better and for the fun of it try take the personality test online. Google it and you get many website doing many types of personality test. Try even colour personality test…you might feel amazed with the interpretation. Good luck…

Compiled by : Sanaa 11/06/13

Cermin Diri

Sudah terlalu lama rasanya saya tidak benar-benar menulis sebuah artikel. Telah beberapa kali mencuba menulis namun keadaan kerja yang mendesak menjadikan ketandusan idea yang berpanjangan. Begitu jugalah dengan hari ini walaupun topic yang ada amat elok untuk dikupas dengan mendalam. Namun begitu demi meleraikan rasa yang terbenam di lubuk hati, sedikit sebanyak pembacaan dari blog-blog yang ada saya kepilkan di bawah ini untuk tatapan kita bersama.

Tajuk di atas sebenarnya telah berputar lama…tatkala terkenangkan hampir setahun pemergian ayahanda yang dikasihi. Teringat kembali saya ketika arwah sakit di bulan-bulan akhir hayatnya. Ketika dirinya kembali seperti anak kecil yang semua keperluan perlu diuruskan oleh orang lain. Tidak seharipun terlintas di fikiran saya bahawa suatu hari nanti saya menyempurnakan tugas tersebut. Namun tanggungjawab sebagai anak saya laksanakan walaupun seorang perempuan. Semasa arwah dirawat di hospital ada juga yang bertanya tidak ada saudara lelaki ke yang boleh menjaga arwah waktu itu. Saya sekadar membalas dengan senyuman.

Di minggu-minggu terakhir keadaan menjadi lebih sukar apabila suara dan butir bicaranya makin perlahan, sekadar angguk dan geleng serta menunjuk jari ketika memerlukan sesuatu. Setiap pagi, tengahari dan petang semasa membersihkan dirinya dan waktu diantaranya juga terdetik di hati saya, siapakah yang boleh saya harapkan andainya satu hari nanti saya terlantar begitu. Apakah nanti mampu anak-anak saudara yang dibelai waktu ini meluangkan masa dan tenaga menjaga seorang ibu saudara yang telah uzur? Apakah nanti diizinkan oleh suami ataupun isteri mereka? Sudah pasti diwaktu mendatang masing-masing punya tanggungjawab sendiri untuk dilaksanakan.

Saya teruskan pertanyaan kepada diri kerana teringat pula leteran ibu saudara yang mengatakan anak-anak mereka melebihkan kawan dari keluarga dan saudara mara. Ini adalah kebenaran kerana saya tidak bertemu dengan seorang sepupu perempuan telah agak lama. Setiap kali berada di majlis kesyukuran keluarga atau kenduri kendara, sepupu ini tidak datang. Pastinya kami tertanya-tanya. Keluh kesah ibu saudara saya kerana malu barangkali kepada anak-anak saudara serta ipar duai yang lain. Dah dinamakan kita ni manusia, sedikit sebanyak umpatan akan keluar juga. Apabila dah kerap sangat tidak datang bila dijemput, terlepas juga mengumpat dan mengata. Apabila itu terjadi mestilah kesalahan diletakan di bahu ibu bapa. Hmmm…pusing kot manapun tentu ibu bapa yang terkena.

Kawan…Sahabat…Rakan dan Kenalan datang dalam hidup kita dengan cara yang berbeza-beza serta niat dan hasrat yang berbeza jua. Di antara empat kategori ini, yang manakah nanti dapat menyempurnakan tanggungjawab menjaga kita semasa kita menderita sakit? Siapakah di antara empat ini yang mampu membasuh najis kecil dan besar kita nanti? Anak-anak juga belum tentu dapat melaksanakannya.

Oleh itu kita sebagai yang tua mengambil peranan untuk memberi nasihat dan pesanan kepada anak-anak muda ini, tidak kiralah sama ada darah daging sendiri, saudara mara ataupun jiran tetangga. Namun persoalannya berapa ramaikah yang mahu mendengar nasihat-nasihat begini sekarang. Alasan usia masih muda dan perlu keseronokan adalah paling popular kedengaran. Ada di antara mereka hingga lupa bahawa hidup ini adalah sementara. Kenapa sekarang ramai yang menggunakan alasan masih muda?

Saya dan kawan-kawan yang lain juga pernah muda namun alasan masih muda itu tidak kedengaran dahulu. Apakah mungkin dengan tanggungjawab yang terpikul di bahu kami tidak memberi ruang kepada kami untuk hanya mengejar keseronokan. Bukan kerana ibu bapa menghalang akan tetapi atas kesedaran bahawa kedua ibu bapa kami telah bersusah payah mengeluarkan wang belanja dan berdikit dalam semua perkara ketika kami menuntut dahulu. Di waktu usia lingkungan pertengahan 20′an saya tahu saya mesti bekerja dan menyalurkan bantuan pula kepada adik-adik yang masih belajar.

Di sini sekali saya bertanya…apakah tahap pendidikan yang diterima oleh golongan seusia saya dahulu membuatkan kami cepat dewasa dan kenakalan remaja yang kami lalui tidak memusnahkan diri serta memalukan keluarga dan masyarakat?

Kita digalakan berusaha keras dan gigih untuk mencapai kejayaan dan memperbaiki kehidupan dari masa ke semasa. Walaupun begitu janganlah kita lupa dan lalai kepada tuntutan-tuntutan sunat muakkad sebagai seorang mukmin. Jangan juga kita lupa apabila masuknya waktu, berhentilah seketika dari bekerja lalu tunaikan tanggungjawab kita sebagai hambaNYA dimukabumi ini.

Sedikit waktu yang kita peruntukan untuk menyempurnakan tanggungjawab kita kepadaNYA, mampu memberi kita kewarasan akal dalam memilih jalan kehidupan yang teratur dan berkat. Dugaan yang datang tanpa henti juga mampu kita tangani dengan kesabaran. Mungkin kita tidak punya wang berjuta akan tetapi kita punyai keluarga yang penyayang dan prihatin yang membentuk peribadi mulia. Tidak kira sama ada saudara mara ataupun kawan…sahabat…rakan dan kenalan nasihat yang sudah sebati adalah kata-kata ketika ada semua mengelilingi kita dan ketika kantung kita kosong berterbanganlah semua.

Besar kemungkinan kepada sesiapa yang belum mengalami atau melalui pahit getir begini, kesedaran ataupun keinsafan tidak terlekat di hati walaupun berbuih nasihat diberikan. Akan tetapi ingatlah anak-anak muda sekalian, usia bukan penentu segalanya. Sakit tidak menanti tua, ajal jua bukan di tangan kita. Walaupun adakalanya nasihat dianggap bebelan dan mencerobohi hak seseorang individu namun cubalah lapangkan hati, bersihkan minda serta duduk sebentar meneliti dan mengupas segala yang berlaku dikeliling kita. Janganlah angkuh dan sombong dengan kedudukan yang ada, kecantikan wajah yang dikurnia Allah, ketampanan dan kecantikan pasangan kita, kerana setiap yang hidup pasti akan ada cabaran masing-masing. Hanya dengan iman yang teguh dan keikhlasan hati menerima teguran dan nasihat dapat membantu kita menghadapi masa-masa mendatang.

Percayalah bahawa dengan iman yang teguh serta keikhlasan, kejayaan akan dapat diraih dan dikecapi dengan bahagia yang penuh erti. Jangan sesekali mengizinkan orang-orang disekeliling kita baik saudara mara serta empat kategori kawan yang ada bersama kita di kala senang sahaja. Didiklah mereka untuk menjadi sahabat sejati di mana masa ketawa mereka bersama dan di masa berduka airmata mengalir sama. Kekuatan fizikal yang kita miliki sekarang akan hilang tanpa kita sedari akan tetapi keimanan yang teguh menjanjikan senyuman sehingga kakunya sekujur tubuh.

“People say don’t judge the book by it’s cover BUT we are judged by friends we have and book we read”.

Seorang teman pernah berkata bahawa masyarakat adalah cermin kita dan setiap tingkah laku kita mempunyai “reflection” tersendiri di kacamata masyarakat. Baik ataupun buruk kehidupan kita, kitalah yang mencorakannya.

Alangkah indahnya dan berkat sungguh andai beroleh ‘RASA SENANG DI LUAR DAN RASA TENANG DI DALAM’ Tidak perlu ditunjuk-tunjuk…cahaya wajah mengiyakan segalanya.

Written by : Sanaa 18/02/13

*****

Perbezaan Maksud Antara Sahabat, Kawan, Rakan Dan Kenalan

Definisi kawan dan sahabat kadangkala dianggap mengelirukan bagi sesetengah individu. Berikut adalah definisi atau maksud bagi istilah sahabat, kawan, rakan dan kenalan.

Sahabat

Sahabat adalah orang yang memiliki rasa tanggungjawab terhadap diri kita, tetapi tidak memiliki hubungan darah. Dalam erti kata lain, sahabat bukan terdiri daripada adik-beradik tetapi berupaya mewujudkan hubungan yang mirip hubungan persaudaraan antara adik-beradik. Sahabat adalah orang yang banyak memberi manfaat dan kebaikan kepada kita, dan kita juga begitu.

Sahabat adalah seorang yang setiakawan, boleh membantu apabila kita berada di dalam kesusahan, meredakan kesedihan ,menghilangkan kebimbangan dan sanggup berjuang demi kebaikan kita. Sahabat adalah orang yang mampu menyimpan rahsia dan keaiban kita. Mereka akan sentiasa melindungi kita.

Sahabat tidak semestinya memiliki minat atau pendapat yang sama dengan kita, tetapi mereka akan sentiasa ada apabila kita memerlukannya. Sahabat adalah orang yang membuatkan berasa selamat apabila mereka ada bersama-sama, sebab mereka adalah orang yang sangat setiakawan. Sahabat adalah orang-orang yang sangat menyayangi kita.

Sahabat kadangkala adalah penjaga, pelindung dan semangat mereka akan sentiasa ada bersama kita.

Kawan

Kawan ialah seorang yang boleh berkongsi lebih dari satu perkara seperti minat, hobi, perasaan, perjuangan dan sebagainya biarpun bukan dari organisasi yang sama. Kawan ialah orang yang selalu berinteraksi dengan kita dan mengenali beberapa fakta peribadi mengenainya.

Kami selalu memiliki masa untuk bersama, bergembira, berseronok dan sebagainya. Kawan biasanya terjadi apabila seseorang itu menemui individu yang lain, yang memiliki persamaan seperti hobi, minat, sikap, tabiat dan pemikiran yang sama dengan dirinya. Kita selalunya berasa seronok dan terhibur apabila berada bersama-sama kawan .
Kawan mungkin boleh berkongsi kesedihan dan kegembiraan, tetapi mereka selalunya tidak akan pergi lebih jauh daripada itu. Malah, sekiranya tidak sependapat, hubungan kawan mungkin boleh terputus.

Rakan

Rakan ialah perantaraan antara kawan daan kenalan. Rakan ialah orang yang berkongsi minat, kerjaya, hobi, permainan, guru, kelas, matlamat dan sebagainya dalam satu organisasi atau kumpulan seperti persatuan, kelab, syarikat, pertubuhan dan sebagainya. Contohnya, ada rakan satu tingkatan, rakan satu sekolah, rakan satu kelab dan sebagainya.

Rakan biasanya orang yang boleh mewujudkan kerjasama. Contohnya boleh belajar bersama-sama dengan rakan sekelas, boleh membuat tugasan berkumpulan bersama-sama rakan satu tingkatan, bekerjasama dengan rakan-rakan sepasukan untuk menewaskan pihak lawan dalam pertandingan bola sepak, dan rakan-rakan sekerja mengadakan mesyuarat untuk syarikat kami dan sebagainya.

Ada rakan yang rapat, ada pula rakan yang boleh dianggap sebagai sahabat, ada pula rakan yang boleh dianggap sebagai kawan, dan ada pula rakan yang hanya boleh dianggap sebagai kenalan.

Kenalan

Kenalan mungkin wujud sebagai rakan. Contohnya rakan chatting, rakan siber dan rakan blogger. Apabila mengenali seseorang itu dalam bentuk atau identiti tertentu, maka dia adalah kenalan. Kenalan adalah orang yang pernah berinteraksi dengan kita tetapi tidak dapat mengesahkan identiti atau kewujudan sebenarnya. Kita perlu berwaspada dengan kenalan-kenalan siber kerana, di luar alam siber, mereka tidak semestinya orang yang sama seperti yang kita pernah kenal di internet.

Kenalan boleh meluahkan perasaan mereka, masalah mereka kepada menerusi ruangan komen, e-mel dan kemudahan-kemudahan interaksi yang lain di internet, tetapi tidak 100% boleh dipercayai. Kenalan kadangkala wujud sebagai satu hiburan, tetapi kadangkala tidak mustahil mereka boleh memberi kebaikan kepada menerusi perkongsian pendapat, idea dan penyelesaian masalah.

Sumber Asal : http://www.gelagatkita.com/

Di petik dari : http://www.gempak.org/forum/showthread.php?t=86438

*****

A friend is someone who understands your past, believes in your future and accepts you just the way you are.

True friends are very hard to come by, but when you recognize someone as being a true friend then you should do you best to hold on to them. Just because someone has been in your life for a long amount of time does not necessarily mean that they are a true friend. Someone who is accepting of your past and that believes in your future will create a positive presence in your life. A true friend will never try to change you because they will love the real you, unless they notice that you aren’t acting as yourself.

A true friend will never be envious of your accomplishments, and will never try to copy your style, which is also an indication of envy. A true friend will be there for you through thick and thin, even when they know that you are wrong, they will stick with you until you are able to make things right. A true friend will push you towards greatness, and not pull you away from it. Most of all a true friend will love you unconditionally, with no strings attached. Who are your true friends?

http://www.searchquotes.com/viewimage/Definition_Of_A_True_Friend/299/

*****

SAHABAT SEJATI

“Sebaik baik sahabat disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya” (H.R al-Hakim)

‘Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati..’

ALLAH SWT mencipta makhluk di atas muka bumi ini berpasang-pasangan. Begitu juga manusia, tidak akan hidup bersendirian. Kita tidak boleh lari dari berkawan dan menjadi kawan kepada seseorang. Jika ada manusia yang tidak suka berkawan atau melarang orang lain daripada berkawan, dia dianggap ganjil dan tidak memenuhi ciri-ciri sebagai seorang manusia yang normal.

Inilah antara hikmah, kenapa Allah SWT mencipta manusia daripada berbagai bangsa, warna kulit dan bahasa. Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 13, yang bermaksud:

“Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan berpuak-puak, supaya kamu berkenal-kenalan(dan beramah mesra antara satu sama lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang lebih bertakwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui, lagi maha mendalam pengetahuanNya.’

DALAM Islam faktor memilih kawan amat dititikberatkan. Hubungan persahabatan adalah hubungan yang sangat mulia, kerana kawan atau sahabat berperanan dalam membentuk personality individu. Ada kawan yang sanggup bersusah-payah dan berkongsi duka bersama kita, dan tidak kurang juga kawan yang nampak muka semasa senang dan hanya sanggup berkongsi kegembiraan sahaja.

Pendek kata sahabat boleh menentukan corak hidup kita. Justeru, jika salah pilih sahabat kita akan merana dan menerima padahnya. Selari dengan hadith Rasululah saw yang bermaksud: “ Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh itu hendaklah seseorang itu meneliti siapa yang menjadi temannya” (H.R Abu Daud). Bak kata pepatah Arab, “ Bersahabat dengan penjual minyak wangi, kita akan menerima percikan wangiannya, manakala bersahabat dengan tukang besi, percikan apinya akan mencarikkan baju kita.”

Apakah ciri-ciri seorang sahabat yang baik? Seorang bijak pandai berpesan kepada anak lelakinya: “Wahai anakku, sekiranya engkau berasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut:

Jika engkau berbakti kepadanya, dia akan melindungi kamu;

Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas balik persahabatan kamu;

Jika engkau memerlu pertolongan daripadanya, dia akan membantu kamu;

Jika engkau menghulurkan sesuatu kebaikan kepadanya, dia akan menerimanya dengan baik;

Jika dia mendapat sesuatu kebajikan (bantuan) daripada kamu, dia akan menghargai atau menyebut kebaikan kamu;

Jika dia melihat sesuatu yang tidak baik daripada kamu, dia akan menutupnya;

Jika engkau meminta bantuan daripadanya, dia akan mengusahakannya;

Jika engkau berdiam diri (kerana malu hendak meminta), dia akan menayakan kesusahan kamu;

Jika datang sesuatu bencana menimpa dirimu, dia akan meringankan kesusahan kamu;

Jika engkau berkata kepadanya, nescaya dia akan membenarkan kamu;

Jika engkau merancangkan sesuatu, nescaya dia akan membantu kamu;

Jika kamu berdua berselisih faham, nescaya dia lebih senang mengalah untuk menjaga kepentingan persahabatan.

Dia membantumu menunaikan tanggungjawab serta melarang melakukan perkara buruk dan maksiat

Dia mendorongmu mencapai kejayaan didunia dan akhirat.

Sebagai remaja yang terlepas daripada pandangan ayah ibu berhati-hatilah jika memilih kawan. Kerana kawan, kita bahagia tetapi kawan juga boleh menjahanamkan kita.

Hati-hatilah atau tinggalkan sahaja sahabat seperti dibawah:

sahabat yang tamak: ia sangat tamak, ia hanya memberi sedikit dan meminta yang banyak, dan ia hanya mementingkan diri sendiri.

sahabat hipokrit: ia menyatakan bersahabat berkenaan dengan hal-hal lampau, atau hal-hal mendatang; ia berusaha mendapatkan simpati dengan kata-kata kosong; dan jika ada kesempatan membantu, ia menyatakan tidak sanggup.

sahabat pengampu: Dia setuju dengan semua yang kamu lakukan tidak kira betul atau salah, yang parahnya dia setuju dengan hal yang tidak berani untuk menjelaskan kebenaran, di hadapanmu ia memuji dirimu, dan di belakangmu ia merendahkan dirimu.

sahabat pemboros dan suka hiburan: ia menjadi kawanmu jika engkau suka pesta , suka berkeliaran dan ‘melepak’ pada waktu yang tidak sepatutnya, suka ke tempat-tempat hiburan dan pertunjukan.

Hati-hatilah memilih kawan, kerana kawan boleh menjadi cermin peribadi seseorang. Apa pun berkawanlah kerana Allah untuk mencari redha-NYA.

Dipetik dari : http://mimpilalu.blogspot.com/2012/03/sahabat-sejati-menurut-perspektif-islam.html

*****

Menjaga Kerukunan Hidup Bermasyarakat

Hadith:

DARI Abi Hurairah r.a katanya : Telah bersabda Rasulullah SAW : Janganlah kamu saling dengki-mendengki, janganlah kamu saling tipu-menipu, janganlah kamu saling belakang-membelakangi dan janganlah kamu menjual di atas jualan setengah daripada kamu dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara.

Orang Islam adalah saudara kepada orang Islam yang lain, tidak boleh ia menganiayai dan tidak boleh membiarkannya (dalam kehinaan) serta tidak boleh mendustai dan tidak boleh menghinanya.

Taqwa itu di sini (Nabi berkata sambil menunjukkan ke arah dadanya tiga kali) Sudah cukup banyak kejahatan seseorang itu bahawa ia merendahkan saudara seIslamnya.

Sekalian orang Islam atas orang Islam yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.

Riwayat Muslim

Huraian Hadith:

Mengharungi kehidupan pada zaman serba moden ini memperlihatkan kepada kita akan struktur hidup bermasyarakat Islam hari ini menjadi semakin terlalu individualistik.

Sesungguhnya sebagai agama keamanan, Islam sangat menuntut umatnya supaya menghormati sesama manusia. Antara perkara yang harus diberikan perhatian ialah seperti menjaga keselamatan nyawa daripada berlaku pembunuhan sesama sendiri, menjaga maruah di dalam masyarakat daripada segala fitnah, tuduh-menuduh dan hasad dengki, menjaga keselamatan harta benda dan sebagainya daripada kecurian, rompakan pencerobohan dan lain-lain.

Sebagai seorang Muslim kita mestilah menghormati maruah individu Muslim yang lain kerana setiap individu mempunyai hak dan tanggungjawab, seperti hak untuk dihormati oleh orang lain dan tanggungjawab untuk menghormati orang lain.

Antara sebab mengapa puak Yahudi suka melakukan kezaliman terhadap umat Islam adalah dek kerana sikap tidak ambil peduli yang berlaku antara sesama umat Islam hari ini.

Justeru musuh Islam berani bertindak sesuka hati menindas rakyat Palestin serta merampas tanah mereka sedangkan Israel pada hakikatnya dikelilingi negara Arab yang jumlah rakyatnya jauh lebih ramai daripada mereka.

Namun malangnya mereka hanya mampu melihat kezaliman rejim Zionis ini tanpa mampu untuk berbuat apa-apa.

Sebetulnya umat Islam harus hidup sepertimana yang disebut dalam pepatah Melayu cubit paha kiri, paha kanan terasa sakitnya.

Dengan perkataan lain, jika kita inginkan segala kebaikan untuk diri kita, maka kita juga ingin umat Islam lain juga menikmati kebaikan itu.

Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

Pengaruh Rakan/Teman/Keluarga

Sepanjang minggu lalu ada saja terdengar berita kawan-kawan serta sahabat handai yang kurang sihat. Tidak terkecuali dengan diri saya sendiri. Faktor usia serta pengaruh cuaca di hujung tahun begini dijadikan alasan batuk, demam dan selsema menyerang. Memang tidak dapat dinafikan setiap kali bercerita tentang penyakit mesti berkaitan dengan musim serta keadaan cuaca yang tidak menentu.

Apabila diamati keadaan sebegini, kita sedapat tidak harus dan mesti mengakui bahawa di peringkat manapun kita berada keadaan sekeliling tetap mempengaruhi kita. Apabila musim panas tiba, tatkala diserang batuk dan selsema kita akan mengatakan cuaca adalah puncanya, begitulah juga apabila musim hujan tiba. Tidak akan pernah kita berkata bahawa tidak menjaga kesihatan dan beringat membuatkan kita jatuh sakit.

Keadaan alam sekitar juga mempengaruhi kehidupan kita. Alam sekitar yang bersih pastinya membuat kita merasa tenang, segar dan gembira. Persekitaran yang kotor pula sudah pasti membuat kita resah gelisah dengan bauan yang tidak enak. Begitu juga dengan suasana di dalam rumah dan juga halaman rumah kita sendiri. Bayangkan kalau kita punya halaman yang luas lalu diserikan oleh bunga-bungaan serta dedaunan yang tumbuh segar dan dijaga rapi, pastinya setiap kali kita berada di halaman tersebut kegembiraan terpancar.

Petikan kata di atas semuanya berlandaskan pengaruh terhadap kehidupan kita. Betapa besarnya pengaruh setiap kejadian ke atas diri kita sehingga boleh membuat kita rasa bahagia, kecewa dan juga tertekan. Itulah putaran hidup yang tidak akan lekang dari awal hinggalah akhirnya. Sepanjang kita menjalani kehidupan dari kecil hingga dewasa kita juga akan bertemu dengan berbagai halangan dan dugaan. Setiap dari dugaan yang datang sedikit sebanyak akan mempengaruhi perjalanan hidup kita. Sepanjang itu juga kita berkenal dengan ramai orang, misalnya semasa kita menyambung pelajaran di pusat-pusat pengajian tinggi, semasa kita bekerja ataupun semasa kita menunggu nombor giliran dipanggil di tempat-tempat awam. Seseorang yang peramah pasti akan tercetus bicara semasa menunggu walaupun untuk waktu yang singkat.

Pertemuan yang tidak terduga ini terbentuk oleh keadaan yang mempengaruhi di masa itu. Bosan menunggu barangkali ataupun melihat orang di sebelah resah dan bosan membuatkan naluri untuk bertegur sapa. Adakalanya pertemuan begini akan berkekalan menjadi sahabat dan juga kenalan keluarga. Di sini masih ada faktor yang mempengaruhi kan? Betapa kuatnya kuasa PENGARUH orang lain, keadaan sekeliling dan pengalaman sendiri dalam pembentukan jati diri kita dan juga kehidupan amnya.

Kuasa PENGARUH yang sering menjadi topik perbincangan masa kini adalah rakan sebaya. Dilema yang menghantui ramai ibu bapa dan juga penjaga kepada anak-anak belasan tahun yang ada di antara rakan sebaya menjalani kehidupan bebas tanpa batasan. Peningkatan peratusan kes-kes jenayah, dadah, hubungan sex bebas. sumbang mahram dan banyak lagi gejala sosial di kalangan remaja yang kebanyakannya bermula dan berpunca dari keruntuhan institusi kekeluargaan. Namun kita sering lupa PENGARUH yang ada di kalangan orang-orang dewasa ataupun pertengahan umur menjadi punca runtuhnya institusi kekeluargaan sekarang ini. Kita memandang serius kepada gejala pengaruh rakan sebaya sehingga kita lupa kepada pengaruh kalangan orang dewasa yang merupakan scenario lebih merbahaya dalam kehidupan kita. Seseorang dewasa sepatutnya mampu berfikir apa yang baik untuk diri, keluarga dan juga masyarakat serta mempunyai minda yang kuat untuk membezakan hasutan kawan-kawan sekeliling oleh kerana pengalaman yang telah dilalui.

Pada awalnya saya kurang pasti bagaimana untuk membezakan di antara PENGARUH dan HASUTAN. Akan tetapi setelah dibelek dan diteliti peranan PENGARUH banyak terjerumus kepada ikutan atau terikut-ikut dengan gaya hidup atau cara-cara orang sekeliling kita manakala HASUTAN pula adalah cakap-cakap yang dituturkan kepada seseorang sehingga orang yang dihasut itu percaya seratus peratus segala apa yang hendak disampaikan sehingga ada yang bertindak di luar dugaan. Di dalam kes-kes yg extreme dan kesan tekanan meningkat, seseorang boleh bertindak ganas. Mengikut kajian kedua kategori ini berada dalam golongan “sakit jiwa”. Cemburu juga hadir kadang kala dengan hasutan apabila telinga sudah sebati dengan pujuk rayu kawan-kawan yang menyimpan perasaan dengki terhadap kawan sendiri. Apabila perkara yang sama dituturkan setiap hari, otak mula berfikir berlandaskan nafsu lalu menghalangi akal.

Pengaruh yang baik pasti hasilnya baik…begitulah yang selalu dan biasa menjadi ingatan kepada kita oleh pakar-pakar motivasi. Kita disarankan untuk mengikuti dan belajar cara-cara orang yang telah berjaya dalam perniagaan dan kehidupan serta kerjaya mereka. Ada diantara mereka yang berkongsi pengalaman dan cara-cara untuk mencapai kejayaan. Apabila kita berada di dalam kelompok yang sebegini, kejayaaan serta kecekalan pasti dapat diperolehi walaupun tidak kesemuanya oleh kerana setiap orang mempunyai dugaan dan halangan yang berbeza-beza. Untung batu tenggelam untung sabut timbul…pepatah orang kita. Usaha tangga kejayaan dan disamping itu apabila mempunyai PENGARUH untuk berjaya yang kuat serta kekuatan mental serta fizikal semuanya menjadi mudah.

HASUTAN adalah penyakit masyarakat dan sering dikaitkan dengan ilmu sihir juga dan amat sinonim dikalangan orang Melayu. Hasutan adalah duri yang menjalar dalam diri seseorang apabila terbit perasaan irihati, cemburu, dengki serta dendam. Ia juga terbit dari perasaan ingin “memiliki” pasangan kekasih ataupun suami/isteri seperti kawan-kawan sekeliling. Ini adalah penyakit masyarakat yang paling bahaya. Rumahtangga hancur, persahabatan terlerai dan kehilangan harta-benda tidak terkecuali.

Semuanya ini berpunca dari perkara kecil sahaja akan tetapi merebak dengan luasnya apabila seseorang tidak mampu mengawal perasaan atau menangani masalah sendiri. Oleh itu berhati-hatilah mencari kawan ketika dilanda masalah. Bukan semua teman ataupun kawan boleh dijadikan tempat mengadu. Niat kita jujur dan kita jujur merasakan bahawa persahabatan yang terjalin merupakan sahabat susah dan senang. Akan tetapi kejujuran yang kita berikan sering disalah erti lalu timbul berbagai masalah yang tidak diingini. Seelok-eloknya apabila menghadapi masalah yang terlalu berat dirasakan atau dipikul, carilah pakar perunding/counselor ataupun therapist. Ini bagi mengelakan sebarang nasihat yang diberi bercanggah ataupun bertentangan dengan rasa yang ada dalam diri kita atau seseorang yang dihimpit masalah.

Bertemu dengan orang yang paling asing dengan kita akan membuka ruang luas dan selesa untuk bercerita dan meluahkan segala yang terpendam. Akan tetapi fenomena yang masih kuat dalam masyarakat kita di Malaysia ini adalah tanggapan apabila berjumpa dengan pakar sakit jiwa/therapist seseorang sudah dilabelkan sebagai pengidap sakit jiwa ataupun gila. Persepsi begini mesti dibuang jauh untuk kita membantu orang-orang yang memerlukan bantuan sebelum terlambat atau masalah menjadi lebih serious dan penghidap bertindak ganas. Kekuatan zahir juga bukan penentu “kekuatan” sebenar. Dalam semua proses pemulihan jiwa tidak kira agama dan bangsa, kekuatan dalaman paling di utamakan. Lebih-lebih lagi kepada kita yang beragama Islam terapi zikir dan selawat adalah ubat segala penyakit hati. Mendekatkan diri dengan Allah sudah tentu kita akan mendapat nikmat yang tidak terhingga…Insha’Allah.

Setiap dari kita boleh saja menerima nasihat dan teguran dari sesiapa sahaja lebih-lebih lagi dari kawan dan juga rakan seperjuangan. Namun begitu berhati-hatilah ketika menerima nasihat tersebut. Jangan sesekali menerima nasihat bulat-bulat dan membuat keputusan yang terburu-buru. Orang keliling, teman pejabat dan juga kawan-kawan boleh menjadi tempat kita mengadu nasib akan tetapi mereka semua tidak melalui apa yang kita rasa, lalu keputusan mestilah berdasarkan keadaan diri sendiri dengan berlandaskan nasihat yang diberi. Selalu yang terjadi setiap keputusan yang diambil dan dijatuhkan “hukuman” adalah baik dan cukup untuk masa itu sahaja demi menjaga nama baik keluarga dan diri sendiri. Setelah itu dengan keputusan yang diambil, kita mengorak langkah dan membentuk kehidupan baru bagi menjamin kejadian dulu tidak berulang. Pengalaman yang kita timba dari kejadian dahulu menjadi benteng untuk kita mencapai kejayaan seterusnya. Tidak dinafikan juga kesilapan membuat keputusan akan dan bakal merosakan diri kita sendiri di kemudian hari.

Ini adalah kerana hukum alam mengatakan apa yang kita sulam kita terima kembali, apa yang kita lontar ada kesan gravitinya yang satu hari akan berbalik kepada kita. Seorang ulamak pernah berkata kepada saya dan berpesan juga…”belailah musuh kamu dengan kasih sayang, tidak sekali kita kerugian malah kasih yang kita hulurkan akan terbentuk sebuah sungai yang mengalir di mana sejuk airnya pasti membasahkan hati yang kering”

Fikir-fikirkanlah bahawa mencari teman ketawa mudah sekali teman menangis belum tentu pasti. Dunia yang semakin moden dan canggih telah juga mengubah cara hidup kita. Makin hari makin kita dihimpit oleh rasa ingin berlumba sehingga menjarakan diri kita dengan asas-asas kehidupan.Sepatutnya kita memodenkan fikiran untuk sama-sama berjaya dan berlumba memcari kebahagian dan kekayaan yang dijanjikan oleh Allah. Apa yang terjadi sekarang adalah sebaliknya, ketika mengejar bahagia dan wang ringgit ramai dari kita menghitamkan hati dan melupakan Allah tatkala kita menerima kurnia dan anugerah daripadaNYA.

Beringatlah kita bersama bahawa PENGARUH/HASUTAN adalah dua cabang yang berbeza. Pengaruh dan dipengaruhi tetap ada baik dan buruknya, oleh itu isilah hati dengan ilmu semoga akal mampu melepasi fikiran dan emosi. Seandainya kita mampu berbuat begitu suatu hari nanti dengan izin dariNYA kita adalah contoh yang baik untuk diikuti oleh orang lain dan juga generasi akan datang.

A thought by : Sanaa 20/11/12

*****

Pengaruh Negatif Rakan Sebaya
Azizi Yahaya & Muhamad Jumat Aliju
Fakulti Pendidikan,
Universiti Teknologi Malaysia.
Abstrak : Artikel ini membincangkan tentang pengaruh negatif rakan sebaya terhadap tingkah
laku negatif pelajar tersebut. Dalam artikel ini, disertakan tekanan yang diberikan oleh rakan
sebaya dalam mempengaruhi tingkah laku negatif.

Pengenalan

Rakan sebaya dan keluarga merupakan dua dunia sosial tempat seseorang itu membeza.
Apabila berada di rumah seseorang itu akan bergaul dengan keluarganya yang terdiri daripada
ibu bapa dan adik beradiknya. Manakala apabila seseorang itu berada di luar rumah ia akan
bergaul dengan rakan sebaya. Rakan sebaya ini terdiri daripada pelajar-pelajar atau remaja yang
mempunyai umur yang hampir-hampir sama di antara satu sama lain.

Menurut Klausmerier et. al (1975) di dalam hal-hal seperti tanggungjawab moral,
keberanian, kejuran, kemesraan dan lain-lain “para remaja dipengaruhi oleh pendapat dan
pandangan rakan sebaya yang lebih tinggi daripada pengaruh ibu bapa. Faktor ini banyak
menimbulkan pengeseran di antara para remaja dan ibu bapa. Para remaja merasakan ibu bapa
sebagai pengongkong kebebasan diri. Ibu bapa pula berasa keliru dengan tingkahlaku dan tindak
tanduk remaja dan sebarang usaha untuk menegakkan identiti diri dianggap sebagai menentang.
Kekeliruan ini memburukan pengeseran dan akhirnya menimbulkan masalah. Apabila remaja
menemui masalah seperti ini, ia memerlukan seorang sebagai tempat mengadu hal, mendapat
panduan dan pertolongan. Kadang kala mereka merasa lebih selesa berbincang atau bercerita
masalah mereka dengan rakan sebaya mereka.

Mustafa Fahmi (1971) menyatakan remaja cenderung menuruti tingkah laku kumpulan
yang mana ia berada di dalamnya. Remaja diperingkat awalan ini akan bersungguh mencuba
bertingkah laku seperti tingkahlaku kumpulannya. Remaja ini juga akan melakukan atau
membuat apa yang dilakukan atau dibuat oleh kumpulannya. Muhd. Mansur Abdullah dan rakanrakan (1988) menyatakan dengan mencontohi rakan sebayanya, belia kita akan dapat belajar satu
tingkah laku baru yang cuba diserap dan disesuaikan pula ke dalam personalitinya. Oleh itu
pemilihan rakan sebaya adalah sangat penting. Dalam hal ini, siapa yang patut menentukan jenis
rakan sebaya yang menjadi pilihan. Dalam Islam, ibu bapa sendiri mengenalpasti rakan-rakan
yang berakhlak mulia (Osman Ayub, 1990). Melalui rakan-rakanya yang positif ini akan
wujudlah model-model positif yang boleh dikembangkan di semua peringkat. Di Malaysia, program Pembimbing Rakan Sebaya (PRS) telah dijalankan supaya rakan sebaya dimanfaatkan
untuk membaiki disiplin di kalangan pelajar.

Dalam aspek pengaruh rakan sebaya dapatan kajian lepas menunjukkan pelajar
menghisap rokok secara berkumpulan atau bersama rakan. Pelajar juga menganggap peraturan
atau undang-undang sekolah sebagai sesuatu yang remeh dan tidak perlu dipatuhi. Mereka akan
membentuk kumpulan tersendiri dan mengadakan peraturan tertentu dan ahli kumpulan
hendaklah mematuhinya. Hal ini mula menimbulkan masalah disiplin seperti peras ugut dan
pergaduhan. Biasanya, apabila ahli kumpulan dipukul, mereka akan membalas secara
berkumpulan (Dewan Masyarakat, April 1995).

Dapatan kajian yang disebutkan di atas sejajar dengan dapatan kajian peringkat nasional
yang dijalankan oleh Bahagian Sekolah Kementerian Pendidikan Malaysia pada tahun 1993 yang
menunjukkan punca salahlaku di kalangan pelajar adalah disebabkan oleh faktor diri, keluarga,
persekitaran rakan sebaya dan juga sekolah. Sebagai contoh, kajian tersebut mendapati pada
tahun 1993 kira-kira 81.03 peratus melakukan kerana faktor kekeluargaan 4.10 peratus kerana
pengaruh rakan sebaya dan I.24 peratus kerana faktor persekolahan (Dewan Masyarakat, April
1995).

Tekanan Daripada Rakan Sebaya

Kajian yang sedia ada, menujukan bahawa penglibatan rakan sebaya devian merupakan
faktor kepada tingkah laku delikuen. Oleh itu adalah sangat penting bagi kita mengkaji faktor
utama remaja ini terlibat dengan remaja yang bertingkah laku negatif ini.

Kajian baru menunjukan bahawa penolakan daripada rakan sebaya merupakan faktor
remaja terlibat dengan rakan yang bertingkah laku devian. Data yang diperolehi daripada
“Oregon Youth Study” (Dishion, et.al, 1991) menunjukan bahawa penolakan daripada rakan
sebaya sebab utama remaja terlibat dengan rakan sebaya yang bertingkah laku negatif. Dalam
kajian ini menujukan bahawa kanak-kanak yang berumur 10 tahun yang mengalami keadaan
penolakan daripada rakan sebaya mempunyai kecenderungan yang tinggi untuk terlibat dengan
rakan sebaya yang devian pada umur 12 tahun.

Tingkah laku agresif mempunyai hubungan yang signifikan dengan faktor penolakan
rakan sebaya di dalam masalah tingkah laku negatif remaja. Penolakan oleh rakan sebaya (Coie,
et.al, 1992).

Peranan penolakan rakan sebaya dalam perkembangan remaja juga disokong oleh kajian
yang dijalankan oleh Krueger et al. (1994). Menurut beliau remaja yang terlibat didalam berbagai jenis kesalahan jenayah mempunyai tahap penglibatan sosial yang rendah dan tahap
keterasingan yang tinggi.

Menurut Baumeister and Leary (1995) menyatakan bahawa setiap manusia didorong oleh
dasar kemahuan untuk memiliki. Kenyataan ini disokong oleh Brown dan Lohr (1987) yang
mendapati remaja yang terlibat dengan kumpulan masyarakat (biarpun kumpulan masyarakat
yang berstatus social rendah) mempunyai Self-esteem berbanding remaja yang tidak terlibat
dengan mana-mana kumpulan sosial.
Twenge, Baumeister, Tice, & Stucke (2001) mendapati bahawa individu yang percaya
mereka tidak diterima oleh rakan sebaya lebih aggresif berbanding dengan remaja yang diterima
oleh rakan sebaya. Bagi menerangkan kenyataan ini, penolakan daripada rakan sebaya
menyebabkan self-regulation seseorang remaja berkurangan (Twenge et al, 2001). Dalam kata
lain, penolakan rakan sebaya ini, menyebabkan seseorang kehilangan motivasi untuk bertindak
sebagai pro-sosial.

Terdapat beberapa cara penolakan rakan sebaya mempengaruhi perkembangan remaja
untuk terlibat dengan rakan sebaya yang devian dan deliquent. Salah satu cara ialah, remaja yang
tidak diterima oleh rakan sebaya akan mengalami masalah kekurangan kemahiran sosial dan
agresif selain tingkah laku anti-sosial yang menyebabkan remaja terlibat dengan remaja yang
devian. Menurut hipotesis Deshion et al. (1991), seseorang individu akan mencari kumpulan
rakan sebaya dengan menggunakan usaha yang minimum. Menurut pandangan ini, kanak-kanak
dan remaja yang tidak diterima oleh rakan sebaya, akan mencari kumpulan rakan sebaya lain
yang dapat menerima mereka tanpa mengkehendaki mereka membuat perubahan tingkah laku.
Idea ini disokong oleh Cairns, Cairns, Neckerman, Gest & Gariepy (1988), yang
menggunakan ukuran skala & temubual untuk menentukan ahli kumpulan sosial dan kesukaan
seluruh pelajar darjah empat dan tujuh yang mempunyai tingkah laku agresif dan tingkah laku
tidak agresif.

Mereka mendapati bahawa, subjek agresif mereka kurang popular berbanding dengan
subjek yang tidak agresif. Subjek yang aggresif akan menjadikan subjek-subjek agresif lain
sebagai kumpulan rakan mereka. Subjek yang agresif ini, bertindak sebagai “Sorting Feature”
dalam proses memilih rakan sebaya (Dishion & Owen, 2002). Keadaan ini menunjukan subjek
agresif yang tidak diterima oleh kumpulan rakan sebaya mereka, akan bergabung dengan subjek
agresif lain.

*****

Influence

By Robert B. Cialdini, Ph.D.
See Dr. Robert Cialdina’s Web site “Influence at Work”

Introduction

Robert Cialdini is a Professor of Psychology at Arizona State University and has spent many years devoted to the scientific investigation and research of persuasion techniques. His book “Influence” has become a classic. Within his book Cialdini lists six basic social and psychological principles that form the foundation for successful strategies used to achieve influence.

Those six principles are:

Rule of Reciprocity

According to sociologists and anthropologists, one of the most widespread and basic norms of human culture is embodied in the rule of reciprocity. This rule requires that one person try to repay what another person has provided. By obligating the recipient to an act of repayment in the future–the rule for reciprocation allows one individual to give something to another with the confidence that it is not being lost.

This sense of future obligation according to the rule makes possible the development of various kinds of continuing relationships, transactions, and exchanges that are beneficial to society. Consequently, virtually all members of society are trained from childhood to abide by this rule or suffer serious social disapproval.

The decision to comply with someone’s request is frequently based upon the Rule of Reciprocity. Again, a possible and profitable tactic to gain probable compliance would be to give something to someone before asking for a favor in return.

The opportunity to exploit this tactic is due to three characteristics of the Rule of Reciprocity:

The rule is extremely powerful, often overwhelming the influence of other factors that normally determine compliance with a request.

The rule applies even to uninvited first favors, which reduces our ability to decide whom we wish to owe and putting the choice in the hands of others
The rule can spur unequal exchanges. That is–to be rid of the uncomfortable feeling of indebtedness, an individual will often agree to a request for a substantially larger favor, than the one he or she first received.

Another way in which the Rule of Reciprocity can increase compliance involves a simple variation on the basic theme: instead of providing a favor first that stimulates a returned favor, an individual can make instead an initial concession–that stimulates a return concession.

One compliance procedure, called the “rejection-then-retreat technique”, or door-in-the-face technique, relies heavily on the pressure to reciprocate concessions. By starting with an extreme request that is sure to be rejected, the requester can then profitably retreat to a smaller request–the one that was desired all along. This request is likely to now be accepted because it appears to be a concession. Research indicates, that aside from increasing the likelihood that a person will say yes to a request–the rejection-then-retreat technique also increases the likelihood that the person will carry out the request a will agree to future requests.

The best defense against manipulation by the use of the Rule of Reciprocity to gain compliance is not the total rejection of initial offers by others. But rather, accepting initial favors or concessions in good faith, while also remaining prepared to see through them as tricks–should they later be proven so. Once they are seen in this way, there is no longer a need to feel the necessity to respond with a favor or concession.

Commitment and Consistency

People have a desire to look consistent through their words, beliefs, attitudes and deeds and this tendency is supported or fed from three sources:

Good personal consistency is highly valued by society.

Consistent conduct provides a beneficial approach to daily life.
A consistent orientation affords a valuable shortcut through the complexity of modern existence. That is– by being consistent with earlier decisions we can reduce the need to process all the relevant information in future similar situations. Instead, one merely needs to recall the earlier decision and respond consistently.

The key to using the principles of Commitment and Consistency to manipulate people is held within the initial commitment. That is–after making a commitment, taking a stand or position, people are more willing to agree to requests that are consistent with their prior commitment. Many compliance professionals will try to induce others to take an initial position that is consistent with a behavior they will later request.

Commitments are most effective when they are active, public, effortful, and viewed as internally motivated and not coerced. Once a stand is taken, there is a natural tendency to behave in ways that are stubbornly consistent with the stand. The drive to be and look consistent constitutes a highly potent tool of social influence, often causing people to act in ways that are clearly contrary to their own best interests.

Commitment decisions, even erroneous ones, have a tendency to be self-perpetuating–they often “grow their own legs.” That is–those involved may add new reasons and justifications to support the wisdom of commitments they have already made. As a consequence, some commitments remain in effect long after the conditions that spurred them have changed. This phenomenon explains the effectiveness of certain deceptive compliance practices.

To recognize and resist the undue influence of consistency pressures upon our compliance decisions–we can listen for signals coming from two places within us–our stomach or “gut reaction” and our heart.

A bad feeling in the pit of the stomach may appear when we realize that we are being pushed by commitment and consistency pressures to agree to requests we know we don’t want to perform.
Our heart may bother us when it is not clear that an initial commitment was right.
At such points it is meaningful to ask a crucial question, “Knowing what I know now, if I could go back, would I have made the same commitment?”

Social Proof

One means used to determine what is correct is to find out what others believe is correct. People often view a behavior as more correct in a given situation–to the degree that we see others performing it.

This principle of Social Proof can be used to stimulate a person’s compliance with a request by informing him or her that many other individuals, perhaps some that are role models, are or have observed this behavior. This tool of influence provides a shortcut for determining how to behave. But at the same time it can make those involved with using this social shortcut–vulnerable to the manipulations of others who seek to exploit such influence through such things as seminars, group introduction dinners, retreats etc. Group members may then provide the models for the behavior that each group plans to produce in its potential new members.

Social proof is most influential under two conditions:

Uncertainty–when people are unsure and the situation is ambiguous they are more likely to observe the behavior of others and to accept that behavior as correct
Similarity–people are more inclined to follow the lead of others who are similar.
Some recommendations on how to reduce susceptibility to contrived social proofs would include a greater sensitivity to clearly counterfeit evidence. That is–what others are doing and their behavior should not form a sole basis for decision-making.

Liking

People prefer to say yes to individuals they know and like. This simple rule helps to understand how Liking can create influence and how compliance professionals may emphasize certain factors and/or attributes to increase their overall attractiveness and subsequent effectiveness. Compliance practitioners may regularly use several factors.

Physical attractiveness–is one feature of a person that often may help to create some influence. Although it has long been suspected that physical beauty provides an advantage in social interaction, research indicates that this advantage may be greater than once supposed. Physical attractiveness seems to engender a “halo” effect that extends to favorable impressions of other traits such as talent, kindness, and intelligence. As a result, attractive people are more persuasive both in terms of getting what they request and in changing others’ attitudes.

Similarity–is a second factor that influences both Liking and compliance. That is–we like people who are like us and are more willing to say yes to their requests, often without much critical consideration.

Praise–is another factor that produces Liking, though this can sometimes backfire when they are crudely transparent. But generally compliments most often enhance liking and can be used as a means to gain compliance.

Increased familiarity–through repeated contact with a person or thing is yet another factor that normally facilitates Liking. But this holds true principally when that contact takes place under positive rather than negative circumstances. One positive circumstance that may works well is mutual and successful cooperation.

A final factor linked to Liking is often association. By associating with products or positive things–those who seek influence frequently share in a halo effect by association. Other individuals as well appear to recognize the positive effect of simply associating themselves with favorable events and distancing themselves from unfavorable ones.

A potentially effective response that reduces vulnerability to the undue influence of Liking upon decision-making requires a recognition of how Liking and its attending factors may impact our impression of someone making requests and soliciting important decisions. That is– recognizing how someone making requests may do inordinately well under certain circumstances–should cause us to step back from some social interaction and objectively separate the requester from his or her offer or request. We should make decisions, commitments and offer compliance based upon the actual merits of the offer or request.

Authority

In the seminal studies and research conducted by Milgram regarding obedience there is evidence of the strong pressure within our society for compliance when requested by an authority figure. The strength of this tendency to obey legitimate authorities is derived from the systematic socialization practices designed to instill in society the perception that such obedience constitutes correct conduct. Additionally, it is also frequently adaptive to obey the dictates of genuine authorities because such individuals usually possess high levels of knowledge, wisdom, and power. For these reasons, deference to authorities can occur in a mindless fashion as a kind of decision-making shortcut. When reacting to authority in an automatic fashion there is a tendency to often do so in response to the mere symbols of authority rather than to its substance.

Three types of symbols have been demonstrated through research as effective in this regard:

In separate studies investigating the influence of these symbols–individuals that possessed one or another of these symbols, even without other legitimizing credentials, were accorded more deference or obedience by those they encountered. Moreover, in each instance, those individuals who deferred and/or obeyed these individuals underestimated the effect of authority pressures upon their behavior.

Asking two questions can attain a meaningful defense against the detrimental effects of undue influence gained through authority.

Is this authority truly an expert?

How truthful can we expect this expert to be?

The first question directs our attention away from symbols and toward actual evidence for authority status. The second advises us to consider not just the expert’s knowledge in the situation, but also his or her trustworthiness. With regard to this second consideration, we should be alert to the trust-enhancing tactic in which a communicator may first provide some mildly negative information about himself or herself. This can be seen as a strategy to create the perception of honesty–making subsequent information seem more credible to those listening.

Scarcity

According to the Principle of Scarcity–people assign more value to opportunities when they are less available. The use of this principle for profit can be seen in such high-pressure sales techniques as only a “limited number” now available and a “deadline” set for an offer. Such tactics attempt to persuade people that number and/or time restrict access to what is offered. The scarcity principle holds true for two reasons:

Things difficult to attain are typically more valuable. And the availability of an item or experience can serve as a shortcut clue or cue to its quality.

When something becomes less accessible, the freedom to have it may be lost.

According to psychological reactance theory, people respond to the loss of freedom by wanting to have it more. This includes the freedom to have certain goods and services. As a motivator, psychological reactance is present throughout the great majority of a person’s life span. However, it is especially evident at a pair of ages: “the terrible twos” and the teenage years. Both of these periods are characterized by an emerging sense of individuality, which brings to prominence such issues as control, individual rights, and freedoms. People at these ages are especially sensitive to restrictions.

In addition to its effect on the valuation of commodities, the Principle of Scarcity also applies to the way that information is evaluated. Research indicates that the act of limiting access to a message may cause individuals to want it more and to become increasingly favorable to it. The latter of these findings, that limited information is more persuasive–seems the most interesting. In the case of censorship, this effect occurs even when the message has not been received. When a message has been received, it is more effective if it is perceived to consist of some type of exclusive information.

The scarcity principle is more likely to hold true under two optimizing conditions

Scarce items are heightened in value when they are newly scarce. That is things have higher value when they have become recently restricted–more than those than those things that were restricted all along have.
People are most attracted to scarce resources when they compete with others for them.
It is difficult to prepare ourselves cognitively against scarcity pressures because they have an emotional quality that makes thinking difficult. In defense, we might attempt to be alert regarding the sudden rush of emotions in situations involving scarcity. Perhaps this awareness may allow us to remain calm and take steps to assess the merits of an opportunity in terms of why we really want and objectively need.

This is based upon the summary notes within the book–Influence. By Robert B. Cialdini, Ph.D. (Quill, NY, 1984 (Revised 1993)

Compiled by : Sanaa

The Mistress Mentality

Compiling, reading articles and browsing the net is part and parcel of my daily chores. I must read…for me to write and finding topic or subject is another crucial daily chores. Sometimes idea came across while chatting with friends, looking and observing activities people around me or while having a cup of coffee at side-walk café in Bukit Bintang.

It was a rare occasion for me hanging around Bukit Bintang after 10 pm but I did it with my niece and nephews sometime last week. It is fun though looking at people going fast and about their lives. At one corner a couple having a romantic dinner, smooching at each other and noticing they been observed. At the other end a multi-racial group of people talking and having a good laugh with beer in hand, whistling to the sexy or nearly half-naked women along the street and few decent couple just having their snacks and coffee. Here I am with my young adult niece and nephews together with my brother, sister and sister in-law making observation about life in general.

I raised many questions in my mind about many things. Looking at people walking and passing by rushing home perhaps, make me think about the youngsters or young executives around the area that night. They looked tired after a long day at work and perhaps they just want to chill before going home. I am sure they have a decent job and with a decent income.

My eyes can’t stop roaming around as far as my eyes can take, and by looking at their behaviour anyone can’t stop judging. Laughing out loud, their dress, their company and their action will definitely attract the attention of others. Without notice I become a street writer…taking notes using my mental picture and my eyes the photographic view. Can I be blamed for it?

When we are out there and doing things in the public and with many scrutinizing eyes, we can’t avoid people’s perception. I am sure I am being observed too since I’m there with three young adults together with three adults. Not a normal place for a family to hang out for a cup of coffee and slice of cake or a piece of toast bread, isn’t it? But it is a life lesson to the three young adults and it is a way of learning social etiquette and behaviour and human relationship too. I’m not saying it is THE BEST way or it is the way but sometimes exposure will be good. Make them think, is this the kind of life they wanted after their graduation and in working life? What kind of responsibility these youngsters have toward themselves, parents and society?

For few in their office attire, we will know at precise moment they had a hard day at work, a cup and tête-à-tête with friends before going home will release the tension of the day maybe. The rest and especially the young women between the age of 20 to 25 hanging around with the guys, laughing out loud, and cigarettes in hand, wine or beer at the other will definitely formed an image or wondering questions for a person like me. Aren’t they working the next day? What they do for a living? Are they rich spoil brat?

Being at this age I can’t help asking myself are these kinds of bunch will be my son or daughter in-law one day. Will I one day prepare 1000 of questionnaire before allowing my son or daughter to get married? I must admit I belong to the old school of thought; marriage is a solemn promised between a man and a woman. Whenever two people agree to tie a knot there will be vow taken and a vow given which brings us to our basic of life; our religion. How rich we are, how modern life could be, how educated we are or how fortunate and unfortunate we could be, there’s always brings us back to our roots. No amount of money can buy happiness without honesty, sincerity, trust, loyal and being grateful.

As we about to leave just before midnight, there are few familiar faces around town taking their seat. No one can miss them because they are our local known celebrities. Nothing is wrong with them being there, I’m there with my family members but the moment their beverages arrived my nephew raised his eye-brow. As though a record is playing, my late father advises came into mind…you can’t change the society but you can change yourself for a better future with your mind-set, attitude, and behaviour and the top of the list, remember your roots. In whatever we do religion comes first.

It is easier said than done, trust me but life is a process. Going through the process, I’ve learned to accept, adept, listen and observed with open heart and mind which life is to short for everything. As a girl, young adults, grown-up and matured I have seen and experienced the turmoil of life which makes me grateful for what I have. The education given to me and the life experienced make me wanted to cry for the youngsters of today.

What will they become?

A thought by: Sanaa 19/11/12

*****

The Mistress Mentality and Why You’ll Never Be More Than That

I’ve always lived by the age old saying “People will only do to you what you allow them to do” and the same rings true in relationships. There are a lot of women who have the mistress mentality and in turn will always be the mistress. Even if they are the main woman in their man’s life, they’re still the mistress. Why? Because they have the mistress mind-set and haven’t learned to grow out of it.

In a conversation about open relationships someone said that they are not against open relationships. They went on to say that they would only date one person, but wouldn’t be upset with their “significant other” dating other people. To me, there is something wrong with this ideology. What’s the point of being in an open relationship and your mate is the only person who’s open? This makes you the mistress in your own relationship. Essentially you’re just allowing him to cheat, yet you stick around with him because for some reason you feel that you have to. Some women may say “it’s in a man’s nature to be with multiple women” and this too is the mistress mentality and why you’ll never amount to more than just that, a mistress.

Not all men cheat, but do you think you’ll get a faithful man if you let him know from the beginning that you expect him to step out on you. Not only are you letting him know that you expect it, but you’re letting him know it’s okay. Your mistress mentality has convinced you that no man is capable of monogamy and that’s not true. Men will only do what you allow them to do.

The problem with the mistress mentality is that far too many mistresses have a weak mind. They are okay with bad behavior from men because that’s all they have had to endure. The problem with this is that a lot of these women can’t get passed that point and will forever remain the side-chick. Do you want to die the ultimately lonely mistress? You may want to fix your mind set.

Read more: http://www.balleralert.com/profiles/blogs/the-mistress-mentality-amp-why-you-ll-never-be-more-than-that#ixzz2CejayBTQ

*****

A mistress can be loosely defined as a woman currently connected to a man for the purposes of sexual favors. But the question remains – what else, if anything does either party get out of such a relationship? In the wake of the Tiger Woods fiasco, the term “mistress” has been examined, explored, re-defined, and overstated.

Initially, a mistress might be a woman that participates in sexual activity with a married man for no other reason than the purpose of sexual pleasure. However, in this day and age, more and more women require “payment for services rendered”. Of course, no one wants to be compared to a prostitute. But what’s the difference? A mistress might have a bill or two paid; having this married man fill up the refrigerator with groceries; purchase clothes, vacations, etc. Each of these “purchases” takes money out of the man’s household. All the while, the needs of the mistress appear to be met. So who’s at fault? The man or the mistress?

There are two different schools of thought regarding this form of “friends-with-benefits”. Married persons have entered into a contract – and unless there is an expressed understanding of an open relationship, then those benefits amount to no more than cheating! The cheater often states that they receive conversation, attention, and sex from the “mistress”. The mistress is either enjoying the company for nothing more than it is; or has her own hidden agenda (ie, bills paid, attempting to take this man from his current spouse, etc.).

So the question remains. Should the fault lie with the cheater? They are “forsaking” vows and are the guilty party within the committed relationship. Or should the fault lie with the mistress? Had they not made themselves available, cheating of the sexual nature would not occur.

http://www.examiner.com/article/a-mistress-mentality

*****

Inside the mind of a mistress
By : Amanda Deer

This weekend I had the opportunity to chat with a woman I had never met. I was visiting her place of work (for other reasons) and she sat across from me during her morning break. We struck up a conversation about health care, arthritis, the government, and finally love. It’s when my new acquaintance, a 60-something divorcee, mentioned her boyfriend.

I asked if there were wedding bells in the air. She responded, “Oh, he’s not ‘available’.” I tried to conceal the horror that I’m sure projected from my eyes when she explained, “He’s married.”

My mind screamed, You are the very thing which I most fear and despise! You are the woman my entire life’s work attempts to counteract! However, now was not the time to rebuke this woman by telling her she was ruining society. I knew we would not build a friendship that way and that any angry diatribe wouldn’t change her ways. So I calmed myself and just talked to her. She told me she’s been in the affair for 20 years and I simply asked, “Why?”

I found out she wasn’t a Christian, that she was devastatingly lonely and felt unloved by “everyone in the world,” even her own family. She was almost in tears as she she protested, “People just don’t understand!” She met the only man in the world who ever valued her. He conveyed love to her and showed her kindness, unlike so many she had met. So when the choice came, her desire for all those things overpowered her notions of right and wrong.

My heart broke, and my thoughts turned inward. This is what a life without Christ is often like. This woman, not knowing the things of God, tried to fill the void in her life with the love of a man, any man.

Though she is mired in sexual sin, God loves this woman. And my heart broke for her in a way that has changed the way I see the lost.

http://www.boundlessline.org/2010/07/inside-the-mind-of-a-mistress.html

*****

The Role of a Mistress: Is it as Glamorous as it Seems?

Mistress: A mysterious sexy woman that a married man sees in secret to have a romantic and sexual relationship with. This is the definition of a mistress. There is good sex, hotel room adventures, late nights, seductive phone calls, exciting secret dates, gifts and the thrill of doing something bad. But is being a mistress as glamorous as it seems?

Yes, BUT only at first. Being a mistress has its exciting moments and these are the moments that convince women to become a mistress in the first place. In the beginning, the mistress holds all the power. She is the one who has the married man under a love spell and she gets all his attention and time that he should be spending with his wife. She is the one he fantasizes about when he is with his wife and the one he misses. He urges for her company and longs to hear her voice. The mistress is the woman a married man makes first priority and will shower her with gifts to keep her happy. This all sounds fun and good, but it is very short lived and eventually, the light goes on and shines on the truth of what the life of a mistress really is and eventually becomes after the sexy stage is over.

Relationships that start off in deception usually end in deception. When a woman gets involved with a married man, she turns a blind eye to the fact that he is a cheater and an unreliable partner. She sees only what she wants to see and believes only what she wants to believe. She acknowledges the fact that he is cheating on his wife with her, but refuses to see that she too is a victim of his selfish behavior- choosing to make herself his victim. Men rarely leave their wives and family for their mistresses, which means that they string their mistresses along, having them believe that one day they will both be together with no more hiding around. Mistresses hang on to this fantasy, believing that their married lover truly loves them and will eventually be with them and this begins a long journey of emotional pain, emptiness and endless waiting.

There are of course cases when a married man will actually leave his wife to be with his mistress, this has been known to happen, but it is rare. Plus, if it does happen, the relationship usually does not last, even if man and mistress go as far as getting married. This is because when the relationship started, it was not planted on solid, honest ground. Instead, the seed of the relationship was planted on unstable ground, fertilized with secrets and lies- regardless of whom the secrets were being kept from and whom the lies were being told to. Secrets and lies disallow people from being their true selves- a part of you has to be put on hold due to the man-mistress circumstance. If the man and his mistress do end up together and get married, they eventually have troubles with trust, because of the way they got together. They both know that they are capable of cheating and going along with cheating and while they may actually love each other- all the facts defining their relationship has the greater influence, whether they want to acknowledge it or not.

Most man-mistress relationships do not get that far though and majority of the times, he will not leave his marriage for his mistress. He may believe at one point that he will, but his feeling of responsibility and need to be loyal to his wife and family take over and he therefore does not leave. Most men have affairs because of communication problems in their marriage or an empty gap that has grown in their marriage and they are unsure on how to approach. They long for good happy company again without complications, and an affair is a good escape for them- but it does not last forever.

http://www.love-sessions.com/cheating.htm

Compiled by : Sanaa 18/11/12

Personalities and Public Perception

Weekends usually meant for us to spend time with friends, families and love ones. It is a normal routine for us I am sure. Few of us will grumble for not having enough time during weekend to do everything they have planned and there will be intervened by others or situation during the two days. This weekend although less hectic for me but the activities was fun with my nephew and nieces. I love to play the caring and doting aunty once in a while. Catching up my breath by mid day Sunday, reading few days’ newspaper in a row not forgetting the gossip column of local artist I smile to myself. What are we getting into now? Bringing Hollywood into the scene or being an artist we shouldn’t be afraid of critics about our personalities and public perception.

Observing the trend and scenarios of the local scene, the word “minta maaf” has been used unethically by our artist lately. Another favourite terms been used is “nilai kerjaya saya bukan peribadi saya” or when been interviewed by media their common saying goes “jangan terlalu pertikaikan soal peribadi, tumpukan kepada kerjaya”. Today of all days I’ve been reading few sensation gossip columns and the hit of the week was dress worn by Nabila Huda at the Anugerah Blockbuster and picture of Erin Malik in her instagram. The two merely example of all I’ve heard about our local artist. Mentioning names is bad but I have no alternative since I need to give example. About two weeks ago the end of relationship of Yuna and Qi together with Remy and Tiz sizzles for days. All the slandering words, comments, debating between the haters and fanatic fans were heard and read. After all the drama, it does quieten down now and I do sincerely hope all of them have move on and wish them success in their life and career.

I catch up few minutes of my quiet hours; suddenly my eyes catch a book on the rack about personality. What a co-incidence, since a friend call yesterday and we were actually gossiping a bit about what’s going on in the local entertainment industry. We were exchanging notes about our local talent which a small number of them full of negative gossip even though their acting skills or singing is phenomenal. Another small group belongs to not so amazingly with talent but their faces often on the screen due to their clean image or personality. As people say, whatever they do behind the wall or curtain is their life but when they are in public they portray a good image and being love by all with their smiles and good vibes. Negative gossip about them hardly heard. I am sure nobody knows how they lead their lives but this group of celebrities are careful with their personal lives in order to remain long in the industry. I think we must accept the truth behind this “gossip sells” especially the negatives and we will attracted to read it every time. We are not being honest with ourselves if we denied this fact. As a public figure particularly celebrities and more over in Malaysia which the numbers are small, each steps, each movement, each behaviour, etc being watched and scrutinize by many. The hungry gossip column reporter just waiting for their opportune time to disclosed anything they know and knew. Whenever gossip hits the column the celebrities will come forward to give their statements as defending themselves which after long many of their fans getting bored with all the excuses.

I am sure as a general public we need to have a good personality too for us to succeed. It has been life motto for long and is very important characteristic. Many motivation speakers will emphasize on this one word “PERSONALITY’. Personality can be build by learning few skills in our daily life. This is not because of having money or position. This is actually lacking in our society and when someone or group trying to deal with this most of us will be in denial because we love to say “this is my life so I will lead my way and you lead yours”.

Among quotes from an actress I found this two from Mae West what is personality is all about. Personality is the glitter that sends your little gleam across the footlights and the orchestra pit into that big black space where the audience is.
Mae West

Personality is the most important thing to an actress’s success.
Mae West

Mae Jane West born (August 17, 1893 – November 22, 1980),known as Mae West, was an American actress, playwright, screenwriter and sex symbol whose entertainment career spanned for seven decades. If she laid emphasis on personality I am sure she feels responsible towards it as an actress and she survived in the industry. Don’t you think she’s right on personality?
As far as personality goes it is not plastic, unless we want to look at it as plastic faces and act. Through my reading about personalities and observation, it is a skill for us to learn and adapt. It is how we bring our image to another person. In another word it is first impression. People more often than not; judge another human being on their first meeting. According to few the first 10 minutes of introduction is a good way to impress the other party about ourselves. We usually found this or need this during job interviews. The body language while talking to people or the interviewer, the eye contact, face expression, confident level, dressing, sitting and standing position and many more being observed and being the ticket for us to secure the job and position. Do you agree?

According to Mae West “personality is the most important thing to an actress success” and her career spanned in the industry for seven decades is magnificent. During my working years, attending few motivational talks the speaker always emphasis on following the footsteps of successful people and never afraid of failure. This is all about cause and effect because being successful is not easy. We must strive to succeed. Succeed comes with a package of working hard, listen to advice, be humble, learn and keep on learning, don’t be hard-headed and many more good qualities in us needed for success. Will it be any different from what Mae West saying to become an artist? As I see it, all of this is cycle of life. I must agree we are not able to have all but we are able to have the best. The decision is ours and the path is wide open for us to choose and leave a trail.

The negative values in human being are many too. All of us have negative elements which like a build-in mechanism in our body. Since it comes to us in a package during birth and many more input during our grown up years, we will without doubt needed time to overcome and replace the negatives with positives. While in this process we need to adjust ourselves with many things and willing to change progressively. Being a good listener to advices does not mean we must follow each word without thinking. This is a dangerous characteristic if we did not use our mind and thinking capability. Changes are not following blindly and this is part of personality in the making too.

Many of us or all of us have this word in ourselves JEALOUSY. The different of jealousy is what makes us different from others. How we transformed jealousy into success with great personality will bring us to the top. Personality also covered by our religion. Wherever we are or what our believe PERSONALITY is a must for us to adhere. All religion teaches us about cleanliness, punctual, respect ourselves, respect the adults and be a good human being in the society. It is also included our dressing to an event or function. As we are in Malaysia and almost ¾ of the population are Muslim we are not able to run away with rules and regulation in dressing. Few design of evening gown or cocktail dress might trigger the public sensitivity. Over bearing and over revealing will certainly cause the talk of the town for weeks. The designer and the person who wore the dresses might feel it appropriate for the occasion without thinking the fuzz and buzz of others. It is again wrong to ask the public not to judge because the person concerned does not even think about the consequences before wearing them. If the wearer is a public figure and known celebrities, she will not able to stop anyone from talking and commenting. This is because they did not respect themselves but expected to be respected.

In sense of dressing I must say not many understand the description between sexy, revealing, smart casual, classy and clown. Colours are component of our personality as well. Let’s take a look at black. What people in general associates black with the human nature. I am sure nothing is wrong with black as black is formal but if we keep on wearing black even on our festive day, the wearer must be so insecure human being as the Chinese feng shui says it is bad luck.

The interpretation of black in colour is “Black is authoritative and powerful; because black can evoke strong emotions, too much can be overwhelming. Black represents a lack of colour, the primordial void, emptiness. It is a classic colour for clothing, possibly because it makes the wearer appear thinner and more sophisticated”. Black as well have an effect on us physically. In general black will make someone inconspicuous, emptiness and mysterious by evoking a sense of potential and possibility. In general I assume all this as lack of confident and the wearer always hiding behind the colour (details of other colours please do not hesitate to browse the attached website).

If we focus on colours and personality it will definitely gives us a complete range why not many of us wanting to focus on it. Let me bring us back to the issue of celebrities in our local industry; at times I do feel they rather let people critics instead of give a time to observed themselves and make them appreciate their body and mind through sense of dressing and behaviour. Social etiquette is much lacking in our local entertainment industry. Through gossip I’ve learned our celebrities do not truly know to differentiate between excess and less; which less is more. Each time gossip hits the media it is always party, revealing dress, drunk, smoking, cats and dogs fight via social media which each group can be minimise and avoided. I am not saying they are not allowed to attend parties and if they think it is alright to consume the liquor, why not? But again, there is limit to everything. Even in Hollywood we will notice the actors and actress with problems will not be cast in many projects and their problems or issues is more highlighted and not their acting skills and career. It is the same all over and why can’t we take the good and left the bad?

Is it so difficult to cultivate good personalities in us? I always ask this question to my junior colleagues. Another perception of personalities is expensive clothes, designer’s item and must have tons of money. That is bimbo definition of personalities, my dear ladies.

Again and again our local artist making the same mistakes and I sincerely feel it is time for all involves attending etiquette school on how to talk, how to dress, how to stay away from negatives issues and many more. As an artist and celebrities, actors and actresses it is even essential to know your designers for clothing. Learn and acquire skills of knowing “less is more”.

I always admire Aisyawarya Rai, Kareen Kapoor, Pretty Zinta and many more Bollywood actress in their saree for award presentation. Without doubt the saree has gone through many changes but they still adorn themselves in this traditional costume. They really look sexy with the vibrant colours against their skin. Simple and elegant with moderate revealing and furthermore it is their traditional costume. Can we beat it?

Another favourite foreign actress of mine is Zhang Xi Yi who acted in Memoirs of a Geisha (her complete biography and profile: http://en.wikipedia.org/wiki/Zhang_Ziyi) She started studying dancing at the tender age of 8 and later she joined Beijing Dance Academy by her parents suggestion at the age of 11. I do believe Zhang build her personalities from her dance classes at early age. I am sure Zhang faced with ups and downs of the entertainment world but with determination plus strong personalities and good rapport she is much sought after actress in this era.

So, what takes us to build a personality? Is it the family name we carry? Is it wealth? Is it paper qualification with degree, masters and master degree? Is it just purely humble and truthful to our own self? Without a doubt the personal attribute to a good personality comes with good heart, true, honest and sincere and leading life without any prejudice. As this old saying goes…”the perfect beauty comes from the heart”.

A thought by : Sanaa 14/10/12

http://www.sensationalcolor.com/color-meaning-symbolism-and-psychology/

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers